Selasa, 23 Desember 2014

5 Hercules TNI AU siap jemput 1.000 TKI ilegal di Malaysia

Hercules TNI AU. ©2014 merdeka.com/abdullah sani

Lima pesawat Hercules milik TNI Angkatan Udara, tiba di Pangkalan Udara (Lanud) Roesmin Nurjadin Pekanbaru, Senin (22/12) sekitar pukul 16.15 WIB. Selanjutnya pesawat tersebut akan berangkat menuju Negeri Jiran, Malaysia, untuk menjemput pulang para Tenaga Kerja Indonesia (TKI).

Komandan Misi Penjemputan TKI, Letkol (Pnb) Purwanto mengatakan, dengan pesawat Hercules ini, akan dimaksimalkan kapasitas yang ada.

"Hercules yang panjang bisa mengangkut 128 orang, sementara yang Hercules yang pendek mencapai 92 orang. Jadi totalnya bisa memuat 553 orang TKI," ujar Purwanto.
Pesawat Hercules berwarna loreng ini secara bertahap tiba di Lanud Roesmin Nurjadin Pekanbaru akan bermalam di Pekanbaru beserta para awaknya, sebelum bertolak ke Malaysia pada Selasa (23/12) pukul 09.45 WIB besok.

"Misi dukungan ke Malaysia untuk menjemput TKI akan berkoordinasi dengan Atase dan KBRI di Malaysia yang akan membantu pengurusan TKI yang akan dipulangkan," jelasnya.

Perlu diketahui, pemerintah Indonesia akan menjemput TKI yang ditangkap Kepolisian Diraja Malaysia karena masuk secara ilegal. Rencananya ada sekitar 1.000 orang TKI yang akan dijemput di Malaysia.[hhw]

  ★ Merdeka  

[World] Kabar Angkatan Bersenjata Rusia Selama Tahun 2014

Kepala Staf Jenderal Rusia Valeriy Gerasimov telah membuat beberapa pengumuman penting dalam pertemuannya dengan para perwakilan Atase Pertahanan Asing, Kamis (11/12) lalu. Dalam setahun, tentara Rusia telah mendapatkan 38 rudal balistik antarbenua, lebih dari 250 unit kendaraan udara, 180 kendaraan tempur lapis baja, dan lebih dari lima ribu mobil perang. Foto: Sergey Bobylev/TASS

Tentu Gerasimov tidak membeberkan rahasia-rahasia besar mengenai angkatan bersenjata Rusia kepada pihak asing tersebut, namun para atase pertahanan itu telah mendapat gambaran mengenai pandangan pemimpin Kementerian Pertahanan Rusia terkait modernisasi angkatan bersenjata Rusia dan keputusan yang telah diakreditasi di Moskow terkait isu-isu internasional saat ini.

Gerasimov secara khusus mengatakan bahwa Rusia telah menyusun model pendidikan tentara yang baru untuk meningkatkan kualitas persiapan militer dalam angkatan bersenjata Rusia. Inti model tersebut terdiri dari empat pusat pelatihan militer dan empat markas uji coba distrik militer.

Sehubungan dengan pengaturan organisasi militer negara, tugas tersebut kini diselesaikan dengan bantuan dari Pusat Pengendalian Pertahanan Nasional. Di dalam pusat tersebut terdapat sistem pergantian giliran militer yang memungkinkan untuk mempersiapkan usulan berdasar dan terukur yang komprehensif bagi pengambilan keputusan pemimpin Rusia.

 Modernisasi Angkatan Bersenjata 

“Dalam setahun, tentara Rusia telah mendapatkan 38 rudal balistik antarbenua, lebih dari 250 unit kendaraan udara, 180 kendaraan tempur lapis baja, dan lebih dari lima ribu mobil perang. Empat resimen pertahanan udara telah mendapatkan sejumlah sistem peluncur rudal modern dalam persenjataannya. Dua brigade telah dipersenjatai dengan kompleks peluncur rudal taktis Iskander-M,” terang Gerasimov.

Ia juga membuka informasi seputar pasokan senjata untuk Angkatan Laut Rusia di tahun 2014. Senjata tersebut berupa kapal selam nuklir dengan rudal jelajah Severodvinsk, kapal selam kelas berat Novorossiysk, dua kapal roket kecil Gvard Sviyazhsk dan Uglich, tiga kapal pendarat, serta satu kapal patroli.

Gerasimov melaporkan bahwa Kementerian Pertahanan Rusia berencana untuk membeli 70-100 unit pesawat, lebih dari 120 unit helikopter, 30 kapal perang, kapal selam, kapal khusus, kapal pendukung, serta 600 unit tank lapis baja tiap tahunnya.

 Pandangan Terkait Konflik Ukraina 

Dalam pidatonya, Gerasimov kerap menyinggung mengenai sikap Rusia terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi di “titik-titik panas” dunia. Kepala staf jenderal Rusia itu secara khusus memasukan Suriah, Afganistan, dan Ukraina ke dalam titik tersebut.

Menurut Gerasimov, pengguliran tesis mengenai “Rusia tak bersahabat” dengan latar belakang kejadian di Ukraina membuat NATO memiliki alasan politik untuk mendekatkan infrastruktur militer miliknya ke perbatasan Rusia.

Sang Jenderal pun mengatakan bahwa di Barat, Rusia digambarkan sebagai pihak yang bersalah secara langsung atas kejadian tragis di Ukraina dan merupakan “agresor terbuka”. “Kami secara khusus menghitung seberapa banyak pasukan Rusia yang seakan-akan ditempatkan di daerah Donbass tersebut berdasarkan pernyataaan-pernyataan provokatif seperti itu. Berdasarkan perhitungan paling minimum saja, terdapat 8.500 tank dan kendaraan lapis baja, sekitar 1.200 senjata artileri dan 1.900 peluncur roket reaktif milik Rusia di sana,” kata Gerasimov.

Terkait hal itu, Gerasimov membandingkan luas wilayah keseluruhan Lugansk dan Donetsk dengan luas Moskovskaya Oblast, Rusia. Sambil mengutarakan hal tersebut kepada para atase pertahanan layaknya para profesional di bidang militer, ia mengatakan, “Anda semua memahami dengan baik bahwa menyembunyikan kelompok bersenjata sebesar itu dalam wilayah yang relatif sempit, yang dipenuhi para wartawan Barat dan perwakilan OSCE, adalah sebuah hal yang tidak mungkin, bahkan dalam hipotesa sekalipun,” kata Gerasimov.

Namun, ia mengakui bahwa memang terdapat instansi militer Rusia di Ukraina. Berdasarkan permintaan dari Staf Jenderal Rusia, di pedesaan Debaltsevo saat ini terdapat perwakilan angkatan bersenjata Rusia yang dikepalai oleh Letnan Jendral Aleksander Lentsov.

 Komando Wilayah Arktik 

Sang kepala staf jenderal mengingatkan bahwa sejak Senin (1/12), Rusia telah mengkatifkan komando strategis gabungan di sektor Arktik Rusia, yang berfungsi untuk melindungi kepentingan nasional Rusia di wilayah tersebut. Komando ini dibentuk dari Armada Laut Utara Rusia. Selain dari Armada Laut Utara, brigade Arktik tersebut juga akan diisi oleh pasukan gabungan angkatan udara dan darat Rusia, serta satuan pertahanan udara.

  ★ RBTH  

Kisah peluru tembus helm baja prajurit TNI

Letnan (Purn) Supardi. ©2014 merdeka.com/ramadhian fadillah

Para prajurit TNI yang bertempur di medan perang punya sebuah kepercayaan. Jangan pernah merampas apa yang bukan hak mereka. Jangan mengambil barang apapun milik rakyat jika tak mau bernasib sial.

Letnan (Purn) Supardi (84), masih mengingat jelas pengalamannya bertempur dari satu palagan ke palagan lain. Dia berjuang sejak tahun 1945. Ikut mempertahankan kemerdekaan dari gangguan Sekutu dan Belanda. Lalu Supardi pun ikut menumpas aneka petualangan bersenjata di awal berdirinya republik ini.

Salah satu medan pertempuran terberat adalah saat menumpas pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS) tahun 1950. Saat dikirim ke Ambon, Supardi masih berpangkat prajurit. Dia anggota Batalyon Corps Tjadangan Umum Markas Besar Angkatan Darat.

Di sana, Pasukan Ekspedisi pemerintah RI harus menghadapi sisa-sisa pasukan komando Belanda. Pasukan Baret Hijau alias Speciale Troepen ini dikenal sebagai jago perang gerilya. Mereka juga dikenal sebagai penembak jitu.

"Mereka satu peluru itu satu nyawa. Kalau ada korban di pihak kita itu pasti kena kepala, atau kena dada. Sedangkan kalau korban dari pihak mereka pasti karena berondongan peluru," kenang Supardi saat berbincang dengan merdeka.com di Museum Perdjoangan Bogor, Kamis (18/12).

Beberapa kali pasukan TNI juga harus melakukan raid amfibi dari laut. Begitu mendekat ke pantai, RMS sudah siap menembaki mereka. Posisi RMS pun menguntungkan karena menggunakan kubu-kubu pertahanan bekas tentara Jepang di Pantai.

Butuh perjuangan keras sampai akhirnya seluruh Maluku bisa dikuasai para prajurit TNI.

Tapi pengalaman yang paling menggetarkan adalah saat dia melihat teman-temannya yang tewas tertembak. Banyak di antara mereka ternyata menyimpan barang rampasan.

"Ada yang tertembak di dada. Pas diperiksa ada uang di sakunya. Uang RMS. Itu uang dari mana? Ada emas juga,"

"Ada juga yang bisa peluru sampai tembus ke helm baja. Itu bagaimana peluru bisa menembus helm? Pas di periksa, eh di dalam helm dia sembunyikan emas rupanya," kata Supardi sambil geleng-geleng prihatin.

Menurutnya hal-hal semacam ini tabu dilakukan prajurit yang bertempur. Ini yang bisa menyebabkan prajurit celaka.

Prinsip ini biasanya dipegang teguh para prajurit yang berada di tengah pertempuran. Contohlah Mayor Kawilarang yang tak mau mengambil guci berisi permata peninggalan Jepang di Bogor.

Atau Letnan Benny Moerdani yang tak mau menyentuh uang satu peti yang ditemukan saat menumpas PRRI di Sumatera. Ada juga Komandan Polisi Istimewa M Jasin yang tak tergiur emas dan permata empat besek saat menumpas petualangan Mayor Sabaruddin.

Mereka sadar tak ada emas senilai nyawa dan tugas prajurit adalah bertempur, bukan mencuri yang bukan hak mereka.

  ★ Merdeka  

[World] AS kirim 10 helikopter Apache ke Mesir

http://img.antaranews.com/new/2012/02/ori/20120210HeliApache-001.jpgHelikopter Apache. (REUTERS)

Amerika Serikat (AS) telah mengirim 10 helikopter Apache ke Mesir dalam beberapa pekan belakangan ini setelah mencabut sebagian dari pembekuan bantuan untuk negara Afrika Utara, kata seorang pejabat AS pada Sabtu (20/12).

Seperti dilansir kantor berita AFP, Menteri Luar Negeri John Kerry telah berjanji kepada pemimpin baru Mesir bahwa pesawat-pesawat yang akan digunakan untuk operasi-operasi kontra-terorisme di semenanjung Sinai akan segera dikirim.

"Mereka sudah ada di sana beberapa pekan lalu," kata seorang pejabat senior Amerika Serikat tentang pengiriman pesawat-pesawat itu.(Uu.H-RN)

  Antara  

Senin, 22 Desember 2014

[World] Tanggapi Sanksi Barat, Industri Pertahanan Rusia Ubah Kiblat Bisnis

Seberapa besar harga yang harus dibayar oleh industri pertahanan Rusia atas pemberlakuan sanksi Barat terhadap Rusia? http://nl.media.rbth.ru/web/id-rbth/images/2014-12/big/TASS_1244903_468.jpgBerdasarkan data dari perusahaan milik negara Ronoboronexport, pembelian senjata siap pakai dari Barat tidak lebih dari satu persen dan pemberhentian pembelian tersebut tak akan memberikan pukulan terhadap kemampuan pertahanan Rusia. Foto: Vladimir Astapkovitch/RIA Novosti

"Keputusan untuk membeli kapal induk pengangkut helikopter Mistral asal Prancis adalah sebuah kesalahan dari pemimpin Kementerian Pertahanan Rusia sebelumnya,” kata Wakil Perdana Menteri Rusia Dmitry Rogozin, Kamis (4/12). Sanksi dari Eropa telah mengecewakan pemerintah Rusia, dan kini kerja sama teknologi militer dengan negara-negara Eropa sudah tak terlalu menarik lagi bagi Rusia.

Pada akhir Juli lalu, ketika Uni Eropa baru saja mengeluarkan kebijakan embargo impor dan ekspor senjata serta teknologi militer terhadap Rusia, RBTH telah mengamati semua sektor bisnis dan proyek yang akan terkena imbas dari kebijakan tersebut. Bersamaan kebijakan embargo itu, Uni Eropa juga memberlakukan larangan pemberian kredit pada tiga konsorsium bidang pertahanan terbesar di Rusia (Uralvagonzavod, Oboronprom, dan Obyedinyonnaya Aviastroitelnaya Korporatsiya), sanksi terhadap sembilan konsorsium penting bidang pertahanan Rusia, serta sanksi terkait kontrak pengadaan kapal induk Mistral.

Menjelang akhir tahun, kami merangkum apa saja harga yang harus dibayar oleh industri pertahanan Rusia atas pemberlakuan sanksi dari Barat.

 Pembatalan Kontrak 

Pada September lalu, Kementerian Pertahanan Rusia mengumumkan bahwa pemerintah Rusia tak memiliki kekhawatiran terhadap sanksi-sanksi yang diterapkan dari Barat. Pihak kementerian menyebutkan bahwa sanksi tersebut justru akan merugikan negara lain yang membeli teknologi Rusia dengan menggunakan komponen buatan luar negeri. Terkait hal itu, Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan bahwa industri pertahanan Rusia harus bisa mandiri dengan menciptakan sendiri peralatan, komponen, bahan baku yang penting dan kritis, serta memiliki kapasitas, teknologi, dan suku cadang teknis yang memadai.

Berdasarkan data dari perusahaan milik negara Ronoboronexport, pembelian senjata siap pakai dari Barat tidak lebih dari satu persen dan pemberhentian pembelian tersebut tak akan memberikan pukulan terhadap kemampuan pertahanan Rusia.

Sanksi tersebut juga tak bisa bersifat retroaktif, atau diberlakukan terhadap perjanjian yang sudah ditentukan. Namun, hal itu yang terjadi dengan pembelian kapal Mistral. Hal yang sama juga mungkin dapat terjadi pada kontrak pembelian teknologi pencitraan termal milik Prancis Thales Catherine-FC dan Sagem Matiz, yang digunakan untuk pembuatan alat penguncian sasaran pada kendaraan lapis baja Rusia. Akan tetapi, saat ini belum ada laporan pembatalan terkait kontrak selain Mistral.

Rusia memiliki ketergantungan impor seratus persen terhadap unit turbin gas untuk kapal kelas frigat, corvette, dan kapal-kapal perang lain. Namun, industri pembuatan kapal dalam negeri kini sudah beralih ke produk buatan perusahaan Saturn dan reduktor di pabrik Zvesda. Selain itu, kemungkinan akan muncul masalah terkait kontrak komponen elektronik. Namun, Rusia bisa mengganti penyedia komponen tersebut dengan mitra lain, terlebih lagi mitra-mitra Barat sudah tak pernah mengirimkan komponen elektronik untuk bidang militer dan luar angkasa ke Rusia.

Sementara itu, isu dengan negara pihak ketiga dapat diselesaikan berkat adanya hubungan kerja sama perusahaan-perusahaan Eropa dengan Rusia untuk melengkapi komponen pada peralatan dan teknologi tersebut.

 Subtitusi Impor 

Wakil Menteri Perdagangan dan Industri Rusia Sergey Tsyb menjabarkan data dari hasil analisa terkait sektor industri paling potensial dari sudut pandang kebijakan subtitusi impor. Di bidang industri permesinan, jumlah impor mencapai lebih dari 90 persen, industri alat berat mencapai 60-80 persen, sementara di industri radio elektronik mencapai lebih dari 80-90 persen.

Peralihan hubungan kerja sama militer dari Barat sudah dimulai sebelum terjadinya konflik Ukraina. Sejak 2012, instansi militer Rusia sudah tidak membuat kontrak penyediaan produk-produk senjata dan militer Eropa yang baru. Pada Agustus 2013, undang-undang Rusia melarang penggunaan komponen dari negara lain jika barang tersebut sudah tersedia di Rusia. Hal ini bertujuan menghidupkan kembali industri permesinan Soviet yang telah hancur dan meningkatkan barang dagang buatan Rusia yang siap berkompetisi hingga sepertiga dari seluruh kebutuhan industri.

Kebijakan subtitusi impor yang diterapkan oleh Kementerian Perdagangan dan Industri Rusia sejak 25 Juli 2014 menawarkan subtitusi barang impor dari Ukraina dan produk dari negara lain, yang masuk dalam daftar embargo ke Rusia, dengan produk serupa buatan Rusia. Rencananya, Rusia akan memperluas hubungan kerja sama dengan negara-negara anggota Eurasian Customs Union, Belarusia, dan Kazakhstan.

Kementerian Perdagangan dan Industri Federasi Rusia Denis Manturov menilai bahwa kebijakan subtitusi impor ini dapat membuat para pelaku industri Rusia mampu mengumpulkan omzet produksi total hingga lebih dari 30 miliar rubel per tahun mulai 2015.

  RBTH  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...