Kamis, 11 Februari 2016

Indonesian Navy Orders MAN Engine for Training Ship

KRI Bima SuciGraphical representations of the Kri Bima Suci (Image: MAN Diesel & Turbo)

MAN Diesel & Turbo has received an order for an MAN 6L21/31 engine to power a newbuilding cadet training sailing ship for the Defence Ministry of the Republic of Indonesia. The engine will be used to power the 110-meter Kri Bima Suci and up to 200 persons on board when not propelled by sail power. The ship is currently under construction at the Freire Shipyard in Vigo, Spain.

Lex Nijsen – Head of Four-Stroke Marine – MAN Diesel & Turbo, said, “We’re very happy to have won this unusual order, unusual in the sense that orders anywhere in the world for the building of such a large sailing vessel of 100 meters and over are few and far between.”

He continued, “In this particular case, we enjoy a long and fruitful relationship with the Indonesian Navy, which already uses MAN engine types in its fleet, and – in this respect – an MAN engine was the natural choice for such a fine vessel. I also feel that fulfilling the demands for such an unusual application bears testament to the strength of our medium-speed program.”

MAN Diesel & Turbo has prior experience with sailing ship orders and has previously re-engined the 113-meter Esmeralda, a four-mast barquentine, for the Chilean Navy. Similarly, in 2006, the company re-engined the 104-meter Fregata Libertad for the Argentinean Navy.

Such tall ships often have a dual purpose where, besides training new recruits, they are often used in courtesy visits to other countries as, by nature, their presence can be viewed as more diplomatic than that of a modern, naval vessel.

The company noted it has had many dealings with the Indonesian Navy in the past and recently signed a contract for the delivery of MAN 20V28/33D STC engines for two frigates due to enter service in 2017. These engines represent a generation change within the Indonesian fleet that has been powered for many years by MAN Diesel & Turbo 28/33D and Pielstick-branded engines.

As with the 20V28/33D STC engines, the new 6L21/31 engine will also be built by MAN Diesel & Turbo.
 

  marinelink  

Indonesia Tolak Permintaan Rusia Ekstradisi Warganya

Belum Ada Kesepakatan Indonesia menolak permintaan ekstradisi dari pemerintah Rusia. Demikian hal tersebut dilaporkan Tempo.co, mengutip pernyataan Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Luhut Binsar Panjaitan. Permintaan tersebut disampaikan Rusia melalui Sekretaris Dewan Keamanan Rusia Nikolai Patrushev dalam pertemuannya dengan Presiden RI Joko Widodo di Jakarta.

"Saat ini, ada enam orang Rusia yang ditahan di Indonesia. Salah satunya, gembong narkoba. Rusia minta keenam orang ini diekstradisi, tapi secara hukum, Indonesia tidak bisa mengekstradisi mereka," kata Luhut di Kompleks Istana, Rabu (10/2).

Sebagaimana yang dilaporkan Tempo.co, pemerintah, menurut Luhut, tidak bisa memenuhi permintaan ekstradisi karena Indonesia tidak memiliki perjanjian terkait dengan Rusia. Namun demikian, Indonesia bersedia memberikan informasi mengenai warga Rusia yang ditangkap di Indonesia.

Ekstradisi Perlu MLA

Menanggap hal ini, Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Yasonna Laoly mengatakan ekstradisi bisa terjadi jika Indonesia sudah membuat perjanjian "Mutual Legal Asisstance" (MLA). Menurut sang menteri, Rusia sudah menyerahkan rancangan MLA dan akan dibahas oleh pemerintah Indonesia.

Yasonna mengatakan tingkatan ekstradisi harus didahului dengan penandatanganan nota kesepahaman. Setelah itu, barulah akan diadakan pembahasan perjanjian kerja sama dan penandanganan traktat mengenai ekstradisi.

Opsi lainnya, menurut Yasonna, adalah pelaksanaan hukuman di Rusia. Namun, mekanisme ini baru bisa dilakukan jika Indonesia sudah memiliki undang-undang transfer hukuman. "Hal semacam itu juga pernah diminta Iran dan Australia. Namun, yang seperti ini belum ada di undang-undang kita," kata sang menteri.

Patrushev bertolak ke Jakarta pada Selasa (9/2) untuk membahas mengenai sejumlah hal dalam lingkup militer, penanganan terorisme, intelijen, siber, narkoba, dan hukum.

Setelah dari Jakarta, hari ini, Rabu (10/2), Patrushev akan melanjutkan kunjungannya ke Thailand untuk menghadiri konsultasi ahli di Bangkok dalam rangka kerja sama antara aparat dari Dewan Keamanan Rusia dan Dewan Keamanan Nasional Thailand.

  ★ RBTH  

Kapal Patroli Bakamla Dilengkapi Kemampuan Tempur

Ada enam kapal yang dipasang alat utama sistem persenjataanKN 4806 Bakamla

Badan Keamanan Laut (Bakamla) terus memperkuat kemampuannya dalam menjaga kedaulatan wilayah perairan Indonesia. Salah satunya dengan melengkapi landasan peluncur peluru kendali dan senjata kaliber 12,7 mm pada kapalnya.

Pelaksana tugas Sekretaris Utama (Sestama) Bakamla Laksama Pertama Maritim, Dicky R Munaf mengatakan, ada enam kapal yang dipasang alat utama sistem persenjataan (alutsista) dan landasan peluncur peluru kendali. Enam kapal itu kata dia, seri 48 mulai dari 01-06.

"Di kapal juga kita siapkan landasan peluncur peluru kendali, kalau dalam kondisi perang bisa digunakan, karena kita bagian dari komponen cadangan," ujar Dicky, Jakarta, Rabu (10/2/2016).

Dia menjelaskan, penempatan alutsista di kapal Bakamla sudah sesuai aturan dari Menteri Pertahanan (Menhan) Nomor 7 Tahun 2010 tentang pedoman perizinan, pengawasan dan pengendalian senjata api standar militer di luar lingkungan Kementerian Pertahanan dan TNI.

"Karena kita masuk kategori komponen cadangan. Memang disiapkan jika terjadi perang. Makanya kita ada latihan nuklir, tembak dan SAR," jelasnya.

Dia menambahkan, dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2015-2019 Bakamla menargetkan memiliki 30 kapal. Rinciannya, kapal berukuran 16 meter sebanyak 14 unit. Kapal ukuran 80 meter sebanyak 10 unit dan kapal 110 meter sebanyak empat unit. "Saat ini kami baru memiliki enam kapal, sisanya masih dalam proses pengadaan," tandasnya.

Menurutnya, pengadaan kapal berukuran besar penting, karena ada kecenderungan kapal-kapal asing melakukan illegal fishing dengan melakukan aksi di garis perbatasan. Sementara, kapal milik TNI AL yang beroperasi masih terbatas.

"Kalau di perairan di bawah 24 NM sudah ada kapal-kapal dari lembaga dan instansi lain. Cuma perairan di atas itu masih sedikit kapal yang patroli," ucapnya.

Adanya kapal berukuran besar di periran Selatan Jawa dan Barat Sumatera, kata dia yang selama ini kurang mendapat pengawasan akan diawasi. "Kita perkuat di sana, kita harus ada di sana. Di perairan ini banyak aksi people smuggling, banyak kejadian di utara Aceh tapi nggak mungkin sampai ke sana harus kapal berukuran 110 meter," ucapnya.
 

  sindonews  

[Dunia] Kastaf Militer Korut Dieksekusi Mati

Jenderal Ri saat memberikan sambutan Agustus 2014 lalu. (SkyNews)

Kepala Angkatan Bersenjata Korea Utara Jenderal Ri Yong Gil dieksekusi mati, atas perintah pimpinan tertinggi Korea Utara Kim Jong-Un.

Jenderal Ri Yong-Gil yang menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Bersenjata Republik Korea, dieksekusi pekan lalu, setelah dituduh melakukan korupsi dan memperkaya diri, demikian diberitakan kantor berita Yonhap, Rabu 10 Februari 2016.

"Ri Yong-Gil dikenal sebagai orang yang teguh pada prinsipnya, jadi apa yang dituduhkan oleh Korea Utara hanyalah pembenaran untuk eksekusi matinya,” demikian seorang sumer yang dikutip Yonhap.

Waktu hukuman mati yang dikenakan pada sang jenderal diperkirakan berbarengan dengan saat-saat Presiden Korut Kim Jong Un mengepalai pertemuan antara partai berkuasa di Korut, Partai Pekerja dan pihak militer. Jika berita ini benar, hukuman mati terhadap Jenderal Ri dilakukan kurang dari setahun dieksekusinya menteri pertahanan Korut.

"Ini memperlihatkan Kim Jong-Un sangat ketakutan dengan angkatan bersenjata,” ujar sang sumber tadi. “Ini juga menunjukkan berlanjutnya pemerintahan teror yang ia pimpin,” lanjutnya.

Sang sumber memperkirakan, penyebab Jenderal Ri dihukum mati adalah keberatannya atas penunjukkan sejumlah pimpinan partai di posisi kunci militer.

Jenderal Ri ditunjuk sebagai Kepala Staf militer Korut pada tahun 2013 oleh Kim.
 

  Berita Satu  

[RIP] Pesawat Militer Myanmar Jatuh

4 Tewas dan 1 Luka-Luka
Empat personil militer Myanmar tewas dan satu terluka parah setelah sebuah pesawat baling-baling angkatan udara kecil jatuh tidak lama setelah lepas landas di ibukota Naypyidaw hari ini (10 Februari).

Pesawat penumpang The Beechcraft, yang membawa lima awak dan sedang melakukan patroli rutin, jatuh di sebuah lapangan dekat bandara. Ratusan orang berkumpul di lokasi kejadian, sementara para petugas berlari untuk memadamkan api dan berusaha menyelamatkan para korban melalui puing-puing pesawat yang masih terbakar.

Kementerian Informasi Myanmar mengatakan bahwa wakil kopral menjadi satu-satunya orang yang tetap bertahan dari kelima kru kapal tersebut. Korban luka tersebut dibawa ke rumah sakit militer dan api pesawat dipadamkan dengan tiga truk pemadam kebakaran.

Dalam laman facebooknya, Kementerian Informasi Myanmar menerbitkan serangkaian gambar dari sisa-sisa pesawat yang menunjukkan hanya satu sayap utuh dan aliran asap tebal membubung ke udara. Menurut salah seorang pejabat bandara yang meminta untuk tidak disebutkan namanya, pesawat militer itu terbakar setelah meninggalkan landasan pacu. Hingga saat ini, belum ada satu pun pihak militer Myanmar yang bisa memberikan komentar atas kejadian tersebut. [AFP]

  ★ jakarta greater  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...