Jumat, 29 Maret 2024

Sekilas OPV PPAs Untuk Indonesia

⚓ Senilai Rp 20 triliunOPV Paolo Thaon di Revel class (Fincantieri)

Indonesia diketahui telah menanda tangani kontrak pembelian 2 unit PPAs dari Italia senilai 1,18 miliar euro (Rp 20 triliun).

PPA Paolo Thaon di Revel class adalah kapal yang sangat fleksibel dengan standar teknologi yang luar biasa. Kapal ini mempunyai kapasitas untuk menjalankan berbagai fungsi, mulai dari patroli dengan kapasitas penyelamatan laut hingga operasi Perlindungan Sipil dan kapal tempur lini pertama.

Kapal-kapal yang dalam pesanan itu awalnya ditujukan untuk Angkatan Laut Italia yang saat ini telah selesai dibangun dan berada di Galangan kapal Riva Trigoso-Muggiano.

Italia sendiri memesan tujuh unit OPV rasa frigat ini dari Fincantieri, dan kapal keenam dari pesananan itu baru saja diluncurkan, yakni Ruggiero di Lauria pada 6 Oktober 2023. Sedangkan dua unit PPA yang akan dijual ke Indonesia adalah yang sudah diluncurkan tetapi belum beroperasi, atau mungkin termasuk kapal ketujuh yang belum diluncurkan.

ITS Marcantonio Colonna P433 (ist)
Menurut website indomiliter, kapal pesanan Indonesia nantinya adalah ITS Marcantonio Colonna P433 dan ITS Ruggiero di Lauria P435. ITS Marcantonio Colonna P433 sudah diluncurkan pada 26 November 2022 dan ITS Ruggiero di Lauria P435 diluncurkan pada 10 Oktober 2023. Keduanya belum diserahterimakan ke Angkatan Laut Italia, yang mana ITS Marcantonio Colonna P433 sedang menjalani fase sea trial sejak musim panas tahun 2023.

Bila dilihat dari spesifikasi, ITS Marcantonio Colonna P433 dan ITS Ruggiero di Lauria P435 berada di versi Light+. Dikutip dari Portal di Fesa – id.it (28/3/2024), disebut dari nilai kontraknya, maka ada kemungkinan untuk meningkatkan status kedua kapal perang dari versi Light+ ke versi full combat, namun ini masih sebatas dugaan dari media lokal di Italia.

Kapal PPA Paolo Thaon Di Revel class ditawarkan dalam tiga versi, yakni full combat, light+ dan light configuration. Konfigurasi Light hanya memiliki persenjataan berupa senapan dan meriam. Sementara Light+ dan Full juga dilengkapi dengan rudal hanud Aster dan torpedo. Namun, semua konfigurasi memiliki opsi untuk dipasangi peluncur rudal anti-kapal Teseo Otomat “EVO” MK2/E.

ITS Ruggiero di Lauria P435 (Giorgio Arra)
Saat upacara peluncuran TS Marcantonio Colonna pada 26 November 2022, Kepala Staf Angkatan Laut Italia Laksamana Enrico Credendino mengumumkan bahwa dua kapal berkonfigurasi ‘Light’ – ITS Paolo Thaon di Revel dan ITS Francesco Morosini – akan diubah menjadi konfigurasi ‘Full’. Dengan demikian PPA Paolo Thaon Di Revel class akan menampilkan total empat kapal versi Full dan tiga unit versi Light+’.

Meski belum dapat dipastikan, kabarnya pesanan untuk Indonesia belum termasuk bekal rudal anti kapal. Namun, bila diakiusisi secara terpisah, maka TNI AL harus membeli rudal anti kapal Teseo Otomat yang memang dirancang sebagai arsenal persenjataan di PPA Paolo Thaon Di Revel class.

Meski belum jelas apakah pesanan TNI AL nantinya saat tiba dibekali rudal hanud atau rudal anti kapal, namun hampir dipastikan untuk pertama kalinya kapal perang Indonesia menggunakan meriam Leonardo (Otobreda) 127/64 mm, yang otomatis mengalahkan kaliber meriam terbesar di arsenal kapal perang TNI AL, yaitu pada korvet Fatahillah class dengan Bofors 120 mm.


  💥
Garuda Militer  

TNI Ungkap Alasan Bantuan RI untuk Gaza Disalurkan Yordania via Udara

 ✈️ 🪂Bantuan untuk Gaza yang diterjunkan melalui udara. (REUTERS/Ronen Zvulun)

TNI menyatakan Indonesia belum mendapat izin untuk menyalurkan bantuan langsung ke Gaza lewat udara, sehingga akan disalurkan oleh Otoritas Yordania.

Kepala Pusat Penerangan TNI Mayjen Nugraha Gumilar menyebut bantuan peralatan payung udara orang dan payung udara barang sejumlah 900 buah, yang dikirim ke Yordania pada hari ini, Jumat (29/3), akan digunakan sebagai alat menerjunkan bantuan dari atas ketinggian.

Ia menyebut di Yordania, sudah ada bantuan-bantuan di antaranya bahan makanan yang telah dikumpulkan terlebih dahulu.

"Kita hanya mengantar ke sana (Yordania), karena ada perizinan-perizinan tertentu yang kita memang tidak dapat izin, nah itu hanya Yordania, kita titip ke Yordania, tolong di-drop dengan payung kita dan juga bahan makanan kita, juga bahan makanan mereka," kata Gumilar usai keberangkatan Pesawat Hercules C-130 J di Lanud Halim Perdana Kusuma, Jakarta, Jumat (29/3).

Pesawat Hercules yang membawa ratusan peralatan payung udara ini akan melaksanakan penerbangan selama 10 hari dengan rute berangkat dari Halim-Aceh-Myanmar-India-UEA-Yordania.

Sementara rute kembali yakni Yordania-UEA-India-Myanmar-Aceh-Halim.

Nugraha menjelaskan pihaknya sudah berkomunikasi dengan otoritas negara terkait agar Hercules diizinkan landing dan mengisi bahan bakar.

"Adanya Atase Pertahanan kita di setiap negara itu untuk mengkomunikasikan dengan pemerintah setempat untuk melanding, isi fuel, kemudian berangkat lagi," katanya.

Ia menjelaskan tidak ada personel TNI yang bakal terlibat dalam menerjunkan bantuan ke Gaza via udara. Nugraha mengatakan Indonesia hanya mengantar payung udara ke Yordania.

"Itu seluruhnya dari Angkatan Udara Yordania (drop bantuan dari udara) kita hanya sampai Yordania saja," katanya.

Beberapa negara belakangan ini memang mengirim bantuan ke Jalur Gaza lewat udara imbas agresi brutal Israel.

Mulai dari Yordania hingga Amerika Serikat memilih untuk mengirim bantuan makanan dan obat-obatan melalui jalur udara lantaran blokade jalur darat oleh Israel.

Awal Maret lalu, Presiden Jokowi sempat menyatakan Indonesia adalah salah satu negara yang diberi kesempatan mengirim bantuan ke Gaza, namun jalur darat sudah sulit dilewati, sehingga akan menggunakan jalur udara.

"Indonesia merupakan salah satu negara yang diberi kesempatan untuk bisa memberikan bantuan ke Gaza, ke rakyat Palestina dengan lewat udara karena lewat darat sudah sulit," kata Jokowi dalam video yang disiarkan melalui kanal YouTube Sekretariat Presiden, Jumat (8/3). (yoa/wiw)
 

  🪂
CNN  

TNI AU Ujicoba F16 eMLU ke 8

✈️ Berhasil dimodernisasi di Magetan✈️ Pesawat F-16 A/B nomor TS-1611 selesai menjalani eMLU (Blackphoenix DT)

Skadron Teknik 042 (Skatek 042) baru baru ini menguji pesawat F16 A/B yang selesai menjalani eMLU.

Pesawat ini merupakan pesawat ke delapan yang melakukan program Falcon Star Enhanced Mid Life Update (eMLU) dari sepuluh pesawat F-16 A/B TNI AU. Seluruh pesawat Skadron 3 menjalani modernisasi di Skadron Teknik 042 (Skatek 042) Lanud Iwahjudi, Magetan, Jawa Timur.

Falcon Star eMLU merupakan upaya modernisasi pesawat F-16 TNI AU, di antaranya dengan meningkatkan service life, kemampuan avionik, serta persenjataan pesawat secara signifikan.

Melalui Program Falcon Star eMLU ini, seluruh pesawat F-16 A/B Block 15 TNI AU ditingkatkan kemampuan airframe dan avionic sehingga dapat memperpanjang usia pakai pesawat. Selain itu peningkatan juga dilakukan pada sistem persenjataan dan kemampuan radarnya.

  ✈️
Garuda Militer  

[Global] Cerita Yugoslavia Tembak Jatuh Bomber Siluman F-117 AS

 🚀 Dengan Rudal Antik Soviet
Warga Yugoslavia menarik di atas puing bomber siluman F-117 Nighthawk Angkatan Udara AS yang ditembak jatuh oleh rudal antik buatan Soviet. (Foto/REUTERS)

Hari Minggu (24/3/2024) menandai peringatan 25 tahun dimulainya agresi udara NATO selama 78 hari terhadap Yugoslavia, negara yang bubar menjadi beberapa negara baru.

Hanya tiga hari setelah agresi dimulai, unit pertahanan udara Yugoslavia menembak jatuh pesawat pengebom (bomber) siluman F-117 Nighthawk Amerika Serikat (AS) menggunakan rudal antik Soviet.

Sputnik bertanya kepada mantan Letnan Kolonel Angkatan Udara AS Karen Kwiatkowski bagaimana hal seperti itu bisa terjadi.

Pada 27 Maret 1999, unit pertahanan udara Yugoslavia menembak jatuh bomber siluman F-117 Nighthawk Angkatan Udara AS menggunakan rudal darat-ke-udara (SAM) S-125 Neva—oleh NATO dinamai SA-3 Goa—buatan Soviet. Peristiwa itu menjadi sejarah dan menandai pesawat siluman hancur dalam pertempuran untuk pertama kalinya.

Diperkenalkan ke dalam layanan militer sekitar empat dekade yang lalu pada akhir tahun 1983, armada F-117 Angkatan Udara AS yang terakhir diserahkan ke tahap semi-pensiun hanya 25 tahun kemudian pada tahun 2008, diduga karena pesawat siluman yang baru dan lebih baik telah tersedia, tetapi sebenarnya karena pesawat itu langsung menjadi usang setelah dihancurkan oleh SAM Soviet yang dirancang pada tahun 1950-an untuk melawan jet tempur generasi kedua.

Ketika pertama kali diluncurkan pada tahun 1980-an, Pentagon mengira mereka telah mendapatkan pesawat tak kasat mata yang hampir tak terkalahkan, dengan F-117 senilai USD 111 juta yang menampilkan cat hamburan gelombang radar yang futuristik dan berteknologi tinggi, bentuk sudut yang unik, dan lapisan tahan radar khusus.

Pesawat pengebom tersebut antara lain dimaksudkan untuk menembus jauh ke dalam pertahanan udara Uni Soviet dan melakukan serangan nuklir jika Perang Dingin memanas.

Dalam imajinasi populer, teknologi siluman AS tahun 1980-an, termasuk F-117 dan Northrop Grumman B-2 Spirit, ditampilkan sebagai sesuatu yang mirip dengan senjata super—yang mampu memenangkan perang melawan Moskow sendirian.

Rasa superioritas sombong di Pentagon menguap dalam semalam dua puluh lima tahun yang lalu, ketika Baterai ke-3 dari Brigade Rudal ke-250 Unit Pertahanan Udara Yugoslavia yang dipimpin oleh Kolonel Zoltan Dani mulai bertugas di dekat Buđanovci, Serbia, Yugoslavia.

Dani dan anak buahnya memantau F-117 selama penerbangan menggunakan radar jarak-meter, yang terbukti mampu mendeteksi pesawat siluman lebih mudah dari yang diperkirakan.

Baru ketika jarak pesawat 15 meter saya perintahkan untuk mengunci sasaran dan memerintahkan Senad Muminovich, sang penembak, untuk menekan tombol peluncuran, dan rudal ditembakkan,” kenang Dani dalam wawancara dengan Sputnik pada 2019.

Dani mengonfirmasi tembakan tersebut; “Kami saling memberi selamat dan itu saja. Perasaannya sangat bagus, seolah-olah kami mencetak gol dalam pertandingan [olahraga] yang sangat penting. Pagi harinya, seorang perwira dari komando tinggi datang; dia memberi selamat kepada kami dan bertanya apakah kami tahu apa yang telah kami tembak jatuh. Saya menjawab 'Saya tidak tahu, ada target'. Dan kemudian petugas memberi tahu kami bahwa itu adalah F-117."

Rekaman video tentang warga Buđanovci yang menari di sayap pesawat yang jatuh juga beredar, di mana dia menari berteriak: “Maaf, kami tidak tahu pesawat itu tidak terlihat”.

Video itu menyebar seperti kobaran api ke seluruh dunia dan menjadi pukulan besar bagi koalisi NATO, serta memberikan kekuatan kepada Yugoslavia untuk terus melakukan perlawanan terhadap agresi Barat.

Lebih dari 20 tahun kemudian, pada bulan Desember 2020, Letnan Kolonel Charlie Hainline, pilot F-117 lainnya yang ikut serta dalam pengeboman Yugoslavia, mengungkapkan bahwa F-117 kedua yang dikemudikan oleh wingman-nya telah terkena tembakan rudal antipesawat Yugoslavia, menyebabkan kerusakan serius tetapi berhasil kembali ke markas dengan "pincang".

Saya samar-samar mengingat ini sebagai sebuah kejutan—ini adalah pesawat siluman utama saat itu,” kata pensiunan Letnan Kolonel Angkatan Udara AS dan mantan analis senior Departemen Pertahanan Karen Kwiatkowski kepada Sputnik, Kamis (28/3/2024), mengenang insiden 27 Maret 1999.

Kampanye AS dan NATO di Yugoslavia dipandang oleh kami sebagai tindakan yang ‘mudah’ karena sebagian besar merupakan operasi udara yang bersekutu dengan satu pihak dalam perang saudara, sebuah upaya untuk melawan senjata era Soviet di era pasca-Soviet. Namun taktik dan buruknya keamanan operasional AS/NATO menyebabkan kejutan ini," paparnya.

"Saya terkejut, karena ini terjadi 25 tahun yang lalu, dan saya adalah bagian dari angkatan udara terbaik di dunia,” kata lanjut Kwiatkowski, yang meninggalkan Pentagon dan menjadi whistleblower Perang Irak tahun 2003.

Selain kemampuan S-125, Kwiatkowski mengatakan “kendornya” keamanan operasi NATO berkontribusi terhadap kehancuran F-117, begitu pula rasa puas diri Angkatan Udara AS dalam membandingkan F-117 berteknologi tinggi dan teknologi silumannya yang lebih baru dengan kemampuan musuh.

Yugoslavia sendiri dipandang sebagai perang yang ‘aman’ melawan musuh yang lemah,” katanya, menambahkan bahwa agresi udara terhadap negara tersebut dimaksudkan untuk menunjukkan nilai-nilai AS daripada berjuang untuk mempertahankan atau memenangkan apa pun.

Namun teknologi tidak cukup untuk mematahkan semangat Kolonel Dani dan anak buahnya, kata Kwiatkowski.

Kolonel Dani adalah seorang pembuat roti, berjuang untuk negaranya, keluarganya, rakyatnya dan tanahnya. Lawannya hanya melakukan pekerjaan yang 'menyenangkan', sesuai petunjuk, dan berharap cerita bagus untuk diceritakan nanti. Kita telah melihat hal seperti ini dalam banyak perang, baik dulu maupun sekarang, di mana penggunaan inovatif apa pun yang Anda miliki—dalam hal pejuang, intelijen, jaringan, senjata, dan segala jenis peralatan—dapat berdampak besar pada lanskap pertempuran," paparnya.

Kwiatkowski mengatakan insiden tanggal 27 Maret 1999 di Buđanovci membongkar mitos teknologi siluman tak terkalahkan yang dijual kepada pemerintah AS oleh Lockheed Martin sebagai produsen pesawat tersebut, dan memaksa AS dan kekuatan udara besar lainnya untuk terus menyempurnakan teknologi tersebut, sekaligus meningkatkan keamanan operasional di Angkatan Udara AS.

Militer AS meremehkan publisitas negatif tersebut, dan para kontraktor mempunyai alasan baru untuk meminta lebih banyak dana untuk tahun-tahun mendatang. Saya tidak mendapat kesan bahwa keseluruhan kepemimpinan militer AS menghormati ‘musuh’ dan pertahanan udara mereka di era Soviet, tapi menurut saya pilot F-117 menghormatinya,” kata Kwiatkowski.

"Sayangnya, jika tidak, dekade-dekade sejak insiden tersebut tidak banyak mengubah pendekatan AS dalam menggunakan kekuatan militernya di seluruh dunia, selain jutaan orang yang tewas di negara-negara lain," imbuh pengamat militer tersebut. (mas)

  🚀 sindonews  

Kamis, 28 Maret 2024

Fincantieri Signs Contract To Deliver Two PPAs For Indonesia

⚓ OPVPPA's to Indonesia (Fincantieril)

Fincantieri and the Indonesian Ministry of Defence have signed a 1.18-billion-euro contract, within the framework of collaborative relations initiated by the Italian Ministry of Defence, for the supply of two PPA Units. PPA is a highly flexible ship with an outstanding technological standard. It has the capacity to serve multiple functions, ranging from patrol with sea rescue capacity to Civil Protection operations and first line fighting vessel.

The contract was signed by Pierroberto Folgiero, CEO and Managing Director of Fincantieri, and by the Indonesian Ministry of Defence, in the presence of Dario Deste, General Manager of the Naval Vessels Division.

The ships subject to the order – originally destined for the Italian Navy – are currently under construction and fitting at the Integrated Shipyard in Riva Trigoso-Muggiano.

The interest of the Indonesian Ministry of Defence in PPA Units stems from the Maritime Campaign in the Far East of the Francesco Morosini, the second ship of the Italian Navy’s PPA class, which also stopped over in Indonesia in July 2023. The transaction can catalyze additional synergies in the operational, industrial, and technological fields between the two countries. The Units will be able to support Indonesia in protecting national interests and contribute to the stability of the delicate Indo-Pacific strategic quadrant.

As part of the transaction, Fincantieri will act as the prime contractor towards the Indonesian Ministry of Defence and will specifically coordinate the other industrial partners, including Leonardo, for the customization of the ships’ combat system and the provision of related logistic services. The parties will define the relevant agreements in compliance with the applicable legislation, including that relating to transactions between related parties.

The effectiveness of the contract is subject to the necessary authorizations from the competent authorities. to transactions between related parties.

The multipurpose offshore patrol vessel is a highly flexible ship with the capacity to serve multiple functions, ranging from patrol with sea rescue capacity to Civil Protection operations and, in its most highly equipped version, first-line fighting vessel. There will be indeed different configurations of combat system: starting from a “soft” version for the patrol task, integrated for self-defence ability, to a “full” one, equipped for a complete defence ability. The vessel is also capable of operating high-speed vessels such as RHIB (Rigid Hull Inflatable Boat) up to 11 meters long through lateral cranes or a hauling ramp located at the far stern.

• 143 meters long overall
• Speed more than 32 knots according to vessel configuration and operational conditions
• Crew of about 170 persons
• Equipped with a combined diesel, a gas turbine plant (CODAG) and an electric propulsion system
• Capacity to supply drinking water to land.
 

 
Naval News  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...