Senin, 20 Oktober 2014

KRI Teluk Rantau 509 Uji Artileri Gun Exercise di Pulau Gundul

Salah satu Kapal perang di jajaran Komando Lintas Laut Militer (Kolinlamil) yakni KRI Teluk Ratai (TRT)-509 menggelar uji tembak menggunakan meriam kaliber 37 mm dalam latihan Artileri Gun Exercise, di Pulau Gundul, Perairan Karimun Jawa, Senin (20/10/2014).

Kapal perang yang sehari-hari berada di bawah binaan Satuan Lintas Laut Militer (Satlinlamil) Surabaya dan dikomandani oleh Letkol Laut (P) Tarus Rostiyadi ini berada di Pangkalan Jakarta usai mendukung operasi Angkutan Laut Militer (Anglamil) pergeseran material Alutsista TNI Angkatan Darat dalam rangka HUT ke-69 TNI.

Menurut Komandan Satlinlamil Surabaya Kolonel Laut (P) Bambang Irawan, S.E., bahwa setiap melaksanakan pelayaran, semua kapal perang di jajaran Satlinlamil Surabaya ditekankan untuk mengadakan latihan Artileri atau Meriam Kapal, bertujuan menguji tingkat kesiapan persenjataan serta penguasaan prajurit terhadap persenjataan yang ada dan diharapkan dengan latihan yang terus-menerus dan berkesinambungan, baik terencana maupun tidak terencana, dapat meningkatkan profesionalisme prajurit.

Senada dengan Dansatlinlamil Surabaya, Komandan KRI TRT-509 mengatakan, tujuan digelarnya latihan menembak dari jarak 4 ribu-5 ribu yard atau 2-3 mil tersebut untuk melatih dan meningkatkan profesionalisme masing-masing prajurit matra laut, khususnya personel KRI TRT-509. Selain itu, untuk memperlihatkan bahwa kapal perang berjenis Landing Ship Tank buatan Amerika Serikat pada 29 April 1944 dan bertonase 4080 ton ini selalu dalam keadaan siap setiap saat mengawal NKRI.

(Dispen Kolinlamil)

  TNI AL  

Presiden Rusia Ingin Bertemu Jokowi

Menteri Perdagangan Rusia Denis Manturov

Salah satu utusan negara sahabat yang menghadiri pelantikan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden Jusuf Kalla datang dari Rusia. Presiden Rusia Vladimir Putin secara khusus mengirimkan Menteri Perdagangannya Denis Manturov untuk menghadiri pelantikan Jokowi-JK di gedung MPR/DPR, Senin (20/10/2014) hari ini.

Kepada wartawan Manturov mengaku sungguh mendapat penghormatan yang luar biasa bisa menghadiri pelantikan Jokowi-JK. Sebagai utusan resmi, Manturov mengaku membawa pesan dari Presiden Rusia untuk Presiden Jokowi. Melalui Manturov, Putin berjanji akan segera berkunjung ke Indonesia menemui Presiden Jokowi.

"Dalam waktu dekat presiden Rusia akan bertemu dengan Presiden Indonesia Joko Widodo," kata Manturov kepada wartawan usai pelantikan Jokowi-JK di gedung MPR/DPR. Manturov berharap dalam waktu dekat akan diadakan pertemuan antara Presiden Indonesia Joko Widodo dengan Presiden Rusia vladimir Putin.

Dia yakin dalam pertemuan kedua pemimpin negara itu akan ada kesempatan untuk membahas berbagai isu kerjasama bilateral di berbagai bidang. Seperti perdagangan maupun politik.

"Kita punya semua peluang untuk meningkatkan volume perdagangan, kami juga berminat meningkatkan kerja sama seperti metalurgi. Kami melihat ada potensi kerja sama peningkatan teknologi di bidang metalurgi," kata Manturov.

  detik  

Jalesveva Jayamahe

Menuju Indonesia Raya Joko Widodo: Jalesveva JayamaheJokowi, Presiden Terpilih Indonesia

"Kita telah terlalu lama memunggungi samudera, memunggungi laut, memunggungi teluk, memunggungi selat. Kita kembalikan kejayaan kita sebagai negara maritim. Jalesveva Jayamahe, di lautlah kita jaya," kata Presiden Joko Widodo.

Itulah salah satu penggalan pidato perdana Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Sidang Paripurna MPR, Jakarta, Senin.

"Kita kembangkan jiwa pelaut kita, pelaut pemberani yang berani mengarungi laut dan samudera. Kita kembangkan layar. Saya berdiri di bawah kehendak rakyat dan konstitusi," kata Presiden RI ketujuh itu.

Dalam pidato dengan teks yang disiapkan sekira tujuh menit itu, Joko Widodo yakin Indonesia dapat menjadi bangsa besar kreatif yang bisa menyumbang keluhuran kepada dunia.

"Yakin kita semakin kuat dan berwibawa. Saya akan memastikan setiap rakyat di pelosok merasakan pembangunan. Semua instansi agar melakanakan tugasnya," kata Presiden.

Jokowi juga mengutip sesanti Proklamator bangsa, Soekarno, yang menjunjung tiga sila penting Trisakti, yakni "berdaulat dalam bidang politik, berdikari dalam bidang ekonomi dan berkepribadian dalam budaya."(*)

  Antara  

Lengser Keprabon, Madeg Pandito Ratu

Terimakasih SBY ... Selamat Berkerja Jokowi ... imageTak terasa, sudah sepuluh tahun Bapak Jend. TNI (Purn) Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono menjadi Presiden kita dan siang ini akan Lengser keprabon secara TERHORMAT tercatat dilembaran Sejarah Indonesia.

Beliau lahir di Tremas, Arjosari, Pacitan, Jawa Timur, Indonesia, 9 September 1949;(umur 65 tahun) dari pasangan Raden Soekotjo dan Siti Habibah. Dari silsilah ayahnya dapat dilacak hingga Pakubuwana serta memiliki hubungan dengan trah Hamengkubuwana II. Beliau adalah Presiden Indonesia ke-6 yang menjabat sejak 20 Oktober 2004. Beliau, bersama Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla, terpilih dalam Pemilu Presiden 2004 dan berhasil melanjutkan pemerintahannya untuk periode kedua dengan kembali memenangkan Pemilu Presiden 2009, bersama Wakil Presiden Boediono. Sejak era reformasi dimulai, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono merupakan Presiden Indonesia pertama yang menyelesaikan masa kepresidenan selama lima tahun dan berhasil terpilih kembali untuk periode kedua dan kembali menyelesaikan masa baktinya selama Lima Tahun.

Bapak Yudhoyono yang dipanggil “Sus” oleh orangtuanya dan populer dengan panggilan “SBY”, melewatkan sebagian masa kecil dan remajanya di Pacitan. Ia merupakan seorang pensiunan militer. Selama di militer beliau lebih dikenal sebagai Bambang Yudhoyono. Karier militernya terhenti ketika ia diangkat Presiden Abdurrahman Wahid sebagai Menteri Pertambangan dan Energi pada tahun1999, dan tampil sebagai salah seorang pendiri Partai Demokrat.

Pangkat terakhir Bapak Susilo Bambang Yudhoyono adalah Jenderal TNI sebelum pensiun pada 25 September 2000. Pada Pemilu Presiden 2004, keunggulan suaranya dari Presiden Megawati Soekarnoputri membuatnya menjadi Presiden pertama yang terpilih melalui pemilihan langsung oleh rakyat Indonesia. Hal ini dimungkinkan setelah melalui amandemen UUD 1945.
Lengser Keprabon imageLengser keprabon, madeg pandito adalah kata-kata yang populer dari Alm Bapak Suharto saat diucapkan di depan orang-orang Golkar, partai Bapak Suharto sendiri.

Arti lengser keprabon bagi Bapak Suharto adalah mengundurkan diri secara sukarela dari kedudukan presiden. Sedangkan madeg pandito, maksudnya ialah: Sebagai orang tua yang bijaksana, tinggal di sebuah “pertapaan” dan selalu bersedia memberi nasihat kepada siapa pun yang membutuhkan.

Dulu Pak Harto ketika ditanya, mengatakan nanti kalau tidak lagi jadi presiden, akan Madeg pandito ratu, yang kalau diartikan keinginan beliau pensiun untuk menjadi penasehat, pandito atau pendeta adalah tempat memohon nasihat.

Tujuan yang sangat mulia, sayang takdir berkata lain, takdir yang bukan digariskan oleh Tuhan, namun takdir yang diciptakan oleh karma-karma kita sebelumnya. Tidak ada takdir yang tak dapat diubah, semuanya dapat dirubah dengan karma, untuk mendapat takdir yang bagus harus dengan memupuk karma baik yang setara.

Dalam tradisi timur, Seorang Ratu (Raja) setelah masa grahasta (bekuasa/berpolitik) ada step selanjutnya menjadi wanaprasta (bertapa) atau melepaskan ikatan dengan duniawi, setelah dapat lepas dari hal tersebut baru kemudian masuk ke step Sanyasin atau pendeta, di sini tugasnya pendeta hanya melayani masyarakat dengan nasihat-nasihat.

Titik rawannya adalah saat di step wanaprasta, apakah bisa seorang pemimpin (Manusia) meninggalkan ikatan duniawi?
Madeg Pandito Ratu imageDalam tradisi politik Jawa, Raja adalah pusat segala kekuasaan. Prajurit (tentara) tidak punya kekuasaan politis apa pun karena ia hanya merupakan ubo rampe (pelengkapan) dan pendukung kekuasaan sang raja. Meskipun begitu, mungkin tidak bisa kita mengatakan bahwa tentara mengambil jarak dari kekuasaan. Bagaimanapun, posisi tentara lekat pada, dan memang bagian dari, kekuasaan itu sendiri.

Satu-satunya kekuatan yang jelas mengambil jarak dari kekuasaan cuma seorang Pandito. Strukturnya menjadi jelas: Ratu (raja) berumah di kraton, sedangkan Pandito (empu, resi) berumah di luar Kraton, di luar struktur kekuasaan raja. Dalam batas tertentu, Pandito merupakan Ratu (raja) dalam bentuk dan struktur kekuasaan yang lain.

Oleh karena itu, mereka ogah dikratonkan. Sebab, mereka sudah punya kraton sendiri, yakni padepokan kecil yang dihuni bersama para cantrik. Dengan kata lain, sebagai subordinasi kraton (pusat), padepokan memperoleh porsi kekuasaan justru karena pandito tidak berkuasa secara real.

Wilayah kekuasaan Pandito adalah dunia moral. Sebagai sebuah sistem tersendiri, padepokan punya otonomi penuh. Bagaimana strategi dan cara-cara sang resi memerintah wilayahnya, Raja tak bisa campur tangan. Pendek kata, Pandito merdeka. Bahkan untuk urusan moral, ia adalah raja (panutan) bagi sang raja. Bila kedaulatan pandito dilanggar, suara pandito tak lagi didengar raja, ini pertanda bahwa kraton berada dalam ambang kehancuran.

Dengan kata lain, dunia Pandito dan ratu berbeda. Corak kekuasaan pandito tidak sama dengan kekuasaan Ratu. Pemisahan kekuasaan pandito-ratu adalah ibarat pemisahan badan dari roh. Raja adalah badan. Pandito roh.

Dalam kaitan ini, orang tak bisa mengatakan yang satu lebih penting daripada yang lain. Benar bahwa peran Pandito-Ratu bisa saja hadir dalam satu sosok pribadi yang sama. Namun peran itu harus dijalankan pada waktu yang berbeda. Dalam tradisi Jawa, umumnya penggeseran itu dimulai dari Ratu ke Pandito. Tidak pernah ada presendence yang sebaliknya: seorang Pandito kemudian menjadi Ratu. Yang ada ialah Ratu yang lengser kalenggahan (meninggalkan alam ramai) untuk Mandito (menjadi pandito), dan tinggal di lereng-lereng gunung, bersama para cantrik seperti disebutkan di atas. Resi Begawan Abiyoso, pandito sakti yang membuka padepokan di Sapta Arga, itu dulunya seorang raja agung binatara di Astina.

Transformasi dari ratu ke pandito bukan transformasi psikologis. Ia, dengan kata lain, merupakan sebuah laku batin, ketika kebutuhan untuk hidup asketik dirasa telah tiba saatnya untuk dipenuhi. Laku batin seperti ini lebih merupakan kecenderungan pribadi. Artinya, ia tidak bisa diprogramkan, tidak bisa dimassalkan. Dengan kata lain, ia merupakan sebuah panggilan hati. Dan panggilan seperti itu datangnya selalu kelak, setelah orang menjadi tua, setelah berhenti dari jabatan, setelah jenuh dengan kekuasaan. Atau setelah tak lagi tahan menghadapi kerasnya benturan dalam dunia politik dan kemiliteran.

Ada jadinya motif-motif melarikan diri dari kenyataan itu untuk mencoba hidup dengan selubung roh dan jubah panjang. Namun banyak pula orang yang menempuh hidup asketik sebagai pandito dengan kesadaran bahwa mandito adalah pilihan terbaik. Dan bahwa dengan mandito ia bisa memberikan sumbangan lebih besar bagi masyarakat, bangsa, dan negaranya.
Menuju Indonesia Raya Ibu Megawati “menyerahkan” kekuasaan kepada orang lain, bukan trah Soekarno, hanya rakyat biasa dari pinggir bengawan Solo, orang itu bernama Bpk Joko Widodo. Bisa diartikan Ibu Megawati begitu menyadari bahwa pada saatnya harus lengser keprabon dan Madeg Pandhito.

Laku madeg Pandito yang dilakukan ibu Megawati, mengingatkan kepada Sosok Ratu Kalinyamat. Seorang Ratu yang mempunyai nama asli Retno Kencono, pernah memimpin Jepara yang berpusat di Kalinyamat. Jepara adalah salah satu daerah kekuasaan Demak. Saat saat terakhir keruntuhan Demak terjadi chaos karena perebutan kekuasaan antara Haryo Penangsang dan Ratu Kalinyamat.

Atas kesadaran penuh, Ratu Kalinyamat meninggalkan segala gemerlap dan kemewahan kerajaan, memilih laku Madeg Pandito yang sangat terkenal dengan sebutan “ Laku Topo Wudo Sinjang Rambut”, di Lereng Gunung Donorojo. Kerajaan Demak dan Jepara diserahkan kepada adik Iparnya bernama Joko Tingkir bergelar sultan Hadi Wijoyo suami Ratu Mas Cempaka, putri ayahnya Sultan Trenggono.

“Laku topo wudo sinjang rambut” adalah Ratu Kalinyamat mengamalkan konsep zuhud dengan penuh ketawakalan dan kesabaran. Dengan keikhlasan yang tulus dan tekat yang kuat Ratu Kalinyamat rela meninggalkan gemerlap kehiduan dunia, melepas segala atribut kebesaran sebagai seorang ratu menjadi seorang pertapa dan melepas semua kemewahan dunia fana dalam Rangka memohon pertolongan kepada Allah.

Madeg pandhito adalah kebiasaan raja raja Jawa ketika sudah sepuh. Biasanya mereka mewariskan kerajaan kepada putera mahkota kemudian pergi meninggalkan kerajaan, menyendiri bertapa di sebuah kuil yang dibangun dilereng gunung, untuk konsentrasi memohon kepada Allah.

Jika Ratu Kalinyamat memilih menyerahkan kekuasaan Demak dan Jepara kepada JOKO TINGKIR maka Ibu Megawati memilih menyerahkan Kekuasaan Pemerintahan Indonesia kepada Bpk JOKO WIDODO.

Joko Tingkir berhasil mengendalikan chaos di Demak dengan menumpas Haryo penangsang. Kemudian Joko Tingkir memindahkan ibukota Demak ke Pajang dan menjadi raja dengan gelar Sultan Hadi Wijoyo.

Mungkinkah jalan Pak Joko Widodo akan seperti Joko Tingkir yang sukses mengemban amanah Ratu Kalinyamat “ Ratu yang Madeg Pandito” ? Semoga …

Semoga Bapak Joko Widodo dijadikan sebagai Pemimpin yang amanah setelah menjadi Presiden RI. Dan Dibimbing oleh Ibu Megawati dan Pak Susilo Bambang Yudhoyono setelah Madeg Pandito dan dibimbing oleh Pandito lainnya dan diimbangi oleh Peran Pak Prabowo Soebianto sebagai penyeimbang di luar Pemerintahan untuk menuju Indonesia Jaya Amin.

*Dirangkum dari berbagai sumber by Satrio

  JKGR  

Sweden And Indonesia Can Work Together In A Triple Helix Context To Build New Capabilities

Dan Enstedt, President & CEO, Saab Asia Pacific

Can you brief us on Saab’s activities in Indonesia?

We have always had a strong product presence across the region stretching from Korea across to India. Our products have found favour with most countries in South East Asia and have stood the test of time. As our customers have become larger and their challenges have become more complex, we have established offices that take us closer to them. We opened our new office in Indonesia in 2013 and followed up with a programme to cooperate in the field of education.

The Indonesian armed forces have been customers for RBS 70 and Giraffe radars and we see a lot of developments across a wider spectrum of areas. Indonesia faces fairly unique challenges ranging from the geographic challenge of securing over 17,000 islands to being the guardians of one of the world’s most sensitive sea channel. There are threats of pirates, illegal fishing, logging and immigrants. All require affordable, high quality surveillance systems that are able to deliver results. For Indonesia, it is not merely a question of adding up the numbers required to police such a vast and complex land and ocean terrain. It is a question of how assets multiply capability through technology platforms. For example, data linking between land, air and sea assets result in the ability to synchronize information and deploy the best and fastest solution. Saab excels in such solutions which is possibly a reason that the Indonesia defence forces take so much interest in our products.

A more interesting parallel is in how Saab and Sweden created technology that was independent of large power dependence due to its unique political stance during the cold wars. Today, we see many parallels with Indonesia which straddles an area that is of interest to virtually all the super powers – all of which are strongly present in the immediate proximity. With Indonesia committed to creating a strong domestic defence industry, Saab sees itself a perfect partner that can enable creation of a domestic defence industry due to its inherent philosophy of industrial cooperation.

How does the Gripen meet the future requirements of Indonesian Air Force? Also, given its already mix of different types of aircraft, how does Gripen fit the Air Force’s need for synergies?


The Indonesian Air Force polices a very large area that includes +17,000 islands stretching over nearly 2 million square kilometres. The vast archipelago requires air power that has high operational availability, short time on the ground and the ability to perform multiple roles as situations can morph into threats and require intervention in a very short span of time. Most importantly, the country needs enough number of aircraft to guard borders that are, in a sense, open from all directions.

Effective Air Force capability requires high availability of aircraft, long time on station, short turn arounds, long ferry range and large combat radius. The country spends around 1% of its GDP on Defence so it would be looking at aircraft that are affordable, superior and have low operational cost. All these make the Gripen an ideal solution for Indonesia.

Gripen is the first of the new generation, multi-role fighter aircraft to enter operational service. Using the latest technology, Gripen is capable of performing an extensive range of air-to-air, air-to-surface and reconnaissance missions employing the latest weapons.

The Gripen is an extremely capable fighter aircraft with true multi-role capability and is cost effective to operate over the long run, as opposed to the bigger twin-engined competitors. In a recent IHS Jane’s study of six aircraft, based on assessment from primary and secondary sources, it was concluded that estimated cost per flight hour (CPFH) of the Gripen is the lowest at $4,700.

Using the latest technology it is capable of performing an extensive range of air-to-air, air-to-surface and reconnaissance missions employing the latest weapons. Gripen is designed to meet the demands of existing and future threats, while simultaneously meeting strict requirements for flight safety, reliability, training efficiency and low operating costs.

The open design of the Gripen allows for full payload flexibility and a full range of weapon integration options.

The Gripen has demonstrated interoperability while flying missions with diverse aircraft both in NATO exercises and during surveillance missions over Libya. This would be of great use to the Indonesian Air Force with its mixed fleet structure.

Will Saab be investing in the civil sector as well?

Yes, Saab sees for itself a very large role in the civil sector.

The big challenge for Indonesia is to build capacity in critical infrastructure: Air traffic, Vessels traffic and port management, road and rail transportation. Sweden and Indonesia can together increase capacity on all aspects using technology as the key enabler. However, it is not simply a question of buying technology. The critical aspect is in building domestic capacity that will result in absorption of technology as well as creation of capability to manage and operate these systems along with the ability to create future platforms.

The road to this goal lies in the Triple Helix approach where companies, government and academic institutions work together. Sweden and Indonesia can work together in a triple helix context to build new capabilities and share innovations that will be the basis for the next generation of green and efficient airports, ports, rail and road transportations while creating efficient infrastructure.

Further, there are clear areas where Saab’s technology and solutions can make a big difference.

Take the port sector. As ships become bigger and bigger, port infrastructure and approaches have to be monitored continuously. While in the past, ships updated their charts based on the latest notices to mariners, ECDIS users can update their charts as frequent as information becomes available. These services will enable the larger ships to come in under conditions of haze, fog and reduced visibility because of rain. By making use of these modern technologies, Tanjung Priok and other Indonesian ports can compete successfully with other ports in the South East Asian region.

Second, take a look at the requirements for airport infrastructure. Indonesia currently has 57 airlines serving 400 domestic and international routes. Many of these airlines are growing at rapid rates. Lion Air has signed contracts over the last 3 years for over 500 new aircraft. Demand however is outstripping the available aviation capacity. Soekarno-Hatta airport in Jakarta is currently serving 1,100 aircraft movements per day with over 60 million passengers per annum. Its capacity is only 22 million passengers. Saab offers a wide range of solutions designed to support the aviation industry in optimizing the different sectors of air transportation covering air traffic control, airline and airport operations management, and data integration and distribution.

  saabgroup  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...