Selasa, 27 September 2016

[World] Another F-35 Stealth Jet Caught on Fire While Starting Its Engine

It’s happened before ... https://cdn-images-1.medium.com/max/600/1*aah5VCzzW0WEizvZ9B6R3w.jpegThe F-35A after the June 2014 fire. [U.S. Air Force photo]

A single high-tech F-35A Joint Strike Fighter costs nearly $ 150 million to buy, and all together should comprise the bulk of the U.S. Air Force’s combat power for decades. But one very serious and now recurring problem is the plane’s propensity to burst into flames.

One F-35A did just that on Sept. 23 while starting its engine at Mountain Home Air Force Base in Idaho, according to Defense News. The pilot escaped the plane and no one was seriously injured, according to the paper.

It’s unclear what caused the fire or whether the jet was damaged.

The pilot had to egress the aircraft during engine start due to a fire from the aft section of the aircraft,” Air Force spokesman Capt. Mark Graff told Defense News. “The fire was extinguished quickly.

The F-35A pilot from the 61st Fighter Squadron and seven other airmen were moved to Mountain Home’s medical center after the fire “for standard evaluation,” Graff added in an email to the newspaper.

Seven of the twin-tail, single-engine F-35As from the squadron — normally based in Arizona — have been at Mountain Home with American and Australian pilots since Sept. 10. The purpose is to develop training procedures on “finding and killing surface-to-air threats,” Lt. Col. Michael Gette of the 61st Fighter Squadron told an Air Force news broadcast.

The fire occurred nearly eight weeks after the Air Force declared the F-35A ready for combat.

While the source of the accident is unknown, we do know that the jet’s Pratt & Whitney F135 turbofan engine has caught on fire before. In June 2014, an F-35A at Eglin Air Force Base in Florida caught on fire during takeoff.

Specifically, one of the engine’s rotating fan blades failed after repeatedly rubbing against a rubber-like polyimide seal inside the rotor assembly. The rubbing is normal, except the blade rubbed too hard, generating lots of heat and leading the blade to break off and slash through fuel lines and the fuel tank, starting the blaze.

The pilot jumped out and firefighting crews raced to the scene. The blaze was out within minutes but the damage was done — two-thirds of jet had been barbecued at a cost of $ 50 million in repairs.

The Pentagon grounded all of its F-35s — in three version for the Air Force, Navy and Marines — for several weeks.

Engineers had warned of the fire hazard as far back as 2007, according to 2015 Air Force Accident Investigation Board. In 2013, tests proved the danger existed. “Engine live fire tests in FY13 and prior live fire test data and analyses demonstrated vulnerability to engine fire, either caused by cascading effects or direct damage to engine fuel lines,” the report stated.

This month, the Air Force grounded 15 F-35As after it discovered that insulation surrounding the jets’ coolant lines were deteriorating.

Over time, the insulation could mix with the fuel, eventually leading to “structural damage to the fuel tanks,” according to an Air Force statement.

This isn’t a design flaw with the plane, but a specific problem with materials in the insulation provided by a subcontractor, according to the Air Force. The 15 grounded F-35As are a minority of the total operational Joint Strike Fighters in the Air Force’s inventory. Forty-two others with the issue are on the production line.

It’s not clear if the F-35A which caught on fire at Mountain Home had this problem, either. [by ROBERT BECKHUSEN]

  Warisboring  

[Dunia] DCNS Meluncurkan Gowind 2500 Corvette Pertama

Untuk Angkatan Laut MesirGowind 2500 Angkatan Laut Mesir [navyrecognition]

Pada tanggal 17 September 2016, DCNS meluncurkan korvet pertama Gowind 2500 untuk Angkatan Laut Mesir. Peluncuran berlangsung di galangan kapal angkatan laut Lorient satu hari setelah peluncuran FREMM Bretagne untuk Angkatan Laut Perancis. Pemotongan baja pertama berlangsung pada 16 April 2015. Penyerahan kapal tersebut ditetapkan tahun 2017.

Kairo menandatangani kontrak senilai EUR 1 Miliar pada 2014 untuk pengadaan empat korvet Gowind 2500 (dan akan bertambah 2 unit). Kontrak termasuk transfer teknologi; mengingat bahwa DCNS 'partner Alexandria Shipyard akan membangun tiga kapal di Mesir. Pembuatan kapal kedua telah dimulai pada bulan April tahun ini, di Mesir.

https://pbs.twimg.com/media/CsvfAqZWAAAv-rc.jpg Karakteristik teknis dari Gowind 2500

Menurut DCNS, Gowind 2500 merupakan produk korvet yang ditawarkan di seluruh dunia. Kapal ini menanggapi kebutuhan angkatan laut untuk memiliki akses ke sebuah kapal tempur lengkap dan multi-misi untuk operasi kedaulatan dan perlindungan maritim dan memerangi perdagangan gelap. Sepuluh korvet telah dipesan oleh Malaysia (6 unit) dan Mesir (4 unit).

Gowind 2500 lengkap dengan kemajuan teknologi terbaru, dikembangkan dan dilaksanakan oleh DCNS untuk pertahanan angkatan laut. Menggabungkan SETIS combat system, yang dikembangkan oleh DCNS untuk frigat FREMM dan korvet Gowind, "Panoramic Sensor and Modul Intelijen (PSIM)" - perakitan menyatukan tiang terintegrasi dengan berbagai instrumen serta Pusat Operasional dan integrasi tingkat tinggi, otomatisasi dari sistem DCNS.

☠ Panjang: 102 meter
☠ Lebar: 16 meter
☠ Berat: 2.600 ton
☠ Maks. kecepatan: 25 knot
☠ Kru: 65 orang (termasuk helikopter)
☠ Jarak Jelajah: 3.700 mil laut pada 15 knot

Senjata: 8x Exocet MM40 Block 3 rudal anti-kapal, 16x VL MICA peluru kendali darat ke udara (baik oleh MBDA), Torpedo, sebuah meriam utama 76mm (Oto Melara), 2x 20mm RWS (Remote Weapon System) dan Sylena decoy launcher oleh Lacroix.

Sensor: Radar Smart-S Mk2, Kingklip hull mounted sonar, Captas 2 variable depth sonar, Vigile 200 Radar - ESM, Altesse Communication - ESM (semua oleh Thales). [Navyrecognition]

 Gowind Malaysia Bermasalah
The downward revision of margin for the littoral combat ship project for the Rpyal Malaysian Navy is a factor affecting the performance of Boustead’s heavy industries division. - Bernama pic  Penampakan kapal 'Gowind' [Bernama]

DCNS juga telah memenangkan kontrak pengadaan korvet Gowind pertama untuk Angkatan Laut Malaysia, yang meliputi desain dan pembangunan enam korvet di Malaysia, pada galangan kapal Shipyard Boustead Naval melalui transfer teknologi. Kapal ini akan diklasifikasikan sebagai kapal frigate lokal.

Namun hingga kini, pembangunannya seolah terhambat. Seperti diketahui Malaysia lebih dahulu memotong baja memulai pembangunan korvet spesial 'Gowind" dengan ukuran yang lebih besar, 4 bulan lebih cepat dari pembangunan kapal Gowind Mesir. Namun hingga kini tidak ada berita kapan kapal tersebut siap diluncurkan.

Menurut situs the star, Galangan kapal Boustead Naval menghadapi masalah keuangan dalam menyelesaikan kapal korvet pertama untuk Malaysia. Jadi kemungkinan peluncuran kapal bakal tertunda.

  Garuda Militer  

TNI AD Tantang Para Developer Kembangkan Aplikasi Kemiliteran

http://angkasa.co.id/wp-content/uploads/2016/09/developer.jpgUntuk memaksimalkan potensinya, TNI AD tantang para developer untuk kembangkan aplikasi berbasis kemiliteran dalam sebuah kompetisi bergengsi pada awal bulan depan. Hal ini didasari oleh perkembangan teknologi yang semakin cepat dan selalu menampilkan wajahnya yang lebih mutakhir dan canggih dari sebelumnya.

Pesatnya perkembangan dan keberadaan teknologi pun dewasa ini menjadi ancaman serius dalam wilayah pertahanan negara dan dunia kemiliteran. Ancaman yang mengancam stabilitas keamanan negara kini bukan lagi dilakukan secara fisik, namun kini cukup dengan menggunakan medium siber dan invasi terhadap suatu negara pun dapat terjadi.

Dari fenomena tersebut, maka diperlukan pengembangan untuk menghadapi ancaman dalam bentuk tersebut dari aspek teknologi dan juga sumber daya manusia (SDM). Demi mengembangkan kedua aspek tersebut, TNI AD yang bekerja sama dengan DailySocial untuk menggelar sebuah kompetisi pemrograman dengan tema ‘Hackathon Cipta Yudha Kartika Eka Paksi TNI-AD’ yang berlokasi di Pusat Pendidikan Zeni (Pusdikzi), Bogor, pada 7 hingga 9 Oktober 2016 mendatang.

Kompetisi Hackathon Cipta Yudha Kartika Eka Paksi TNI-AD merupakan sebuah upaya dari TNI-AD dalam rangka merangkul para ahli teknologi sipil untuk bersama-sama memajukan sistem pertahanan darat negara.

Melalui kompetisi tersebut, developer akan terlibat di dalam sebuah misi kemiliteran di bidang teknologi untuk menciptakan aplikasi pertahanan darat negara yang mampu beroperasi 24 jam sesuai pengarahan dari awak TNI-AD. Aplikasi-aplikasi yang mereka buat harus meliputi salah satu di antara tiga sektor, yakni pembinaan teritorial, operasi pertempuran, dan operasi dukungan.

Author: Fery Setiawan

  Angkasa  

Senin, 26 September 2016

Penutupan Kakadu Exercise 2016 Di Australia

Berjalan Sukses http://www.tnial.mil.id/Portals/0/News/OPSLAT/2016/SEPTEMBER/kakakDU.jpgLatihan bersama antara TNI AL dan Royal Australian Navy dengan Sandi Kakadu 2016 telah berakhir. Indonesia yang diwakili oleh Komandan Satgas Kakadu Exercise 2016 Letkol Laut (P) Sandharianto dan Commodore Malcolm K. M.. Wise selaku OAM RAN dan perwakilan tiap – tiap negara dalam acara penutupan bertempat di gedung Hmas Coonowarra, Darwin Australia. Minggu, (25 / 09/ 2016).

Komandan KRI Sultan Hasanuddin - 366 Letkol Laut (P) Sandharianto dalam sambutannya di acara penutupan Kakadu Exercise 2016 mengatakan, dalam latihan ini merupakan kesempatan sebagai ajang memperluas pengetahuan, pengalaman dan mempererat hubungan persahabatan kepada seluruh peserta sehingga mencapai hasil dan tujuan yang lebih baik.

Lebih lanjut, Komandan Satgas Latihan menyampaikan bahwa dalam latihan ini meliputi beberapa aspek seperti peperangan maritim, keamanan maritim dan Search and Rescue (SAR).

Selain itu, The Officer conducting Exercise KAKADU, Commodore Mal Wise, OAM, RAN, mengatakan program latihan ini berjalan dengan sukses dan lancar serta seluruh peserta menerima manfaat yang besar dalam latihan tersebut. ”Latihan KAKADU membuktikan bahwa Angkatan Laut hadir, gigih dan kuat di laut. Kakadu Exercise mampu memproyeksikan kekuatan kita dari utara Australia adalah komponen penting dari strategi maritim Australia”.

Latihan ini memungkinkan untuk terus mengembangkan taktik dan meningkatkan kinerja di laut bersama mitra untuk membangun pemahaman, kemampuan dan interoperabilitas, kata Commodore Wise.

Peperangan anti-kapal selam adalah latihan pokok dari KAKADU 2016, dengan Australia mengerahkan generasi baru MH-60R Seahawk Romeo helikopter dengan sonar serta Amerika Serikat yang membawa pesawat patroli maritim P-8A Poseidon sedangkan Indonesia mengirimkan KRI Sultan Hasanuddin – 366 dan pesawat CN 235 P 861 maupun unsur – unsur lainnya.

Latihan KAKADU adalah latihan maritim internasional terkemuka di Australia, menyatukan angkatan laut dan angkatan udara dari Asia - Pasifik untuk menguji integritas serta kemampuan pertempuran. Latihan KAKADU akan kembali di laksanakan di Darwin tahun 2018 mendatang. Mengakhiri acara penutupan tersebut dilaksanakan penyerahan cinderamata dan foto bersama. (Dispenarmatim)

  TNI AL  

[Video] KCR 60 Batch 2

Video liputan navy recognition https://3.bp.blogspot.com/-Ugckh3MCjcU/VmWcX5ePGCI/AAAAAAAAIEo/mvnM6gXMJOsQdcXMW1nbVIGO3a2bsNkJwCPcB/s1600/12240233_498162273690932_5060544490708167166_defence.pk.jpgKCR 60 produksi PT PAL Indonesia, Kedepan sedang didesain batch 2

Dalam Balt Military Expo 2016 di Polandia, PT PAL Indonesia turut menampilkan produksinya.

Salah satu sumber dipameran menerangkan jika PT PAL sedang mendesain baru KCR 60 batch 2 dengan kerjasama bersama perusahaan kapal lain.

Dalam Video diterangkan perihal kerjasama dan desain kapal yang dimaksud.

Berikut Video liputan navy recognition dari Youtube :


  Garuda Militer  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...