Senin, 04 Mei 2015

[World] China's pirate patrol submarine is too noisy, say naval experts

nuclear submarines China. [SMP]

China's recent deployment of a nuclear submarine for an antipiracy mission in the Gulf of Aden may have caused unease among its neighbours, but naval experts say the Type 091 vessel is unlikely to pose any real threat because of the noise it generates.

The experts say the international community should instead keep an eye on China's quieter, more advanced diesel-driven submarines.

CCTV's military channel last Sunday reported that a nuclear submarine from the People's Liberation Army Navy had completed a two-month escort mission in the pirate-infested waters of the Gulf of Aden, and returned to its base in Qingdao , Shandong province.

The report did not specify the type of submarine used, but commentators said the footage suggested it was an updated version of a Type 091 submarine.

It was the first time state media had confirmed China was deploying nuclear submarines for anti-piracy missions in the seas between Yemen and Somalia, although it had long been suggested by overseas media.

"CCTV's report … shows that the PLA Navy really wants to improve its transparency in answer to US criticism [that it was not being transparent enough]," Macau-based military expert Antony Wong Dong said.

"But the key reason that pushed the PLA Navy to increase its transparency is because the Type 091 subs are so easily detected by the US navy, although CCTV did not report this."

The Type 091, which the US calls a Han-class submarine, is designed to seek out and destroy enemy vessels in deep waters.

A March 2007 issue of Seapower Magazine - an official publication of the Navy League of the US - referred to such vessels as "relatively noisy submarines based on 1950s and 1960s technology", although it admitted the models had benefited from several upgrades over the years.

Belgian naval analyst Frederik Van Lokeren wrote on his blog that the Type 091 had "no combat value and can only be … used for training purposes".

But Beijing-based naval expert Li Jie said China had spared no effort to reduce its noise problem, developing several improved versions over the four decades since the first generation of the nuclear submarine was launched in December 1970.

"The PLA Navy now has Type 092, and 093 and 094 ballistic-missile subs that are more advanced than the Type 091 series," Li said.

"The navy's trials in the past two decades showed that Type 091 subs were not as noisy as the US media described, although we should recognise that the decibel level of the Type 091 subs is not as [low] as US samegeneration vessels like USS Ohio nuclear subs."

Li said even though they were about 20 years behind US vessels, the Type 091 submarines still posed a threat to US aircraft carriers.

During the 1996 Taiwan Strait crisis, two PLA Navy Type 091 submarines tracked two aircraft carrier groups led by the USS Abraham Lincoln and the USS Independence. He said they pushed the US carriers back 200 miles.

Macau-based naval expert Wong said while China's more advanced Type 093 vessels had yet to overcome their noise problems, the PLA Navy's diesel-electric submarines had achieved an advantage that could pose a significant threat to the international community.

"China's diesel-powered subs have reached international standard … They are equipped with air-independent propulsion and can remain silent during underwater ambushes," Wong said.

In October 1995, a Type 039 Song-class diesel-powered submarine sailed close to the USS Independence carrier group without being detected by the US navy until it suddenly surfaced from the waters near the Taiwan Strait, according to a documentary broadcast by Guangdong Satellite TV last month.

The elusiveness of Type 039 vessels has helped China increase its share of the weapons market. Last month, Pakistan's media reported that the country would buy eight such submarines for US$5 billion, making it China's largest single sale of submarines.

This article appeared in the South China Morning Post print edition as Pirate patrol submarine too noisy, say experts.

  scmp  

[World] Peluncuran Kapal Selam Kelas Varshavyanka

Digadang gadang sebagai kapal paling senyap di dunia
Rusia membangun enam kapal selam kelas Varshavyanka, yang merupakan kapal selam laut dangkal. Kapal selam pertama, Novorossiisk mulai dibangun, pada Agustus 2010, Kapal kedua, Rostov-on-Don, pada November 2011, kapal ketiga, Stary Oskol, pada Agustus 2012, dan kapal keempat, Krasnodar, pada Februari 2014. [OLGA MALTSEVA/AFP/Getty Images]

Peluncuran kapal selam Rostov-on-Don, Juni 2014. Kelas Varshavyanka diawaki 52 personel, memiliki kecepatan 20 knot (bawah air), kedalaman selam 300 m, daya jelajah 400 mil (propulsi listrik) dan mampu berpatroli selama 45 hari, membawa 18 torpedo, 8 rudal permukaan ke udara, dan rudal jelajah untuk serangan darat. [OLGA MALTSEVA/AFP/Getty Images]
NATO menjuluki kapal selam kelas Varshavyanka sebagai "Black hole in the ocean". Dan menurut kapten kapal selam Novorossiysk, kesenyapan atau tidak terdeteksi menunjukkan kualitas kapal selam. [OLGA MALTSEVA/AFP/Getty Images]
Peluncuran kapal selam Rusia kelas Varshavyanka kedua, Rostov-on-Don, di dok Admiralteiskiye, St. Petersburg, pada 26 Juni 2014. Rusia meluncurkan kembali kapal selam keempat dari kelas Varshavyanka pada akhir April 2015. [OLGA MALTSEVA/AFP/Getty Images]
Kapal selam Rusia kelas Varshavyanka atau Proyek 636.3 adalah pengembangan dari kapal selam Kelas Kilo dengan tingkat kebisingan sangat rendah, sehingga disebut sebagai kapal selam diesel-listrik paling senyap di dunia. [news2.ru]
Dibanding kelas Kilo, kelas Varshavyanka ini memiliki kemampuan siluman atau stealth, jangkauan tempur lebih jauh, dan lebih baik dalam menyerang target di darat, pemukaan, dan di bawah air. [rt.com]

  Tempo  

[World] Koalisi pimpinan Saudi dituduh pakai bom curah

http://cdn-media.viva.id/thumbs2/2015/04/30/310987_serangan-koalisi-arab-saudi-ke-bandara-sanaa-di-yaman_209_157.jpgSerangan Koalisi Hancurkan Bandara Sanaa di Yaman (REUTERS/Khaled Abdullah) ☆

Koalisi pimpinan Arab Saudi telah menggunakan bom kluster atau bom curah yang dipasok Amerika Serikat dalam serangan udaranya terhadap pemberontak Yaman, kata Human Rights Watch (HRW).

Seperti dilaporkan AFP hari ini, HRW memperingatkan bahaya jangka panjang bom jenis ini terhadap warga sipil.

Bom terlarang digunakan ini mengandung lusinan submunisi yang kadang tidak meledak, dan menjadi ranjau yang bisa membunuh atau melukai jauh setelah bom itu dijatuhkan.

HRW mengaku telah mengumpulkan foto, video dan bukti lainnya yang menunjukkan munisi bom curah telah digunakan dalam serangan udara koalisi ke kubu utama pertahanan milisi Houthi di Provinsi Saada, Yaman utama yang bergunung-gunung.

HRW mengatakan bahwa analisis citra satelit menunjukkan bahwa senjata itu telah menerjang sebuah dataran tinggi subur dalam jarak 600 meter dari daerah padat penduduk.

Munisi curah atau tandan dilarang oleh Pakta 2008 yang diadopsi oleh 116 negara, kecuali Arab Saudi dan sekutu-sekutunya serta AS.

"Serangan udara bermunisi curah pimpinan Saudi telah menghantam wilayah-wilayah dekat pedesaan yang mengakibatkan warga setempat ada dalam bahaya," kata direktur persenjataan HRW Steve Goose.

"Arab Saudi dan anggota-anggota koalisi lainnya --serta sang pemasok, AS-- tengah mencemooh standard global yang menolak munisi curah karena ancaman jangka panjangnya terhadap warga sipil."

HRW mengatakan munisi yang digunakan di Yamam ini adalah dari jenis CBU-105 Sensor Fuzed Weapons yang dibuat oleh Textron Systems Corporation dan dipasok baik ke Arab Saudi maupun Uni Emirat Arab oleh AS dalam beberapa tahun belakangan.

Senjata ini dilarang oleh Konvensi Senjata Curah namun Washington membolehkan penggunaan senjata jenis ini dan mengekspornya karena kemungkinan untuk tidak meledaknya hanya kurang dari satu persen.

HRW menyerukan bolong ketidakmeledakkan bom ini ditutup dan mengurangi pengiriman senjata jenis ini, demikian AFP.

   antara  

Minggu, 03 Mei 2015

Paskhas TNI Cari WNI Hilang di Nepal

https://img.okezone.com/content/2015/05/03/18/1143797/paskhas-tni-cari-wni-hilang-di-nepal-pQrEqUfQa0.jpgTentara Nasional Indonesia (TNI) bersama perwakilan dari Kementerian Luar Negeri dan relawan Taruna Hiking Club (THC) yang tergabung dalam tim penyelamatan dan evakuasi diberangkatkan melalui jalur darat untuk mencari Warga Negara Indonesia (WNI) yang hilang kontak sejak terjadinya gempa bumi di wilayah Langtang, Nepal.

Hal tersebut diungkapkan Komandan Misi Evakuasi WNI di Nepal, Letkol Pnb Indan Gilang, saat melepas tim pencarian WNI jalur darat di Posko Penyelamatan dan Evakuasi WNI di Kathmandu, Nepal.

Tim yang berjumlah enam orang tersebut, terdiri dari tiga personel Paskhas TNI AU yaitu Sertu Sujianto, Praka Edi Sunaryo, Praka Dwi Haryanto, satu personel perwakilan Kemenlu yaitu Kreshna Djaelani dan dua personel Taruna Hiking Club Bandung, Adidjana Gustiansyah dan Sofyan Arif.

“Tim pencarian WNI melalui jalur darat berangkat menggunakan kendaraan mobil dengan menempuh waktu selama enam jam, dan selanjutnya melakukan perjalanan kaki selama lima jam. Sementara itu, pencarian dari udara dengan helikopter akan diarahkan ke titik mereka diduga hilang dengan didukung oleh tim darat,” ujar Letkol Pnb Indan Gilang.

Lebih lanjut Lekol Pnb Indan Gilang mengatakan bahwa, informasi dan fakta di lapangan diperoleh data sementara bahwa kemungkinan ketiga WNI yang hilang kontak di Nepal ketika terjadi gempa sedang melakukan pendakian di wilayah Dhunce Nepal. Dhunce adalah area yang lebih rendah, dan paling dekat dengan Kathmandu yakni 7-8 jam perjalanan darat menggunakan mobil dan disambung jalan kaki.

Ketiga WNI yang belum bisa dihubungi sejak gempa melanda negara Nepal pada 25 April 2015 lalu, yaitu Kadek Andana (26), Alma Parahita (31), dan Jeroen Hehuwat (36).

Dalam proses pencarian dan evakuasi, tim jalur darat dipandu oleh operator hotel pemandu perjalanan yang mengetahui rute tiga pendaki asal Bandung tersebut. Pemandu perjalanan tersebut juga memiliki foto terakhir Kadek Andana dan kawan-kawan yang diambil pada 21 April 2015.

“Mereka melihat dan mengetahui bahwa rombongan ketiga WNI tersebut menuju ke Dhunce, dan foto itu sangat meyakinkan untuk membantu mengarahkan tim jalur darat untuk menunjukkan jalur tersebut,” kata Letkol Indan Gilang.

Tim pencarian jalur darat yang berasal dari TNI dilengkapi dengan telepon satelit untuk melakukan laporan secara berkala, agar memudahkan koordinasi dan pencarian untuk mendapatkan data sebanyak-banyaknya.

   Okezone  

Tim kemanusiaan dan evakuasi Indonesia di Nepal

Indonesia diizinkan lintasi India ke Nepal http://us.images.detik.com/content/2015/04/30/10/174328_nepal1.jpgTim Bansos Indonesia [detik] ☆

Pesawat Boeing 737 milik TNI Angkatan Udara yang membawa tim kemanusiaan dan evakuasi WNI di Nepal akhirnya diizinkan melintasi India menuju Kathmandu.

Tim Indonesia sempat tertahan tiga jam di Bandara Dhaka, Bangladesh, usai mendarat Kamis pukul 05.30 waktu setempat atau pukul 06.45 WIB.

Menurut Kasubdit Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia (PWNI/BHI) Krishna, sebelumnya Indonesia telah mengantongi izin melintasi wilayah udara India, namun Kamis pagi India membatalkannya.

"Kita kembali negosiasi dengan mereka (otoritas India), dibantu dengan lobi dari duta besar RI di Dhaka, akhirnya flight clearance (izin melintas di udara) diperoleh," kata dia.

Dubes RI untuk Bangladesh dan Nepal Iwan Winataatmadja bergabung dengan tim Indonesia untuk masuk ke Nepal.

Iwan telah mencoba beberapa kali berangkat ke Nepal lebih dulu, namun situasi pasca gempa 7.9 SR di Nepal pada 25 April lalu sangat tidak memungkinkan karena bandara ditutup sementara sehingga dia terpaksa menundanya.

Pesawat tim Indonesia diperkirakan tiba di Bandara Tribhuvan, Kathmandu, Nepal pukul 10.30 waktu setempat.

Pesawat TNI AU Boeing 737 membawa 70 orang terdiri dari unsur Kementerian Luar Negeri, TNI, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), jurnalis, dan beberapa anggota organisasi sosial kemasyarakatan.

Selain itu, pemerintah RI juga mengirimkan bantuan materi berupa kebutuhan darurat pasca bencana seperti tenda, selimut, obat-obatan, perlengkapan medis, makanan bayi, dan makanan siap saji.

Berdasarkan data Direktorat PWNI/BHI, saat ini tercatat 95 WNI berada di Nepal, terdiri atas 30 orang yang menetap dan 65 pegunjung.
Tim kemanusiaan dan evakuasi Indonesia tiba di Nepal http://img.antaranews.com/new/2015/04/ori/20150430antarafoto-tim-kemanusiaan-nepal-290415-bean-1.jpgTim bantuan kemanusiaan Indonesia bersiap diberangkatkan ke Nepal di base ops Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, Rabu (29/4). Tim tersebut membawa bantuan pemerintah Indonesia berupa bahan makanan, obat-obatan, tenaga medis, dan tenda lapangan untuk masyarakat Nepal yang terkena musibah gempa bumi. (ANTARA FOTO/Rosa Panggabean) ☆

Pesawat Boeing 737 TNI AU yang membawa tim kemanusiaan dan evakuasi RI untuk membantu masyarakat Nepal pasca gempa bumi 7,9 SR dan mengevakuasi WNI yang berada di sana telah tiba di Bandara Tribhuvan, Kathmandu, Nepal pada Kamis pukul 11.45 waktu setempat atau pukul 13.00 WIB.

Pesawat yang mengangkut 69 penumpang dan empat ton bantuan materi tersebut berangkat dari Lanud Halim Perdanakusuma Jakarta pada Rabu pukul 17.30 WIB dan secara resmi dilepas oleh Menteri Luar Negeri Retno Marsudi.

Di Bandara Tribhuvan, tim disambut oleh Konsul Kehormatan RI untuk Nepal Chandra Prasad Dhakal beserta satu orang staf, staf Kementerian Luar Negeri Nepal dan otoritas militer Nepal.

Bantuan materi berupa peralatan medis, tenda pengungsi dan genset, tenda posko, tenda rumah sakit darurat, obat-obatan, dan kebutuhan logistik diserahterimakan secara simbolis oleh Direktur Tanggap Darurat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Junjunan Tambunan dan Duta Besar Indonesia untuk Bangladesh dan Nepal Iwan Winataatmadja kepada perwakilan militer Nepal.

Dubes Iwan bergabung dengan rombongan dari Jakarta di Bandara Dhaka, Bangladesh, Kamis pagi.

Sebelumnya, tim Indonesia dijadwalkan tiba di Kathmandu pada pukul 08.00 waktu setempat, namun tertahan di Bangladesh karena izin melintas dari India ditarik sehingga perlu negosiasi ulang.

"Misi utama tim ini adalah mengevakuasi WNI dan membuka posko pertama bagi bantuan Indonesia," kata Dubes Iwan.

Berdasarkan data Direktorat Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia (PWNI/BHI), saat ini tercatat 95 WNI berada di Nepal, terdiri atas 30 orang yang menetap dan 65 pengunjung.

Dari 65 WNI wisatawan tersebut, 42 orang telah dapat dan/atau sempat dihubungi dalam keadaan baik, 10 orang belum dapat dihubungi dan 13 orang sudah berada di luar Nepal.

Sementara dari 30 WNI yang menetap di Nepal, 23 orang telah dapat dihubungi berada dalam keadaan baik dan 7 orang belum dapat dihubungi.

Hingga Kamis, gempa 7,9 SR yang berpusat di antara Kathmandu dan Pokhara, Nepal, telah mengakibatkan 5.500 korban jiwa dan ribuan orang luka-luka serta kerusakan infrastruktur, seperti jalan, bangunan fasilitas publik dan jembatan.

Dari pengamatan jurnalis Antara, beberapa bangunan di sekitar Kota Kathmandu, beberapa kilometer dari Bandara Tribhuvan, tampak tinggal puing-puing dan bangunan yang masih berdiri tampak retak-retak.

Lapangan di luar kompleks bandara juga digunakan oleh ratusan pengungsi untuk membangun tenda.
Tim evakuasi WNI buka Posko di Kathmandu http://img.antaranews.com/new/2015/04/ori/20150430Foto_2.jpgAnggota militer Nepal membantu menurunkan bantuan kemanusiaan dari pesawat Boeing 737 TNI AU di Bandara Tribhuvan, Kathmandu, Nepal, Kamis (30/4/15) (Antara/Azi Fitriyanti) ☆

Tim evakuasi WNI Kementerian Luar Negeri di Nepal telah membuka Posko di Kathmandu Guest House (KGH) Distrik Thamel, Kathmandu sebagai pusat informasi dan koordinasi.

Wakil Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia (Peninsula/BHI) Krishna Djaelani di Kathmandu, Nepal, Kamis, mengatakan semua WNI di Nepal yang dapat menjangkau Posko Pencarian dan Evakuasi dapat langsung menuju ke KGH.

Koordinat GPS Posko Pencarian dan Evakuasi WNI di KGH adalah N: 27' 42 54.6 dan E: 085' 18 33.7".

Bagi WNI yg tidak dapat menjangkau posko tersebut dapat menghubungi call center Tim Evakuasi di nomor +977 981 0142385, +977 980 8385299 dan +977 9810 142388.

Berdasarkan data Direktorat PWNI/BHI, saat ini tercatat 95 WNI berada di Nepal, terdiri atas 30 orang yang menetap dan 65 pegunjung.

Dari 65 WNI wisatawan tersebut, 42 orang telah dapat dan/atau sempat dihubungi dalam keadaan baik, 10 orang belum dapat dihubungi dan 13 orang sudah berada di luar Nepal.

Sementara dari 30 WNI yang menetap di Nepal, 23 orang telah dapat dihubungi berada dalam keadaan baik dan 7 orang belum dapat dihubungi.
Tim Indonesia mulai cari WNI di Nepal http://img.antaranews.com/new/2015/04/small/20150426Nepal-04.gifTim Penyelamatan dan Evakuasi RI mulai mencari secara intensif WNI di Nepal dengan mengerahkan tiga tim beranggotakan unsur Direktorat Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia (PWNI/BHI), TNI AU dan relawan Taruna Hiking Club (THC).

Komandan tim evakuasi WNI TNI AU Kolonel Indan Gilang di Posko Penyelamatan dan Evakuasi WNI di Kathmandu, Jumat, mengatakan tiga tim ini menyisir lewat udara dengan menggunakan helikopter, tim darat menuju pegunungan Himalaya dan satu tim lainnya menyisir rumah sakit di Kathmandu.

"Pencarian dari udara dengan helikopter akan diarahkan ke titik mereka diduga hilang dengan didukung tim darat," kata dia.

Kolonel Indan menjelaskan pencarian melalui udara itu difokuskan untuk menyisir jejak tiga WNI bernama Alma Parahita, Kadek Andana dan Jeroen Hehuwat, namun juga akan mencari enam WNI lain yang hingga saat ini belum dapat dihubungi.

Berdasarkan informasi dari Himalayan Experience, penyelenggara tur yang diikuti ketiga WNI, pada 22 April, Alma, Kadek dan Jeroen diketahui menginap di Hotel Lama dan berdasarkan rencana perjalanan, saat terjadi gempa 25 April, mereka seharusnya berada di Kianjinggompa.

"Mulai sejak hilang kontak hingga sekarang sudah dilakukan pencarian oleh operator sehingga posisi kita adalah mengintensifkan pencarian," kata Indan.

Kolonel Indan bersama tim telah menentukan titik di sekitar lokasi diduga hilang agar pencarian lebih efektif, yakni ke Kyanjin Gompa, Langtang dan Dhunce.

Ketiga lokasi berada di Pegunungan Himalaya, Kianjin Gompa berada di ketinggian sekitar 4.000 mdpl di area Taman Nasional Langtang, sementara Dhunce adalah area yang lebih rendah, dan paling dekat dengan Kathamandu, yakni 7-8 jam perjalanan darat menggunakan mobil dan disambung jalan kaki.

"Informasi yang kita peroleh, korban yang ditemukan dibawa ke Kathmandu dan Dhunce," kata Indan.

Tim udara akan didukung tim darat yang akan berangkat ke Dhunce Jumat malam sekitar pukul 22.00 WIB waktu setempat, dengan waktu misi selama dua hari.

Sementara tim penyisir di rumah sakit-rumah sakit sekitar Kathmandu mulai bergerak Jumat sore.

Berdasarkan data Direktorat PWNI/BHI, total WNI di Nepal menjadi 96 orang yang 16 orang diantaranya belum dapat dihubungi hingga saat ini, yakni 7 warga yang menetap dan 9 pengunjung.
PMI kirim ahli sanitasi ke Nepal http://cdn.metrotvnews.com/dynamic/content/2015/05/02/393222/dVACOQGZWz.jpg?w=668Palang Merah Indonesia (PMI) mengirim seorang personel spesialisasi air dan sanitasi ke Nepal untuk misi kemanusiaan pascagempa di negara itu.

"Personel ini akan bergabung bersama Tim Respon Bencana Regional (Regional Disaster Response Team/RDRT) Federasi Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional (IFRC) Zona Asia-Pasifik untuk bertugas selama kurang lebih satu bulan," kata Kepala Divisi Penanganan Bencana Markas Pusat PMI Arifin Muhammad Hadi di Jakarta, Jumat.

Personil spesialisasi Air dan Sanitasi itu menuju Nepal hari ini melalui jalur Jakarta-Kuala Lumpur-Kathmandu.

Dalam misi kemanusiaan ini, personel bidang air dan sanitasi PMI akan bergabung dengan personel Palang Merah Filipina dan Palang Merah Thailand, dan akan berlaku sebagai team leader.

"Bencana apa pun, air menjadi kebutuhan utama. Untuk itu kami mengirimkan personel kami yang telah berpengalaman dalam pengelolaan air dan sanitasi untuk bergabung bersama Tim RDRT IFRC," kata dia.

Kebutuhan air dan sanitasi memang menjadi salah satu prioritas bantuan Palang Merah, selain makanan dan shelter, tambah dia.

PMI juga sudah mengirimkan personel ahli bedah dan 500 terpal yang tergabung dalam tim kemanusiaan Pemerintah ke Nepal. PMI kembali memberangkatkan tenaga ahli untuk membantu korban gempa Nepal.

Selama di Nepal, tim akan bertugas mengoperasikan pengolahan air, termasuk penjernih air, dan menghitung atau mendata kebutuhan air masyarakat, mencari sumber air, kebutuhan sanitasi, dan mempromosikan higiene. Dalam bekerja, tim akan berkoordinasi dengan pemerintah Nepal dan IFRC.

Gempa bumi 7,9 Skala Richter Sabtu pekan lalu (25/4) telah memporakporandakan Nepal dan sekitar 6.500 orang meninggal dunia serta belasan ribu lainnya luka-luka.
Bantuan kemanusiaan Indonesia kedua tiba di Kathmandu http://img.antaranews.com/new/2015/04/ori/20150430Foto_1.jpgAnggota Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menurunkan bantuan kemanusiaan dari pemerintah RI di Bandara Tribhuvan, Kathmandu, Nepal, Kamis (30/4/15). (Antara/Azi Fitriyanti) ☆

Bantuan kemanusiaan RI kedua untuk korban bencana gempa bumi di Nepal, tiba di Bandara Tribhuvan, Kathmandu, Sabtu pukul 01.25 waktu setempat (02.40 WIB).

Bantuan kemanusiaan seberat 30 ton dan rombongan tim berjumlah 33 orang dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan SAR Nasional (Basarnas), Kementerian Luar Negeri dan jurnalis berangkat dari Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, dengan pesawat charter Airbus milik Garuda Indonesia.

Tim bantuan kemanusiaan disambut oleh Direktur Tanggap Darurat BNPB Junjunan Tambunan, Direktur Asia Selatan dan Tengah Kemlu Amin Wicaksono dan Komandan tim Nepal TNI AU Kolonel Indan Gilang.

Menurut Tambunan, bantuan seberat 30 ton tersebut hasil koordinasi dari BNPB, Kementerian Kesehatan, Kementerian Sosial, Lembaga sosial-kemasyarakatan, berupa perlengkapan medis, tenda pengungsi, kantong mayat, makanan siap saji, makanan pengganti ASI, alat penjernih air, dan obat-obatan.

"Bantuan yang datang pagi ini merupakan yang terbesar yang dikirim dari Indonesia," kata dia.

Bantuan kemanusiaan RI ketiga dengan Pesawat Hercules TNI AU diperkirakan akan tiba di Kathmandu pukul 05.30 waktu setempat.

Bantuan kemanusiaan keempat direncanakan akan berangkat dari Jakarta pada Minggu, dengan menggunakan pesawat Cardiq.
Pencarian WNI di Nepal terhambat penyewaan helikopter http://img.antaranews.com/new/2015/04/ori/20150430Foto_3.jpgAnggota Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menempelkan stiker berlogo "Bantuan Presiden Republik Indonesia" pada kardus berisi makanan siap saji di Bandara Tribhuvan, Kathmandu, Nepal, Kamis (30/4). (Antara/Azi Fitriyanti) ☆

Pencarian tiga WNI yang terakhir diketahui berada di daerah Langtang, Pegunungan Himalaya, yang rencananya akan dimulai pada Jumat, tertunda karena tim terhambat soal penyewaan helikopter.

Letnan Kolonel Penerbang Indan Gilang di Bandara Tribhuvan, Kathmandu, Nepal, Sabtu dini hari, mengatakan hambatan tersebut disebabkan semua operasional alat transportasi udara diambil alih oleh pemerintah Nepal.

"Karena situasi darurat, semua operasional diambil alih pemerintah sehingga untuk memakai operator swasta pun harus melalui pemerintah," kata dia.

Pada Jumat pagi, Tim Penyelamatan dan Evakuasi WNI berencana menyewa helikopter swasta untuk menyisir Langtang, Dhunce dan Kyanjin Gompa di Pegunungan Himalaya.

Terkait perkembangan situasi tersebut, Letkol Indan mengatakan bahwa Duta Besar RI untuk Bangladesh dan Nepal Iwan Wiranata-atmadja telah berkomunikasi dengan kepala staf Angkatan Udara Nepal untuk meminta bantuan kemudahan akses.

"Mudah-mudahan Sabtu pagi ini kita sudah dapat kabar baik," kata Indan.

Tim Penyelamatan dan Evakuasi WNI membagi area pencarian menjadi tiga, yakni melalui udara dengan helikopter, darat melalui Dhunce (7-8 jam perjalanan dengan mobil dari Kathmandu) dan penyisiran di rumah sakit-rumah sakit sekitar Kathmandu.

Tim darat menuju Dhunce akan berangkat dari Posko Penyelamatan dan Evakuasi WNI di Kathmandu Guest House, Thamel, Kathmandu, Sabtu, pukul 04.00 waktu setempat (05.15 WIB).

Sementara tim penyisiran WNI di rumah sakit sekitar Kathmandu telah memulai menyisir ke empat rumah sakit (RS TU, Bir, Norvic, militer).
Tim pencarian tiga WNI berangkat ke Himalaya http://img.antaranews.com/new/2015/04/ori/201504281341.jpgTentara Nepal dan anjing pelacak mencari para korban yang terjebak di reruntuhan rumah yang hancur akibat gempa bumi di Bhaktapur, Nepal, Senin (27/4). (REUTERS/Navesh Chitrakar) ☆

Tim Penyelamatan dan Evakuasi WNI di Nepal telah berangkat menuju Dunche di Pegunungan Himalaya, Sabtu, untuk menyisir keberadaan tiga WNI asal Bandung, yakni Alma Parahita, Kadek Andana dan Jeroen Hehuwat.

Ketua tim pencarian ke Dunche yang juga Wakil Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia Krishna Djunaedi mengatakan keputusan untuk berangkat menuju Dunche didasari komunikasi terakhir Taruna Hiking Club (THC) dengan ketiga WNI yang akan menuju Langtang.

"Di Dunche, kita akan mencari info dari orang lokal, para pendaki yang sudah turun, dan lain-lain," kata dia.

Selain Krishna, tim pencarian ke Dunche juga beranggotakan personel Pasukan Khas TNI AU Sertu Sujianto, Praka Edi Sunaryo, Praka Dwi Haryanto; dan anggota THC Agung Adjana dan Sofyan Arif.

Tim berangkat menuju Kalikasthan, titik terakhir yang bisa ditempuh dengan mobil dari Kathmandu sekitar 5-6 jam, kemudian diteruskan menuju Pangkalan Militer Nepal di Dunche dengan berjalan kaki sekitar 7-8 jam.

Krishna menjelaskan tim akan berada di Dunche hingga Minggu, kemudian melanjutkan penyisiran ke Bokejhunda, dan akan kembali turun ke Kalikasthan pada Senin (4/5) menuju Kathmandu.

Pada saat pelepasan tim pencarian ke Dunche, Komandan Tim TNI AU di Nepal Letnan Kolonel Penerbang Indan Gilang menyampaikan bahwa misi utama mereka adalah menemukan WNI dengan membawa nama Indonesia.

Selain tim darat, penyisiran juga akan dilakukan melalui udara menggunakan helikopter yang akan dipimpin Letnan Kolonel Penerbang Indan Gilang.

Menurut rencana, pencarian melalui udara yang direncanakan dimulai Jumat harus tertunda hingga Sabtu karena masalah penyewaan helikopter.

Tim udara akan menyisir area Langtang, Kyanjin Gompa dan Dhunce.

   antara  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...