Jumat, 29 Mei 2015

[Foto] Penembakan Rudal KRI Bung Tomo 357

Foto penembakan rudal exocet dari KRI Bung Tomo 357
[pr1v4t33r/Antara/Metrotv]
Pemandangan waktu peluncuran rudal Exocet MM40 Block II dari Kapal Multi Role Light Frigate [MRLF] KRI Bung Tomo 357 di perairan laut jawa.
Di dalam Kapal Markas KRI Surabaya 591, telah onboard Pangarmatim Laksamana Muda TNI Darwanto, S.H, M.A.P, Komandan Guspurlatim Laksamana Pertama TNI ING Ariawan, S.E, selaku Komandan Gugus Tugas Penembakan dan Staf Pendukung lainnya, termasuk beberapa Wartawan media massa cetak dan elektronika yang akan meliput kegiatan penembakan tersebut.

  ♔ Garuda Militer  

[World] Brasil Terima Skyhawk Upgrade Pertama

http://www.janes.com/images/assets/744/51744/1633454_-_main.jpgPenyerahan pesawat Skyhawk Brasil [Embraer]

Angkatan Laut Brasil menerima pengiriman upgrade Douglas AF-1 Skyhawk pertama dari Embraer pada 26 Mei di bawah program A-4BR. Pesawat kursi tunggal AF-1 kini telah di redesignated menjadi AF-1B dan diharapkan untuk tetap aktif tugas sampai 2028. Sementara pesawat dua kursi akan diupgrade menjadi AF-1C.

Sembilan kursi tunggal AF-1 dan tiga dua kursi AF-1A dijadwalkan untuk ditingkatkan dan dikirim untuk skuadron tempur VF-1 angkatan laut yang berbasis di São Pedro da Aldeia sebagai bagian dari kontrak tahun 2009.

Sebagaimana dilansir IHS Jane Rabu 27 Mei 2015, Embraer merupakan kontraktor utama untuk program A-4BR, dengan anak perusahaan Brasil Elbit ini AEL Sistemas bertanggung jawab untuk ‘kaca’ kokpit baru yang akan dimodernisasi. Upgrade termasuk revisi struktural dan penguatan, sebuah radar multi-mode Elta EL / M-2032, penerima radar peringatan, radio VHF, datalink baru, sistem oksigen on-board generasi baru, hand-on throttle-and-stick (HOTAS), head-up display (HUD), dua layar multi-fungsi berwarna, navigasi udara taktis, dan radar altimeter.

AF-1 awalnya dibeli oleh Kuwait pada tahun 1976 sebagai A-4KU Skyhawk II, dengan pengiriman berakhir pada tahun 1978 dan sisanya 23 pesawat dijual ke Brazil pada tahun 1997. [IHS Janes]

  Garuda Militer  

[World] First-of-class Hobart launched delays

Guided missile destroyer Hobart at a launch ceremony on 23 May. [© Commonwealth of Australia, Department of Defence]

The first of three air warfare destroyers (AWDs) for the Royal Australian Navy (RAN) was launched on 23 May amid the disclosure of further delays and cost overruns in a programme that is already well behind schedule and significantly over budget.

Defence Minister Kevin Andrews referred to the launch of the 7,000-tonne first-of-class Hobart at shipbuilder ASC's facility near Adelaide as a key achievement in the AUD 8.5 billion (USD 7.2 billion) programme.

However, in a joint statement the previous day with Finance Minister Mathias Cormann, Andrews pointed to "serious legacy issues" and said a forensic audit had suggested that completion of the AWD programme would require an additional AUD 1.2 billion.

At the same time, Andrews announced a revised delivery schedule for the first ship from December 2014 to June 2017, the second from March 2016 to September 2018, and the third from June 2017 to March 2020.

The earlier dates were themselves rebaselined in September 2012.

The ministers also announced that a limited tender process would begin on 29 May seeking proposals to either insert a managing contractor into government-owned ASC for the remainder of the AWD build, or to further enhance ASC capability through a partnering arrangement.

The government announced in December 2014 that specialists from BAE Systems, ship designer Navantia and Raytheon were being seconded to ASC to improve programme performance. Raytheon is systems integrator in the AWD Alliance, which also includes ASC and the Defence Materiel Organisation.

Forecasting the latest delays in delivery, Colin Thorne, DMO's General Manager Land and Maritime, told a conference on 1 April that AWD productivity was running at about 170 manhours per compensated gross tonne.

This compared with core productivity of around 60 manhours which should be possible from an experienced and productive shipyard in the Australian context.

Andrews confirmed that the government would release an enterprise-level naval shipbuilding plan later in 2015 that would provide for the long-term future of the Australian naval shipbuilding programme. On several occasions he has referred to the benefits of batch production, and the necessity of reforms.

  ⚓️ Janes  

[World] Rusia mempercepat upgrade pembom strategis Tu-160

http://www.janes.com/images/assets/743/51743/1634463_-_main.jpgTupolev Tu-160 'Blackjack' [Tupolev] ♣

R
usia mempercepat upgrade armada pembom strategis Tupolev Tu-160 ‘Blackjack’, lebih cepat dari rencana sebelumnya, dengan pesawat terakhir diserahkan ke angkatan udara tahun 2019.

Upgrading pesawat dilakukan dua tahap untuk mengganti semua peralatan pesawat era Sovyet dengan sistem modern. Tahap pertama,yakni memperkuat persenjataan pesawat pembawa nuklir ini untuk mampu membawa 12 rudal jelajah konvensional Raduga Kh-555 NPO (AS-15 ‘Kent’) dan bom dipandu laser. Ugprade pesawat pertama telah dikembalikan ke angkatan udara pada bulan April 2008.

Tahap kedua difokuskan pada penggantian radar, serta navigasi dan sistem komunikasi elektronik. Penerbangan pertama dari Tu-160 dilengkapi dengan sistem baru dari Pabrik pesawat Kazan (Kapo) pada bulan November 2014. Mesin pesawat juga akan ditingkatkan di lain waktu.

Menurut kantor berita Tass, Direktur pusat desain Gorbunov Kazan Aviation Production, Boris Naishuler mengatakan pada 26 Mei bahwa program modernisasi ke 16 unit pesawat pembom angkatan udara diharapkan selesai pada 2019, bukan tahun 2020.

Bomber baru PAK-DA Rusia diperkirakan akan melakukan penerbangan perdananya pada 2019, sebelum masuk tugas tahun 2023-25, untuk menggantikan Tu-160, Tu-22M3 ‘Backfire’, dan Tu-95 ‘Bear'. [IHS Jane]

 Rusia akan mendapat sedikitnya 50 unit Tu-160 Blackjack 
Tupolev Tu-160 Blackjack strategic bombersTupolev Tu-160 'Blackjack' [sputnik] ♣

K
ementerian Pertahanan Rusia akan membeli tidak kurang dari 50 pesawat pembom strategis Tu-160 (Blackjack) baru. Ketika pesawat tersebut kembali masuk ke garis produksi akan diperbarui, demikian kata komandan Angkatan Udara Rusia Col. Gen. Viktor Bondarev pada hari Kamis 28 Mei 2015.

“Tidak kurang dari 50 pesawat dari waktu ke waktu akan dibeli saat masuk ke produksi,” kata Col.Gen. Bondarev, tanpa menyebutkan kapan produksi pesawat akan dimulai.

Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu sebelumnya mengumumkan akan kebutuhan pesawat pembom strategis Tu-160. Upgrade juga dipercepat dari rencana semula selesai pada 2020 menjadi 2019.
PAK-DA Russian 5th generation bomber Pesawat PAK DA [sputnik] ♣

Pengadaan pesawat Tu-160 ini tidak akan menunda pesawat pembom terbaru Rusia, PAK DA. Pesawat PAK DA di rencanakan akan selesai produksi tahun 2020, namun baru di kirimkan sekitar tahun 2023.

Pesawat terbaru 'PAK DA' rancangan Rusia ini akan di persenjatai dengan senjata dengan akurasi yang tinggi.

Pesawat Angkatan udara Rusia akan modernisasi pesawat strategis Tu-160 dengan radar dan navigasi yang ditingkatkan.

Pesawat supersonik strategis ini dapat membawa senjata nuklir maupun bom berat lainnya. [sputnik]

  Garuda Militer  

Kisah Pelatih TNI Melatih Tentara Brunei

Melatih menembak dan mendapatkan prestasi SERTU Pardal merupakan seorang di antara sekian banyak anggota Kopassus yang punya kemampuan istimewa. Dia dikenal jago menembak dan memiliki keahlian sebagai penembak jitu.

Karena kemampuan itu pula, ketika tentara Brunei Darussalam meminta TNI mengirimkan anggotanya untuk menjadi pelatih di negeri berpenduduk sekitar 500 ribu jiwa tersebut, Pardal langsung ditunjuk komandannya.

Kehadiran Pardal di negara kaya ladang minyak dan gas tersebut adalah untuk melatih Tim Rifle dalam menembak. Mulai Februari hingga November 2013, dia menggembleng tim yang akan diterjunkan dalam ASEAN Armies Rifle Meet (AARM) tersebut.

’’Saya dikirim agar Tim Rifle bisa naik derajat di AARM, sebuah lomba menembak prestisius yang diikuti sepuluh negara ASEAN,’’ paparnya.

Tim Rifle Brunei beranggota LKpl Mohd Nor, LKpl Mohd Izwandi, LKpl Saiful, LKpl Azian, Kpl Mas Azi, SJN Romeo Eddy, Sld Modh Amizan, Sld Mushab, Sld Mustapa, Kpl Tony, dan Sld Safwan. ’’Mereka semua saya latih,’’ tegasnya.

Namun, bukan hal mudah untuk melatih anggota militer yang memiliki karakter dan metode pelatihan yang berbeda. Pada awal pertemuan, Pardal melihat posisi menembak sejumlah anggota Tim Rifle tidak kukuh. Karena itu, tembakan mereka tidak tepat pada target.

’’Kebanyakan mereka menembak dengan posisi jongkok dan menempatkan magazin di paha. Posisi itu kurang kukuh. Seharusnya magazin itu tepat di ujung paha. Jadi, bisa menahan getaran,’’ jelasnya.

Dari satu kejadian itu, Pardal mulai curiga. Dia berpikir, jangan-jangan memang tidak ada metode baku untuk menembak yang diterapkan tim Rifle. Dugaan itu terbukti saat Pardal melihat mereka berlatih. Kebanyakan asal datang ke lapangan tembak dan berlatih menembak. ’’Dari situ, saya mulai mengubah sistemnya,’’ paparnya.

Akhirnya, Pardal menetapkan jadwal latihan yang harus ditempuh dalam sehari. Pagi, awal latihan dimulai dengan lari 3 kilometer. Namun, bukan lari biasa. Mereka diajak lari sprint yang tiap 100 meter harus diganti dengan merayap tiarap. Lebih gila, saat tiarap itu, semua harus menahan napas.

Pardal tidak sekadar menyuruh, dia juga ikut bergabung berlari bersama mereka. ’’Ini untuk meningkatkan stamina para penembak,’’ tutur pria kelahiran Sukoharjo, Jawa Tengah, tersebut.

Ekstremnya latihan tersebut membuat dua anggota Tim Rifle pingsan. Keduanya pun harus dibawa ke klinik. ’’Memang, latihan ini lebih keras daripada biasanya. Tetapi, seorang prajurit harus bisa,’’ tegas suami Ery Wijayanti itu.

Setelah menyelesaikan lari 3 kilometer, agak siang, barulah tim militer Brunei itu berlatih menembak seperti biasa di lapangan. Tentu dengan perbaikan berbagai posisi, mulai jongkok hingga berdiri. ’’Awal-awal, saya yang juga ikut menembak selalu menang,’’ tuturnya.

Banyak hal yang harus diperbaiki untuk meningkatkan kemampuan tim tersebut. Menu latihan ekstrem akhirnya ditambah. Pardal mengajak Tim Rifle berlatih di kolam renang. Bukan berenang biasa, tetapi menyelam di kedalaman 2,5–3,5 meter selama mungkin. ’’Ini untuk melatih pernapasan,’’ tuturnya.

Anggota Tim Rifle pun mencoba latihan itu. Mereka menyelam bersama tanpa mengeluh. Tetapi, sesaat kemudian, satu per satu mereka menyembul ke permukaan. Setelah 1 menit, Pardal tinggal sendirian di dasar kolam. Barulah 30 detik kemudian, dia naik ke permukaan. ’’Mereka ternyata hanya mampu kurang dari satu menit,’’ katanya.

Lagi-lagi, banyak hal yang harus diperbaiki. Bukannya mengendurkan tensi latihan, Pardal malah terus menaikkannya. Kali ini, tim harus masuk ke kolam ’’neraka’’ untuk lari sprint di dalam air. Pardal memperagakan lebih dahulu lari sprint di dalam air itu. Dia memang bisa berlari di dalam air.

Akhirnya, giliran belasan anggota Tim Rifle yang mencoba. Mereka langsung mengambang ke permukaan setelah tiga langkah lari. Semua menu latihan itu terus dilakukan berulang-ulang. ’’Pokoknya sampai teler,’’ ujar Pardal bercanda.

Namun, menu latihan ala Kopassus tersebut membuat beberapa anggota Tim Rifle mulai tidak tahan. Beberapa di antara mereka menyerah. ’’Mereka sempat cerita ke saya ingin keluar dari tim,’’ ujarnya.

Apalagi ada perbedaan besar di militer Brunei. Anggota Tim Rifle dianggap belum berprestasi sehingga kurang dihargai dan tidak mendapat kompensasi dalam karir. ’’Kalau di Indonesia, masuk tim menembak, karirnya bisa lebih cepat. Tetapi, berbeda di Brunei,’’ tuturnya.

Masalah itu tidak membuat Pardal kehilangan akal. Dia terus berupaya agar anak didiknya tetap bersemangat. ’’Saya yakin, kalau berprestasi, tentu ada imbal baliknya,’’ tegas anggota TNI yang saat ini bertugas di Papua Barat tersebut.

Setelah sepuluh bulan, stamina Tim Rifle mulai naik drastis. Terutama teknik pernapasan yang begitu penting untuk menembak. Pardal menuturkan, pernapasan sangat penting agar penembak tidak goyang saat membidik dan menembak. ’’Semua menu latihan itu dilakukan selama sepuluh bulan,’’ jelasnya.

Akhirnya, tiba giliran untuk menguji hasil latihan tersebut dalam kompetisi internasional AARM 2013 di Myanmar. Sebelum 2013, Brunei selalu berada di papan dasar klasemen tembak di AARM. ’’Sebelumnya selalu di nomor delapan di antara sepuluh negara yang ikut menembak,’’ ujarnya.

Tetapi, kali ini berbeda. Kesiapan setelah berlatih bersama anggota Kopassus membuat tim Brunei sangat percaya diri. Setelah total dalam mengikuti lomba prestisius tersebut, tidak disangka, Tim Rifle Brunei mampu menempati posisi keempat setelah Indonesia, Filipina, dan Thailand. ’’Kali ini, mereka melampaui Malaysia dan Singapura yang biasanya di atas Brunei,’’ tuturnya.

Padahal, target mereka hanya lima besar AARM. ’’Tugas saya melatih menembak dan mendapatkan prestasi bagi Tim Rifle telah selesai,’’ ujar Pardal.

Setelah AARM 2013, tugas Pardal di Brunei juga usai. Saat akan pulang ke Indonesia, dia mendapat ucapan terima kasih dari semua orang. Bukan hanya Tim Rifle, pejabat militer Brunei setingkat KSAD juga memuji dan berterima kasih. ’’Memang, saya harus kembali, tentunya untuk mengabdi ke ibu pertiwi,’’ tegasnya.

Danjen Kopassus Mayjen Doni Manardo menuturkan, pengiriman anggota Kopassus ke luar negeri merupakan bentuk kerja sama antar pemerintah. Biasanya, negara lain meminta dikirimi seorang pelatih. ’’Kopassus yang sering diminta,’’ ungkapnya.

Pengiriman prajurit sebagai tenaga pelatih itu tentu bisa meningkatkan hubungan antara angkatan bersenjata setiap negara. Doni menyatakan, hubungan yang baik diperlukan agar ke depan bisa saling membantu. ’’Ini program yang baik dan perlu dilanjutkan,’’ ujarnya.

Penunjukan Pardal sebagai pelatih militer untuk Brunei bukan tanpa sebab. Lelaki yang telah 18 tahun bergabung dalam Kopassus itu memiliki segudang prestasi. Di Kopassus, dia merupakan salah seorang penembak terbaik. ’’Saya di kesatuan sering juara. Saya juga pernah ikut AARM beberapa tahun lalu dan juara,’’ paparnya.

Lelaki berusia 37 tahun itu mengingat, dalam setiap lomba di kesatuan maupun antarnegara, dirinya selalu mendapat medali. ’’Sering menang, mulai juara pertama hingga ketiga,’’ ungkapnya.

  JPNN  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...