Jumat, 18 April 2014

Sekilas Mengenai Tank di Asean

Kekuatan tank dipandang sebagai simbol kemampuan tempur bagi berbagai Angkatan Darat modern Tank Inggris -Mark I-, 26 September 1916 (tank bergerak dari kiri ke kanan). Photo by Ernest Brooks. – Wikipedia

Sejarah tank dimulai pada Perang Dunia I, ketika kendaraan tempur lapis baja segala medan pertama kali digunakan sebagai respon terhadap taktik perang parit, mengantarkan era baru perang mekanik.

Meskipun pada awalnya tidak dapat diandalkan, tank kemudian menjelma menjadi andalan pasukan angkatan darat. Pada Perang Dunia II, desain tank telah maju secara signifikan, dan tank yang digunakan dalam jumlah besar dalam berbagai theatre perang. Selama periode Perang Dingin terlihat munculnya doktrin tank modern dan munculnya tujuan umum Main Battle Tank (MBT). Tank masih menjadi tulang punggung untuk berbagai operasi pertempuran darat di abad ke-21.

Kekuatan tank masih dipandang sebagai simbol utama kemampuan tempur bagi berbagai Angkatan Darat modern. Pada tahun 2013, menurut globalfirepower.com, Russia masih merupakan negara dengan kekuatan tank terbesar dengan 15.500 unit, disusul oleh China dengan 9.150 unit dan Amerika Serikat dengan 8.325 unit.
MBT di Asia Tenggara Di wilayah Asia Tenggara, negara yang secara tradisional menjadi operator tank yang lebih berat dari 35 ton adalah negara-negara Asia Tenggara daratan seperti Vietnam, Thailand, Myanmar, Laos dan Kamboja. Sedangkan negara yang merupakan kepulauan seperti Philipina, Singapura, Malaysia dan Indonesia relatif baru (atau akan) memasukan MBT sebagai bagian dari kekuatan Angkatan Darat-nya.■ Vietnam Vietnam memiliki armada tank terbesar diantara negara Asia Tenggara dan merupakan pengguna lama dari seri T-54/55 era Soviet dan tank medium Type 59 China, dan beberapa unit diantaranya benar-benar merupakan tank veteran Perang Vietnam.

Dari sekitar 600-850 tank T-54/55 Vietnam, sekitar 310 diantaranya dimodernisasi dengan menggunakan teknologi Israel menjadi standar T-54/55M3 yang mencakup penggantiancanon 100mm Soviet dengan M68/L7 105mm, instalasi explosive reactive armor, peluncur granat asap, mesin baru 1.000 hp buatan Jerman, mortar 60mm dan teknologi meteo-sensor.

Ada laporan laporan rencana Vietnam membeli 150 unit T-72 MBT buatan Polandia, tetapi tidak terealisasi dan anggaran digunakan untuk membeli aset angkatan laut.
■ Laos Laos merupakan pengguna lama dari medium tank seri T-54/55 era Soviet. Negara ini memiliki sekitar 30 tank seri T-54/55 yang sebagian besar dimiliki  di  jaman perang Vietnam.■ Kamnboja Negara ini juga merupakan pengguna lama dari medium tank seri T-54/55 era Soviet, mengoperasikan sekitar 300 unit tank yang juga diperoleh selama era perang Vietnam.

Sejauh ini tidak diketahui ada programupgrade tank atau pembelian tank baru, kecuali berita transfer 50 unit bekas medium tank T-55 ke Kamboja dari Ukraina sewaktu terjadi ketegangan dengan Thailand dalam sengketa wilayah dan perebutan kuil.
■ Myanmar Myanmar adalah negara lainnya di wilayah Asia Tenggara mainland yang mempunyai kekuatan tank besar. Sebagian besar terdiri dari tank buatan Cina seperti T-59D yang dilaporkan berjumlah sekitar 150 unit yang telah digunakan selama beberapa dekade hingga sekarang.

MBT Type-69 dan Type-69-II dilaporkan berjumlah 130 unit yang telah beroperasi sejak tahun 1990, dan beberapa unit MBT-2000 Norinco buatan China yang didatangkan pada tahun 2011. Angkatan Darat Myanmar juga dilaporkan memiliki 139 unit tank T-72, beberapa diantaranya dibeli dari Ukraina pada tahun 2002-2003 meskipun jumlah pastinya tidak jelas akibat tidak adanya laporan akurat pengiriman.
■ Thailand Pemerintah Kerajaan Thailand mengoperasikan sekitar 100 unit medium tank M48 Patton buatan Amerika. Batch pertama diterima sejak tahun 1979, dan kemudian diperkuat oleh MBT M60A1 pada tahun 1991 dan M60A3 pada tahun 1996, jumlah total sekitar 170 unit tank. Semua tank tersebut merupakan tank eks US Army yang dijual ke Thailand melalui program FMS (Foreign Military Sales).

Kekuatan tank Angkatan Darat Thailand akan diperkuat oleh pembelian 49 unit MBT baru T-84 Oplot-M dari Ukraina senilai 7.155 miliar bath yang diumumkan tahun 2011. Thailand mempunyai opsi hingga 200 unit tank untuk menggantikan tank ringan M-41 Bulldog.

Ada kritik terhadap keputusan pemerintah memilih MBT Ukraina mengenai isu fitur auto-loader-nya, awak tank Angkatan Darat Thailand sendiri konon lebih menyukai tank buatan Korea Selatan.
■ Philipina Terakhir kali Philipina memiliki tank adalah sekitar akhir tahun 1940-an dengan dengan M4 Sherman eks US Army dan beberapa unit tank ringan M-41 Bulldogs yang diterima pada tahun 1965.

Max Montero dari maxdefense.blogspot.com menyampaikan informasi dari sumbernya yang mengatakan bahwa Philipina memang telah berencana memasukan kembali MBT menjadi bagian dari kekuatan Angkatan Darat mereka, hanya saja bukan merupakan prioritas utama jangka dekat dan baru akan dikejar dalam renstra ke dua atau ke tiga dari program modernisasi militer mereka.

Namun Angkatan Darat Philipina sedang berencana mendapatkan 114 unit M113A2 APC (armoured personnel carrier) eks US Army dan tracked APC dan IFV baru untuk menambah ACV-300 yang sebelumnya telah dibeli dari Turki.
Brunei Karena ukuran luas wilayah negara dan kebijaksanaan politiknya Brunei belum pernah mengoperasikan tank dan tidak terdengar adanya rencana mereka untuk membeli MBT ataupun medium tank.

Kondisi ini diproyeksikan akan tetap demikian hingga beberapa waktu ke depan.
■ Malaysia Federasi Malaysia mengoperasikan MBT pertama mereka dengan 48 unit PT-91M Twardy dari Polandia plus kendaraan pendukungnya (6 WZT-91M armored recovery vehicles, 5 MID-91M engineering tanks, 5 PMC-91M Leguan armored bridge layers, dan 1 SJ-09 driver training tank).

Unit pertama diterima pada tahun 2005 sebagai bagian dari kontrak senilai US$370 juta.

Tank tersebut di Malaysia secara lokal dijuluki sebagai ‘Pendekar’ dan dioperasikan oleh Resimen ke-11, Kor Armor DiRaja (Royal Armoured Corps).

Pembelian MBT antara Malaysia dan Polandia dilakukan melalui barter dengan CPO (minyak kelapa sawit) yang merupakan salah satu produk utama Malaysia.
■ SingapuraNegara pulau ini diyakini telah memiliki MBT Centurion buatan Inggris, khususnya 63 unit Mk.3 dan Mk.7 yang kabarnya diperoleh dari India pada tahun 1975 dan unit tambahan diperoleh dari Israel di awal tahun 1990-an. Konon semua ditingkatkan kemampuannya dengan teknologi Israel dan secara lokal kemudian dijuluki Tempest.

Tidak ada bukti kredibel mengenai keberadaan MBT tersebut dalam Angkatan Darat Singapura, tidak ada tersedia foto atau sumber terbuka yang kredibel untuk membuktikan keberadaanya kecuali melalui beberapa beberapa publikasi. Dan pemerintah Singapura juga mengambil sikap tidak menyangkal ataupun mengkonfirmasi keberadaan mereka.

Tapi saat ini desas desus tersebut sudah tidak relevan lagi mengingat bahwa kemudian secara terbuka Singapura membeli 66 unit MBT Leopard 2A4 eks Angkatan Darat Jerman ditambah beberapa tank cadangan, bersama dengan 10 unit ARV Bergepanzer 3 Buffel armored recovery vehicles pada sekitar tahun 2007-2008.

Sebagian besar tank di-upgrade ke standar Leopard 2SG dengan proteksi lapis baja modular canggih dari IBD Deisenroth Engineering dan ST Kinetics pada tahun 2010. Singapura dianggap negara yang paling punya kemampuan dalam hal kekuatan tank tempur di kawasan ASEAN, untuk saat ini.
■ Indonesia Indonesia belum pernah mengoperasikan MBT sebelumnya dan merupakan negara ASEAN paling akhir yang memutuskan memasukan MBT ke dalam kemampuan tempurnya. Walau pendatang baru, Indonesia bergabung dengan negara pengguna MBT lainnya di Asia Tenggara dengan pilihan gahar.

Kontrak dengan Jerman senilai US$280 juta mencakup 40 tank Leopard 2A4, 63 Leopard 2RI (upgrade/Revolution), 4 Buffel armored recovery vehicles, 3 Leguan armored bridge layers dan 3 Kodiak armored engineering vehicles, plus 50 Marder 1A2 infantry fighting vehicles.

Indonesia juga masih mengoperasikan sekitar 400 lebih tank ringan yang sebagian sudah mulai mendapat upgrade. Selain itu juga Indonesia berencana membangun tank medium dalam negeri lewat kerjasama internasional dengan berbagai negara.

 ★ JKGR  

Moeldoko Keluhkan Pasokan Alutsista

Jenderal TNI MoeldokoJakarta Peningkatan stabilitas keamanan nasional dalam rangka mendorong lebih kondusifnya iklim investasi di dalam negeri oleh TNI ternyata masih mengalami berbagai kendala.

Panglima TNI Moeldoko, mengungkapkan pengawasan keamanan perbatasan NKRI masih terkendala ketersediaan alat utama sistem persenjataan (Alutsista). Mengingat begitu panjangnya garis pantai perbatasan negara yang harus dijaga TNI.

"Begini, keluasan wilayah dan panjangannya garis pantai itu juga tidak mudah bagi TNI untuk mengawasi, karena keterbatasan alutsista," tuturnya ketika ditemui di Hotel Four Season, Jakarta, Rabu (16/4/2014).

Moeldoko berharap, semua negara bisa lebih saling menghargai dan mengamati batas wilayah antar negara. Sehingga, stabilitas keamanan di kawasan terjamin.

"Kita minta rasa saling menghormati atas teritorial negara masing-masing. Itu yang lebih bagus," pungkasnya.

Seperti diketahui, kelanjutan nasib tambahan anggaran alat utama sistem persenjataan (alutsista) telah menemukan kejelasan. Usulan tambahan anggaran yang mencapai Rp27 triliun itu akhirnya diputuskan pemerintah untuk tidak dicairkan mengingat ruang dalam APBN 2014 tidak mencukupi. (trk)


  ♞ Okezone  

Kamis, 17 April 2014

North Sea Boats (PT. Lundin) and SAAB working on an improved 63m FMPV Trimaran

Radar higher up in the mast for better radar coverage and less limitation At DSA 2014, the 14th Defence Services Asia Exhibition and Conference currently held in Kuala Lumpur (Malaysia), Indonesian shipyard North Sea Boats (PT. Lundin) and Saab are showing an updated model of the 63m FMPV Trimaran design ordered by the Indonesian navy. At DSA 2014, the 14th Defence Services Asia Exhibition and Conference currently held in Kuala Lumpur (Malaysia), Indonesian shipyard North Sea Boats (PT. Lundin) and SAAB are showing an updated model of the 63m FMPV Trimaran design ordered by the Indonesian Navy.

Talking to Navy Recognition during DSA 2014, a SAAB representative explained that the Swedish company is planning to fit its new Sea Giraffe 1X 3D radar higher up in the mast for better radar coverage and less limitation because of the curvature of the Earth. This is possible because the new radar is only 150 kilograms. This explains the quite unique shape of the newly designed mast onboard the FMPV (Fast Missile Patrol Vessel) Trimaran. The mast would integrate the radar, the ESM and the communication systems.

Following the accidental destruction of the first-of-class ship KRI Klewang shortly after its launch in 2012, SAAB and North Sea Boats have now signed a partnership for the project. SAAB is planning to offer this turnkey solution to both TNI AL (Indonesian Navy) and for export under the name "Stealth FAC" (Stealth Fast Attack Craft).

According to the SAAB representative, the new FMPV Trimaran would be fitted with
> 4x RBS15 Mk3 anti-ship missiles
> 1x BAE Systems 40Mk4 gun under a stealth cupola
> A stern ramp to deploy a 12 meters RIB
> SAAB's 9LV combat management system
> SAAB's Ceros 200 radar and optronic tracking system
> SAAB's TactiCall Integrated Communications System

The original class (KRI Klewang) was supposed to be fitted with mostly Chinese weapons and systems. PT Lundin representatives at DSA 2014 told Navy Recognition that officially, the Indonesian Navy is still evaluating which weapons and sensors should be fitted onboard the updated Trimaran design.

RBS15 Mk3 is a fire-and-forget, subsonic cruise type missile with all weather capability with a range in excess of 200 Km.

Construction of a new 63m FMPV Trimaran started in February 2014 at the North Sea Boats facility in Indonesia. The newly designed ship should be launched 24 months from now. According to SAAB, a future version may be fitted with an anti-submarine warfare suite (weapons + sensors).

According to a BAE Systems Bofors representative at DSA 2014, this could be the first export case for the new 40Mk4 naval gun system, even though the company is in discussion with other countries as we speak.

We learned that the current order from TNI AL is for 4 vessels, but overall close to 30 units could ultimately be produced for TNI AL alone.

At DSA 2014, the 14th Defence Services Asia Exhibition and Conference currently held in Kuala Lumpur (Malaysia), Indonesian shipyard North Sea Boats (PT. Lundin) and Saab are showing an updated model of the 63m FMPV Trimaran design ordered by the Indonesian navy.

Video Saab Sea Giraffe :


  ★ Navyrecognition  

Indonesia’s Air Force Chief of Staff visits Hill

First Four F-16C Regeneration will be Delivered to Indonesia in July 2014 ALEX R. LLOYD/U.S. Air Force
Air Chief Marshal Ida Bagus Putu Dunia, Indonesia’s Air Force Chief of Staff, sits in the cockpit of the first F-16 aircraft of a much larger foreign military sales case. Puta Dunia visited Hill Air Force Base April 4-5 to tour the F-16 production line where 13 Indonesia F-16C and D models are currently in various stages of repair and upgrade.April 4-5, Air Chief Marshal Ida Bagus Putu Dunia visited Hill Air Force Base to receive a program status briefing from the F-16 International Branch and a Depot Production Line status briefing from 573rd Aircraft Maintenance Squadron.

Putu Dunia was able to tour the F-16 production line where 13 Indonesia F-16C and D models are currently in various stages of repair and upgrade.

He expressed his appreciation to the men and women in the U.S. Air Force and especially those actively working the regeneration program. The aircraft were recently shipped to the depot from long-term storage at the 309th Aerospace Maintenance and Regeneration Group at Davis Monthan AFB, Ariz.

During his visit, Puta Dunia observed the enormous quantity of work being accomplished to complete new cockpit wiring, Falcon Star structural modifications, bulkhead inspections and repairs, and avionics upgrades.

He also met with senior officials from the F-16 System Program Office and Ogden Air Logistics Complex.

Team Hill’s leadership assured Putu Dunia of the commitment to the program to deliver high-quality aircraft to the government of Indonesia.

The first F-16 Indonesia C model aircraft is expected to begin ground and flight tests April 14-18 to enable the first ferry cell flight of four aircraft to Indonesia in July 2014. This is a major milestone in the program.

  ★ Hilltoptimes  

[World News] Malaysia Interested in the Russian Missile Systems Club-K and Club-M

Club M, long-range supersonic anti-ship missiles complex, range over 300 km http://3.bp.blogspot.com/-ljb9okjfOgA/U0_JsDzP_YI/AAAAAAAAd0w/tg1Yy2cI5-4/s280/m02011112000002.jpgKuala Lumpur  Malaysia and Brunei keen interest in the Russian missile systems "Club", Maria Vorobyov spokesman of  "Kontsern-Morinformsystem-Agat" (manufacturer of these missile complexes) reported to ITAR-TASS  at international arms forum "DSA-2014".

"Negotiations with the Chief of the Armed Forces of Malaysia Mohd Zulkifli Bin Zine and Commander of the Navy of the country Abdul Aziz bin Jaafar. We discussed the possibility of delivery in Malaysia complexes "Club-K" for the Army and the "Club-M" for the defense of the coastline" - she said.

Negotiations, added spokesman, held with the participation of technical experts and representatives of Rosoboronexport concern, in one of the rounds brother attended the King of Malaysia Tunku Annuar. "He was also demonstrated the capabilities of our systems in terms of tactical goals to protect the coastline and strengthen the defense of the state as a whole", - said Vorobyov.

Brunei

In turn, the Chief of Naval Forces, invited the delegation of Brunei "Morinformsystem-Agat" to visit the country for a full-fledged presentation missiles and negotiations on cooperation, continued the spokesman.

"First Admiral Abdul Halim visited the stand of our group was interested in our products," - she said. According to her, of particular interest to senior military showed onshore "Club-M".

  ★ Itar Tass  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...