Kamis, 03 September 2015

TNI AL dan AL Australia siap gelar latihan "New Horizon Ex-15"

http://2.bp.blogspot.com/-lb3bC0RBnns/VC1iAlRKyLI/AAAAAAAAFXE/dIGvMCDoyTQ/s1600/2058574_20141002031254supermarine.jpgKRI Usman Harun 359 [Bambang Sulistyu/Supermarine] ☆

Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) dari jajaran Koarmatim (Komando Armada RI Kawasan Timur) siap menggelar Latihan Bersama Bilateral antara Indonesia dan Royal Australian Navy (RAN) yang bersandi "New Horizon Ex-15".

"Kesiapan itu disampaikan Kolonel Laut (P) Didong Rio Duta selaku Komandan Satuan Tugas (Satgas) New Horizon EX-15 kepada Pangarmatim Laksda TNI Darwanto dalam paparan di Makoarmatim, Rabu (2/9)," kata Kadispenarmatim Letkol Laut (KH) Maman Sulaeman di Surabaya, Kamis.

Kepada Pangarmatim selaku penyelenggara latihan, Kolonel Didong yang juga Komandan KRI Usman Harun-359 itu menjelaskan fokus kegiatan dalam bidang "Military Operation Other Than War" (MOOTW) dengan tiga kegiatan yaitu Harbour Phase, Sea Phase, dan Post Exercise Phase.

Dalam latma itu, TNI AL akan melibatkan dua unit KRI, satu unit Helikopter, dan satu unit MPA, sedangkan dari Royal Australian Navy (RAN) akan melibatkan dua unit HMAS dan satu unit Helikopter.

Materi latihan pada Latma Exercise New Horizon 2015 adalah peperangan umum (AAW, ASW, AsuW), Tactical Maneuvering (TACMAN), RAS, communications Exercise, Gunnery Exercise (GUNNEX), NEX, Photo Exercise (PHOTEX) dan operasi heli guna meningkatkan kerja sama bilateral antar TNI AL dan RAN.

"Pelaksanaan latihan bersama itu akan dibagi menjadi dua tahapan yaitu Sea Phase yang digelar di sekitar perairan laut Jawa dan Harbour Phase dilaksanakan di Markas Komando Armada RI Kawasan Timur," katanya.

Paparan tersebut dihadiri Kasarmatim Laksamana Pertama TNI Mintoro Yulianto, Komandan Gugus Tempur Laut (Danguspurla) Koarmatim Laksma TNI I.N.G. Ariawan, dan Pejabat Utama Koarmatim serta Komandan KRI yang berada di pangkalan.

  Antara  

Kemhan Siapkan Infrastruktur Pengembangan Pesawat Tempur KF-X/IF-X

http://dmc.kemhan.go.id/images/uploads/325861DMC.jpgDalam rangka memenuhi program Minimum Essential Force (MEF) TNI agar dapat dicapai sesuai target dan untuk mewujudkan kemandirian dalam pembangunan penguatan pertahanan negara, Kementerian Pertahanan melalui program kerjanya mewujudkan sistem pertahanan negara yang tangguh. Salah satu program yang menjadi prioritas adalah penguatan industri pertahanan nasional dengan implementasi programnya yaitu pengembangan pesawat tempur KF-X/IF-X.

Untuk itu, pada tahun 2015 ini. mulai dilakukan penyiapan infrastruktur pengembangan pesawat tempur KF-X/IF-X dengan ditandai oleh peletakan batu pertama pembangunan hanggar pesawat tempur KF-X/IF-X di kawasan PT. Dirgantara Indonesia (Persero) Bandung. Peletakan batu pertama pembangun hanggar yang berlangsung hari ini, Rabu (2/9), dilakukan Sekjen Kemhan Letjen TNI Ediwan Prabowo, S.Ip bersama-sama dengan Direktur Utama PT. Dirgantara Indonesia (Persero) Budi Santoso, Kabalitbang Kemhan Dr. Ir. Anne Kusmayati, M.Sc, Tim Ahli KF-X/IF-X Marsdya TNI (Pur) Eris Herryanto dan Komandan Koharmatau (Komando Pemeliharaan Materiil TNI AU) Marsda TNI Robert S. Marut.

Pembangunan hanggar pesawat tempur KF-X/IF-X diatas tanah seluas 4 ha dan diharapkan selesai pada bulan Desember 2015 ini menjadi momentum bersejarah bagi kebangkitan industri pertahanan nasional dan realisasi program industri pertahanan Indonesia dalam rangka memperkuat sistem pertahanan negara. Sistem dan strategi pertahanan negara secara terus menerus disempurnakan untuk mewujudkan sistem pertahanan semesta berdasarkan kapabilitas pertahanan agar secara simultan ditunjukkan untuk mencapai kemampuan mengatasi ancaman dan memiliki penggetar.

Dalam sistem tersebut, pertahanan negara didesain agar mempunyai kemampuan menangkal ancaman di wilayah Indonesia dan kemampuan untuk mempertahankan wilayah daratan serta mengawasi dan melindungi wilayah yurisdiksi laut Indonesia dan ruang udara nasional. Penguatan industri pertahanan diharapkan dapat memberikan multiplier effect baik terhadap pembangunan ekonomi maupun penguasaan teknologi bangsa Indonesia. Dengan demikian, prinsip defence supporting economy dapat diwujudkan di masa mendatang.

Seperti diketahui program pengembangan pesawat tempur KF-X/IF-X generasi 4.5 ini merupakan program kerja sama antara pemerintah Indonesia dengan pemerintah Korea Selatan. Program ini didasari oleh Letter of Intent (Lol) tahun 2009 dan Memorandum of Understanding (MoU) pada tahun 2010. Tahap pengembangan ini diselesaikan pada tahun 2013 dengan menghasilkan System Operational Requirement dan System Configuration. Pada tahun 2014 ditandatangani Project Agreement antara Menteri Pertahanan Rl dan The Defense Acquisition Program Adminitration (DAPA) Korea Selatan sebagai payung hukum implementasi program tersebut.

Selain itu sebagai payung hukum implementasi program tersebut adalah Peraturan Presiden Nomor 42 Tahun 2010 tentang Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) dan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2012 tentang Industri Pertahanan yang mengamanatkan kepada seluruh pemangku kepentingan untuk secara sinergis mewujudkan kebangkitan industri pertahanan. (ERA/SPD)

  DMC  

IUSSD XIII Eksplorasi Perspektif Baru bagi Keamanan Regional dan Global

http://dmc.kemhan.go.id/images/uploads/882733010915-IUSSD-13.jpgPerkembangan globalisasi dan pembangunan ekonomi, menimbulkan tantangan bagi Negara-negara di dunia untuk menghadapinya. Tantangan tersebut tidak bisa dihadapi sendiri namun diperlukan kesamaan persepsi, pikiran dan pandangan untuk menghadapi tantangan dan perubahan tersebut secara bersama-sama.

Dalam rangka menghadapi tantangan dan perubahan yang memiliki dampak langsung maupun tidak langsung terhadap kepentingan nasional, perlu diselenggarakan forum dialog untuk mengeksplorasi perspektif baru bagi keamanan regional maupun global. Demikian diungkapkan Dirjen Strahan Mayjen TNI Yoedhi Swastanto, M.B.A saat membuka Dialog Keamanan antara Indonesia dan Amerika Serikat atau Indonesia – US Security Dialogue (IUSSD) XIII, Senin (1/9), di Jakarta.

Beberapa isu diangkat dalam IUSSD ini diantaranya isu mengenai pekembangan negoisasi nuklir Iran, kebijakan pemerintah di bidang maritim, rebalancing Amerika Serikat di Asia Pasifik, Peace Keeping, counter terrorism, perkembangan ASEAN dan ADMM Plus, Foreign Military Financing (FMF) dan pembangunan institusi pertahanan.

Dialog yang berlangsung dua hari mulai tanggal 1-2 September 2015 ini merupakan tindak lanjut dari IUSSD sebelumnya yang berlangsung di Washington DC pada bulan Desember 2014. Dalam IUSSD ke-12 tersebut tercapai kesepakatan bahwa pemerintah AS dan Indonesia akan membentuk kelompok kerja maritim untuk mendukung kebijakan maritim yang baru akan terbentuk di Indonesia. Selain itu kedua Negara sepakat bahwa IUSSD adalah platform yang baik untuk mengembangkan dan meningkatkan hubungan yang lebih erat lagi.

Seperti diketahui bahwa Dialog Keamanan antara Indonesia dan Amerika Serikat atau Indonesia – US Security Dialogue (IUSSD) yang dimulai tahun 2002 memiliki tujuan yaitu yang pertama dan terpenting adalah memberi kesempatan kepada kedua Negara untuk berbagi pandangan dan mendiskusikan isu-isu geostrategis yang menjadi perhatian Negara-negara di dunia.

Yang kedua, dalam IUSSD, Indonesia – AS mengupayakan untuk mengusulkan program kerjasama bilateral pertahanan di masa datang selain meninjau kembali program kerjasama yang telah terjalin selama ini. Untuk itu dalam forum disukusi ini Dirjen Strahan berharap para peserta dapat bertukar pengalaman dan keahlian serta menjalin hubungan yag lebih erat diantara para peserta dialog.

Dalam dialog ini delegasi Indonesia dipimpin oleh Dirjen Strahan Kemhan Mayjen TNI Yoedhi Swastanto, M.B.A dan delegasi AS dipimpin oleh kesempatan tersebut delegasi AS Dr. Amy Searight. Adapun delegasi Indonesia meliputi wakil dari Kemhan/TNI, Kemlu, Menko Polhukam, UNHAN Indonesia, BNPT dan IPSC Sentul. (ERA/JLY)

  DMC  

Rencana Pembelian Alutsista

http://defence.pk/attachments/sukhoi-jpg.253005/Nilai tukar rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat anjok hingga menembus angka Rp 14.000 beberapa waktu terakhir. Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu mengatakan tingginya nilai Dolar bukan berarti rencana pembelian alutsista untuk kekuatan pertahanan Indonesia akan dibatalkan.

"Kalau yang sudah dibayar kita beli (alutsistanya). Yang ringan-ringankan masak nggak bisa. (Kalau) yang mahal-mahal misal (rencana) beli sepuluh ya kita beli delapan dulu," ungkap Ryamizard usai sidak persenjataan milik TNI AD di tiga kesatuan, yakni Kopassus, Yonkav 1/1 Kostrad, dan Yonif Mekanis 201 Jaya Yudha, Jakarta Timur, Rabu (2/9/2015).

Pemerintah sendiri sudah memperhitungkan mengenai keadaan ini. Mengenai rencana pembelian anggaran disebut Ryamizard sudah masuk dalam batasan tertinggi anggaran (pagu).

"Sudah ada pagunya kalau rencana sudah oke. Kalau resapan berjalan semua pasti akan berjalan dengan bagus," ujarnya.

Meski perekonomian nasional kembali bergejolak, menurut Ryamizard bukan berarti Indonesia harus menurunkan kewaspadaan dalam bidang pertahanan sebagai langkah pertimbangan. Pasalnya meningkatkan kekuatan militer sangat penting menyusul adanya potensi-potensi konflik yang bisa melibatkan Indonesia, seperti sengketa Laut China Selatan.

"Situasi sekarang memang tidak bagus, tapi Laut China Selatan kan dekat kita. Kita harus berjaga-jagalah. Nambah-nambah, daripada kita berdebar-debar terus kan. Walaupun mereka (negara yang bersengketa) tembak-tembakan kan berdebar-debar juga," jelas Ryamizard.

Untuk itu, dengan ekonomi yang melemah ini pihaknya akan betul-betul jeli dalam memutuskan membeli alutsista. Jika keadaan ekonomi membaik, Indonesia bisa kembali membeli tambahan alutsista yang diperlukan. Ryamizard juga menyebut, permasalahan ekonomi bukan hanya melanda Indonesia semata.

"Ada anggaran beli yang perlu saja. Ada yang sudah pesan bayar, biar resapan cepat teruskan saja. Kalau rupiah sudah normal beli nanti. Rusia saja babak belur, dan Malaysia (juga). Kita beli yang murah-murah kayak kekeran (teropong) masak nggak dibeli. Ya gitu nggak pengaruh lah," beber mantan KSAD ini.

Kementerian Pertahanan sendiri dalam waktu dekat akan melakukan penandatangan kontrak untuk pembelian pesawat tempur Sukhoi SU-35 dengan Rusia. Pesawat tersebut untuk menggantikan F-5 Tiger milik TNI AU yang sudah memasuki masa pensiun.

"Kita ingin membeli satu skadron, tetapi disesuaikan kemampuan pemerintah. (MoU) Bulan September ini," tutur Ryamizard.

Sebelumnya Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo menyebut anjloknya rupiah terhadap dolar akan berpengaruh terhadap pembelian alutsista. Terkait rencana pembelian alutsista, jajarannya pun dikatakan Gatot akan kembali melakukan evaluasi.

"Pasti ada pengaruhnya. Ya tentu akan kita evaluasi. Karena anggaran kita kan beda. Beda juga situasinya. Pasti akan kita evaluasi lagi. Kan belum jalan," tukas Gatot di Gedung Kementan, Ragunan, Jaksel, Rabu (26/8). (elz/imk)
Anggaran Pertahanan di 2016 Dikurangi, Menhan: Ini Saja Sudah Kuranghttp://1.bp.blogspot.com/-i6P3coTzjro/VeWFVvgwYJI/AAAAAAAAHkI/y-hfnds0rb8/s1600/PKR-KCR.jpgProses Produksi KCR60M & PKR 10514 PT PAL Indonesia ☆

Anggaran untuk Kementerian Pertahanan pada tahun 2016 direncanakan sebesar Rp 95.91 triliun atau turun sekitar Rp 7 triliun dari tahun 2015. Menhan Ryamizard Ryacudu pun merasa keberatan.

"Ini saja sudah kurang, masak dikurangi, gimana ceritanya?," ujar Menhan Ryamizard Ryacudu di Batalyon Infanteri Mekanis 201/Jaya Yudha di Cijantung, Jakarta Timur, Rabu (2/9/2015).

Namun menurut Menhan, pengurangan tersebut tak akan berdampak pada pengadaan alutsista. Pengadaan tersebut menurutnya sudah termasuk dalam batas tertinggi anggaran (pagu).

"Sudah ada pagunya kalau rencana sudah oke. Kalau resapan berjalan semua pasti akan berjalan dengan bagus," kata Ryamizard.

Keputusan untuk pengurangan anggaran kemiliteran dinilai mantan KSAD ini sebagai langkah yang kurang tepat. Pasalnya saat ini potensi bahaya, seperti konflik Laut China Selatan, juga disebutnya bisa masuk ke Indonesia sehingga memerlukan kekuatan pertahanan yang besar.

"Situasi sekarang kan tidak bagus. Laut China Selatan kan dekat kita, kita harus berjaga-jagalah. Nambah-nambah, daripada kita berdebar-debar terus kan. Walaupun mereka tembak-tembakan kan berdebar-debar juga," tuturnya.

Menhan menambahkan untuk audit alutsista sendiri telah diberikan kepada presiden. Saat ini yang harus dilakukan menurutnya adalah perawatan dari alutsista tersebut.

"Sudah diserahkan nggak ada masalah, yang penting perawatan," ujar jenderal purnawirawan itu.

Ryamizard pun menjelaskan, saat ini pihaknya telah memesan Sukhoi sebanyak 16 buah. Dan ia juga menjelaskan bahwa Indonesia akan membeli peluru untuk amunisi dari Tank Leopard.

"Sudah dianggarkan sebelumnya. Itu akan bertahap, tapi yang itu tadi yang kecil-kecil itu, kita punya Tank Leopard tapi nggak punya peluru itu beli. Kita punya Sukhoi, kita buat bom, itu buat juga," jelasnya.

"Kita sekaligus pesan (pesawat untuk) satu skadron, 16 buah. (Untuk Tank Scorpion) kita kasih ke batalyon yang bukan Kostrad," tutup Ryamizard. (yds/elz)

  detik  

Antisipasi Konflik Laut China Selatan

Menhan Perkuat Perbatasan Natuna http://1.bp.blogspot.com/-ySJujyOcjVg/VUNVPMgooFI/AAAAAAAAGhM/tOwzo-WuBBo/s1600/kcr60%2Bpal.jpgIlustrasi KCR 60M TNI AL ☆

Konflik Laut China Selatan yang melibatkan negara Tiongkok dan sejumlah negara yang berbatasan di Asia Pasifik masih terus berlanjut. Walau Indonesia tidak terlibat langsung dalam konflik, Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu menyebut perlu ada langkah antisipatif yang dilakukan Indonesia.

"Ya nanti bulan depan Natuna (makin diperkuat)," ungkap Ryamizard di usai meninjau Alutsista di Batalyon Infanteri Mekanis 201/Jaya Yudha di Cijantung, Jakarta Timur, Rabu (2/9/2015).

Menurut Ryamizard, ia telah mempersiapkan untuk meningkatkan kekuatan militer di tubuh TNI. Mulai dari peningkatan Landasan Udara di Natuna termasuk yang baru saja dilakukan peningkatan tipe Pangkalan AL (Lanal) menjadi Pangkalan Utama TNI AL (Lantamal) Pontianak.

Rencananya Lanud Ranai, Natuna, Kepri, akan ditingkatkan dari tipe C ke tipe B. Lanud ini sendiri merupakan salah satu daerah terdepan Indonesia yang menghadap Laut Cina Selatan.

"Landasan kita panjangin, 4 kapal kita tambahin. Pesawat-pesawat kita nanti ditambah," kata Ryamizard.

Berdasarkan informasi, landasan pacu diperpanjang dengan tujuan agar pesawat tempur kelas berat sepeti F-16 dapat mendarat di Lanud Ranai. Sejumlah pesawat tempur direncanakan akan ditempatkan di Lanud tersebut secara bergantian.

Sebelumnya KSAL Laksamana Ade Supandi menyebutkan peningkatan Lanal menjadi Lantamal di Pontianak dilakukan dalam upaya antisipasi konflik di Laut China Selatan. Itu dikatakannya saat acara peresmian.

"Kestabilan keamanan yang mesti dijaga di Laut China Selatan. Apalagi intensitas ancaman sengketa akhir-akhir ini di Laut China Selatan semakin meningkat," ucap Ade, Jumat (7/8). (elz/imk)

  detik  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...