Kamis, 25 Mei 2017

[Dunia] Sekarang Cukup 2 SSV Untuk Angkatan Laut

BRP Davao del Sur LD 602 [Rappler]

Akuisisi tambahan kapal Strategic Sealift Vessel (SSV) untuk Angkatan Laut Filipina, tergantung kebutuhan keamanan masa depan.

Demikian pemberitahuan dari juru bicara departemen keamanan nasional (DND) Arsenio Andolong, ketika ditanya perihal penambahan kapal SSV untuk Filipina.

“Sampai sekarang, tidak ada rencana pengadaan kapal ketiga SSV. Rencana modernisasi kami, berdasarkan Filipina dokrin, hanya dua unit,” ungkapnya.

“Mungkin kami akan memerlukan di masa depan, ketika keamanan kita membutuhkannya,” kata Andolong.

Filipina mempunyai 2 unit SSV, BRP Tarlac (LD-601) dan BRP Davao Del Sur (LD-602) yang akan diresmikan penggunaannya pada akhir bulan Mei. (Update)
 

  Garuda Militer  

Rabu, 24 Mei 2017

[Dunia] Duterte Umumkan Darurat Militer di Mindanao

Ilustrasi pasukan Filipina

Presiden Filipina Rodrigo Duterte dilaporkan telah mengumumkan darurat militer di wilayah Mindanao, Filipina Selatan. Pengumuman ini datang setelah adanya pertempuran besar-besaran antara tentara Filipina dan kelompok milisi Abu Sayyaf, kemarin.

Menurut juru bicara Kepresidenan Filipina, Ernesto Abella, darurat militer itu akan berlangsung selama 60 hari ke depan dan mulai berlaku saat Duterte mengumumkan hal tersebut.

"Presiden Duterte telah mengumumkan darurat militer untuk seluruh pulau Mindanao. Hal ini dimungkinkan atas dasar adanya pemberontakan," kata Abela dalam sebuah pernyataan, seperti dilansir Al Jazeera pada Rabu (24/5).

Sementara itu, menurut Menteri Luar Negeri Filipina, Alan Peter Cayetano, Duterte memutuskan untuk mempersingkat kunjungannya ke Rusia. "Presiden merasa ia dibutuhkan di Manila sesegera mungkin," kata Alan.

Terkait dengan pertempuran yang berlangsung kemarin, Menteri Pertahanan Filipina Delfin Lorenzana mengatakan, dua tentara dan satu petugas polisi tewas dalam baku tembak di kota Marawi, 816 km selatan Manila. 12 orang tentara lainnya terluka akibat pertempuran ini.

Lorenzana menuturkan, pertempuran terjadi setelah kelompok milisi melakukan serangan terhadap basis tentara di Marawi. Selain menyerang basis tentara, penyerang juga membakar sebuah gereja Katolik, penjara kota, dan dua sekolah, serta menduduki jalan-jalan utama dan dua jembatan menuju kota.

"Orang-orang bersenjata juga menduduki balai kota, sebuah rumah sakit yang dikelola pemerintah, dan merupakan bagian dari sebuah universitas. Seluruh kota Marawi gelap gulita, tidak ada cahaya dan ada sniper di seluruh sudut kota," tukasnya. (esn)

 RI Berharap Status Darurat Militer Filipina Tak Pengaruhi Sandera WNI

Direktur Perlindungan Warga Negara dan Badan Hukum Indonesia (PWNI-BHI) Kementerian Luar Negeri Indonesia, Lalu Muhammad Iqbal berharap darurat militer yang berlaku di Mindanao tidak mempengaruhi sandera WNI di sana. Setidaknya ada tujuh orang yang masih menjadi sandera kelompok milisi di Filipina Selatan.

"Kondisi di Mindanao secara umum normal. Pertempuran terkonsentrasi di sekitar Marawi. Marawi bukan daerah konsentrasi WNI. Daurat militer hanya diberlakukan di Mindanao saja. Sejak beberapa bulan lalu KJRI Davao sudah mengeluarkan seruan kepada WNI di Filipina Selatan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap situasi keamanan. Seruan tersebut belum dicabut," kata Iqbal

"Sejauh ini tujuh sandera dalam keadaan baik. Komunikasi dan upaya pembebasan terus berlangsung. Harapan kita status darurat militer di Mindanao ini tidak mempengaruhi kondisi para sandera WNI," sambungnya melalui pesan singkat kepada wartawan pada Rabu (24/5).

Sebelumnya diwartakan, juru bicara kepresidenan Ernesto Abella, darurat militer itu akan berlangsung selama 60 hari ke depan. Pengumuman ini datang setelah adanya pertempuran besar-besaran antara tentara Filipina dan kelompok milisi Abu Sayyaf, kemarin.

"Presiden Duterte telah mengumumkan darurat militer untuk seluruh pulau Mindanao. Hal ini dimungkinkan atas dasar adanya pemberontakan," kata Abela dalam sebuah pernyataan. (esn)
 

  Sindonews  

Kisah Tim KPLP Berhasil Selamatkan Kapal Philippine Coast Guard TB Habagat (271)

Bocor dan rusak mesin di lautWuih, luar biasa, kata-kata ini sangat tepat ditujukan bagi Tim Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP) Ditjen Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan (Kemhub).

Betapa tidak, tim KPLP berhasil memberikan pertolongan kepada Kapal Philippines Coast Guard TB Habagat 271 yang mengalami kebocoran dan kerusakan mesin di perairan selat makassar 110Nm dari Kotabaru, Kalimantan Selatan, akhir pekan lalu.

Sebelum terjun menolong, berita marabahaya (distress) diterima dari Komandan Kapal Philippines Coast Guard TB Habagat 271 oleh Poskodalops Ditjen Hubla.

Tentu saja, segera ditindaklanjuti oleh Dit KPLP selaku Indonesia Coast Guard sembari terus berkoordinasi dengan Philippines Coast Guard Action Center di Manila.

Kapal tersebut merupakan armada yang dibawa dari Filipina saat mengikuti Regional Marine Pollution Exercise (Marpolex) pekan lalu dan tengah dalam pelayaran untuk kembali ke negaranya. Kapal juga sempat mengikuti simulasi penanganan kapal bocor atau bermasalah di lautan dalam rangka menjaga lingkungan laut dari pencemaran minyak di Benoa, Bali.

Kapal Philipine Coast Guard mengalami masalah di perairan Selat Sulawesi dalam perjalanan pelayaran dari Benoa menuju Filipina di Lat 4 degs 00.32 mins S/ Long 117 degs 39.6 mins E, selanjutnya kami diperintahkan untuk memonitor dan melakukan tindakan pertolongan,” tutur Direktur KPLP, Capt. Jonggung Sitorus di Jakarta, Selasa (23/5/2017).

http://photos.marinetraffic.com/ais/showphoto.aspx?mmsi=525000001&size=Kapal Patroli KN Chundamani P-116 [marinetraffic]

Selanjutnya KPLP mengerahkan Kapal Patroli KN Chundamani P-116 dan KN 377 menuju ke lokasi, untuk memberikan pertolongan serta melakukan asistensi di Pelabuhan Kotabaru.

Berdasarkan informasi kapal mengalami trouble engine dan ada kebocoran, kapal masih aman untuk dilayarkan ke pelabuhan Kotabaru untuk melakukan perbaikan,” ujar dia.

KSOP Klas IV, melaksanakan koordinasi dengan beberapa pihak antara lain PT. Pelindo III melalui Pilot Station, PT. Pertamina Kotabaru dengan menyiagakan dua unit kapal Tunda TB. Patra 01 dan TB. Patra 02 di Tanjung Pemancingan dan SROP Batulicin.

Kapal milik Philippine coast guard TB. Habagat (271) saat itu, masih bisa melanjutkan perjalanan menuju ke Perairan Kotabaru dengan Speed 7,6 Knots dan terus kami pantau dengan SROP Batulicin dan Pilot Station,” katanya.

Titik pertemuan antara Kapal Negara Patroli KPLP KNP 377 dengan Kapal TB Habagat 271 milik Philippine Coast Guard di posisi koordinat 03-15,42′-42,0″LS/116-54-50,0″ BT atau sekitar 44 NM dari Kotabaru pada Ahad (21/5/2017) sekitar pukul 16.00 WITA.

TB Habagat 271 philippine coast guard dikawal kapal milik PCG lainnya yaitu BRP-3502 (Nueva Vizcaya). Selanjutnya Kapal Negara Patroli KPLP KNP 377 mengawal kedua kapal Philippine Coast Guard menuju perairan Kota Baru untuk selanjutnya disandarkan pada Dermaga Pelabuhan Umum Stagen milik PT. Pelindo III Cabang Kotabaru dan tiba di pelabuhan Kotabaru pukul 22.00 WITA,” urai Capt. Jonggung.

 Dirjen Hubla Apresiasi Kesigapan Tim KPLP
http://www.update.ph/wp-content/uploads/2017/05/18447345_1262732053839456_200433849777998141_n.jpgKapal TB Habagat 271 milik Philippine Coast Guard [update.ph]

Dirjen Perhubungan Laut A. Tonny Budiono mengapresiasi kesigapan tim Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP) yang berhasil melakukan pertolongan pihak Filipina saat mengalami masalah di pelayarannya.

Ini menjadi catatan penting bahwa latihan atau simulasi pertolongan darurat sangat dibutuhkan dan benar-benar membantu sesuai SOP (Standart Operation Procedure), saat dihadapkan pada kondisi yang nyata,” jelas Tonny di Jakarta, Selasa (23/5/2017).

Dia juga menyampaikan keprihatinannya atas kendala yang terjadi pada kapal Filipina tersebut. Mulai hari ini, kapal Coast Guard Filipina sedang naik dock untuk dilakukan penambalan.

Sedangkan kapal Philipine Coast Guard lainnya yaitu BRP-3502 (Nueva Vizcaya) sudah berlayar kembali ke negaranya,” tuturnya.

Dengan adanya kejadian ini telah menunjukan kesiapsiagaan KPLP sebagai Indonesia Coast Guard dalam merespon serta bereaksi cepat mengatasi permasalahan pelayaran yang terjadi di perairan Indonesia. (omy)
 

  Berita Trans  

Kisah Petugas Patroli KKP Ditangkap Cost Guard Vietnam

Kapal Hiu Macan milik PSDKP KKP Batam

Peristiwa “penculikan” anggota patroli KKP di kapal patroli Hiu Macan di perairan Natuna berawal dari penangkapan empat kapal nelayan Vietnam.

Sebuah sumber menyebutkan, empat kapal yang membawa 50 ABK itu kemudian hendak dibawa anggota PSDKP ke Natuna.

Satu orang petugas KKP kemudian ditempatkan ke kapal untuk melakukan pengawalan sekaligus mengemudikan kapal.

Tiba-tiba datang kapal cost guard Vietnam datang dan meminta kapal itu diserahkan kepada mereka.

Tak lama kemudian, kapal cost guard itu menabrak kapal nelayan Vietnam tersebut.

https://3.bp.blogspot.com/-5cWN-zp8KE8/WSVPMoCm21I/AAAAAAAAKX8/EFm2a4x65QcIZkSGfP_SxzwRWO4cGFATACLcB/s1600/18582209_1266750506774937_5627063255542756409_n.jpgKapal nelayan yang ditabrak itu kemudian tenggelam, sedangkan Gunawan yang sempat meminta pertolongan melalui radio, karena kapalnya hampir tenggelam, dibawa oleh cost guard tersebut.

Kapal penjaga pantai Vietnam ini mengatakan, mereka akan menyerahkan petugas kapal Indonesia itu jika seluruh kapal yang tertangkap dikembalikan kepada mereka.

Seperti diberitakan sebelumnya, seorang anggota Kapal Pengawas (KP) Hiu Macan 01, Pengawasan Sumberdaya Kelautan dan Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan (PSDKP KKP), Barelang Batam, ditangkap oleh coast guard Vietnam saat melakukan tugas pengawasan di laut Natuna.

Muhamad Syamsu Rokhman, kepala Seksi operasional pengawasan dan penanganan pelanggaran, pada PSDK KKP Barelang Batam, membenarkan adanya kejadian tersebut.

"Benar anggota kita yang bertugas di KP Hiu macan 01 ada satu orang dibawa oleh coast guard Vietnam. Kita sudah laporkan kepada Ibu Menteri (Susi Pudjiastuti)," kata Syamsu.

Saat ini kata Syamsu, PSDK KKP Barelang Batam menunggu info lebih lanjut dari pihak kementerian.

"Kita masih menunggu informasi kelanjutannya, sabar dulu ya. Nanti ibu menteri akan menjelaskannya,” tambah Syamsu.
 

  Tribunnews  

Korea turns to Israeli contractor for KF-X jet radar:

KFX [chosun]

South Korea has formally decided to receive some technology support from Israel for the development of an advanced radar system in its KF-X fighter jet program, Seoul's arms procurement agency said Tuesday.

The state-run Agency for Defense Development signed a contract with an Israeli defense firm on testing an active electronically scanned array radar being developed by a South Korean company, according to the Defense Acquisition Program Administration.

"It's about technology support related to the operation test of a prototype radar, not the development itself," the DAPA said.

The agency would not reveal the value of the contract apparently with Elta, while an industry official said it's worth around 40 billion won ($35.5 million).

It requires sophisticated technology to test an AESA radar system and integrate it with aircraft.

The DAPA's statement followed a news report that the ADD has abandoned a push to develop the radar on its own despite a partnership with a local defense firm.

In 2016, the ADD chose Hanwha Thales, a local defense firm later renamed Hanwha Systems, as the preferential bidder for the radar development. Hanhwa beat its domestic rival LIG Nex1 in the controversial competition.

The ADD said earlier it could seek outside help if Hanhwa falters in developing such an advanced radar system for use by South Korea's envisioned fighter jets.

South Korea launched the KF-X project in 2015 with the aim of producing more than 120 cutting-edge fighters to replace its aging jet fleet of F-4s and F-5s.

It plans to pour a total of 18 trillion won into the project by 2026, with the production of six prototype jets scheduled to begin in July next year.
 

  Korea Herald  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...