Senin, 30 Maret 2015

Pesawat Tempur T-50 Golden Eagle Latihan Solo Aerobatik

Pesawat T-50i Golden Eagle melakukan manuver pada latihan solo aerobatic di Lanud Iswahjudi. (pen-Lanud Iswahjudi)

Peringatan HUT ke-69 TNI Angkatan Udara tinggal beberapa hari lagi, Lanud Iswahjudi sebagai sebagai pangkalan operasinal yang mengawaki alutsista pesawat tempur, mulai mempersiapkan diri dengan melaksanakan latihan aerobatic dengan menggunakan pesawat tempur T-50 Golden Eagle, Jumat (27/3/15).

Latihan Fly pass tunggal yang dilaksanakan oleh Komandan Skadron Udara 15 Letkol Pnb Marda Sarjono bersama Mayor Pnb Gultom, disaksikan langsung oleh Waasops Kasau Marsekal Pertama TNI Yuyu Sutisna, S.E., didampingi Komandan Lanud Iswahjudi Marsekal Pertama TNI Donny Ermawan T., M.D.S., di main apron Lanud Iswahjudi.

Selain menyaksikan aerobatic pesawat T-50i Gaolden Eagle, Waasops Kasau juga memberikan arahan sekaligus memastikan kesiapan Lanud Iswahjudi dalam mendukung perayaan HUT ke-69 TNI Angkatan Udara yang akan dilaksanakan di Lanud Halim Perdana Kusuma, Jakarta.

Kapen Lanud Iswahjudi
Wahyudi, S.Sos.
Mayor Sus

  Poskota  

Sekilas Gultor Sat 81

Operasi Woyla, Cikal Bakal Dibentuknya Satgas Gultor Sat-81 Kopassus Latihan Gabungan Satuan Gultor TNI di Madiun (Elza/detikcom)

Keberhasilan Kopassus 34 tahun lalu dalam pembebasan sandera teroris yang membajak Pesawat Garuda di Thailand menjadi tonggak sejarah penanggulangan aksi teror di Indonesia.

Pembebasan sandera pada tahun 1981 yang dikenal sebagai Operasi Woyla tersebut menjadi cikal bakal dibentuknya Satgas Penanggulangan Teror (Gultor) Satuan-81 Kopassus.

Tepat 34 tahun lalu, Sabtu 28 Maret 1981, Pesawat Garuda DC-9 Woyla dibajak oleh organisasi teroris jihad pertama di Indonesia.

Pada 31 Maret 1981, pasukan Komado Pasukan Sandi Yudha (Kopassandha) yang merupakan nama Kopassus saat itu, berhasil melumpuhkan para teroris dan menyelamatkan seluruh sandera pesawat di Bandara Don Muang, Bangkok, Thailand.

Operasi tersebut di bawah komando mantan Pangab Benny Moerdani yang kala itu menjabat sebagai Kepala Badan Intelejen Strategis (BAIS) ABRI.

"Itu cikal bakal dibentuknya Sat 81. Dengan itu Pak Benny mendorong terbentuknya Gultor Kopassus. Dengan semangat untuk menjaga keutuhan NKRI, terutama dari aksi-aksi teroris," ungkap Komandan Sat-81 Kopassus Kolonel Inf Thevi Zebua saat berbincang dengan detikcom di Mako Kopassus, Cijantung, Jaktim, Sabtu (28/3/2015).

Sat-81 merupakan satuan elit dari Kopassus yang bertugas dalam penanggulangan teror. Satuan ini sering menggelar latihan bersama dengan satuan Gultor dari TNI AU, Detasemen Bravo (Den Bravo) yang merupakan satuan elit Komando Pasukan Khas (Kopaskhas) dan Gultor TNI AL, Detasemen Jala Mangkara (Denjaka) yang merupakan satuan elit gabungan personel Komando Pasukan Katak dan Taifib Marinir.

Di buku Iwan Santosa dan E.A Natanegara yang berjudul 'Kopassus untuk Indonesia', dijelaskan bahwa keberadaan satuan di TNI dalam penanggulangan teror tidak terlepas dari sejarah keberhasilan Kopassus pada Operasi Woyla. Tak lebih dari 5 menit, seluruh teroris dapat dilumpuhkan dan sandera diselamatkan.

"Terinspirasi dari peristiwa tersebut dan melihat perkembangan situasi serta mengantisipasi maraknya tindakan pembajakan pesawat terbang era 1970/80-an, Kepala BAIS ABRI menetapkan lahirnya sebuah kesatuan baru setingkat detasemen di lingkungan Kopassandha," demikian penjelasan Iwan dan Natanegara dalam bukunya.
Akhirnya pada 30 Juni 1982, berdirilah Detasemen 81 Anti Teror (Den-81 AT) Kopassandha dengan komandan pertama Luhut Panjaitan yang saat itu berpangkat Mayor. Sementara Prabowo Subianto sebagai Kapten menjadi wakil Luhut.

"Kedua perwira tersebut sempat dikirim ke GSG-9 (Grenzschutzgruppe-9) Jerman untuk mendalami penanggulangan teror dan sekembalinya ke Tanah Air dipercaya menyeleksi dan melatih prajurit yang ditunjuk ke Den-81 AT," terang buku 'Kopassus untuk Indonesia'.

Detasemen 81 AT pun seiring perkembangan organisasi berubah nama pada tahun 1996 menjadi Grup 5 Anti Teror. Kemudian pada tahun 2002, namanya berubah lagi menjadi Satuan-81 Kopassus sampai sekarang.
Proses Perekrutan dan Kemampuan Personel Gultor Sat-81 Kopassus Menjadi personel satuan penanggulangan teror Satuan-81 Kopassus tidaklah mudah. Tes yang harus dijalani sangat sulit karena setiap anggota Sat-81 harus memiliki kemampuan luar biasa.

Sat-81 yang berisi orang-orang pilihan merupakan satuan elite dari Pasukan Khusus TNI AD. Berdasarkan buku 'Kopassus untuk Indonesia' yang ditulis oleh Iwan Santosa dan E.A Natanegara, sedikitnya ada 4 tes yang harus dilalui dalam seleksi masuk sebagai anggota Sat-81 Kopassus.

"Proses rekrutmen prajurit penanggulangan teror (Gultor) dimulai sejak seorang prajurit selesai mengikuti pendidikan Para dan Komando di Batujajar," tulis Iwan dan Natanegara dalam bukunya, seperti dikutip pada Minggu (29/3/2015).

Setelah lulus dari pendidikan tersebut, mereka lalu ditempatkan di satuan tempur Grup 1 dan Grup 2 untuk mendapat orientasi atau mendapatkan pengalaman operasi. Dari situ, prajurit yang ingin bergabung dengan satuan elite Gultor harus melewati beberapa tahapan dengan tingkat kesulitan yang tinggi. Pertama adalah tes IQ yang harus di atas rata-rata 110.

"Kedua tes kesehatan (stakes II), ketiga tes jasmani (kategori BS), dan tes akhir (Pantukhir)," terang buku 'Kopassus untuk Indonesia'.

Stakes II merupakan standar penilaian pada tes kesehatan dengan kondisi yang meski memiliki kelainan atau penyakit derajat ringan, penyakit tersebut tidak mengganggu fungsi tubuh. Sementara kategori BS dalam tes Jasmani berarti orang tersebut memiliki Jasmani Baik Sekali. Untuk tes Pantukhir sendiri biasanya prajurit akan diterjunkan di lapangan untuk diketahui tingkat kemampuannya.

Saat ini Satuan-81 Kopassus dipimpin oleh Kolonel Inf Thevi Zebua dengan wakil Letkol Inf Murbianto. Markas Sat-81 berada di kompleks Mako Kopassus di Cijantung, Jakarta Timur. Grup satuan elit ini memiliki personel paling sedikit dari grup-grup lain di Kopassus.

"Karena Sat-81 terdiri dari prajurit-prajurit pilihan yang diseleksi dari setiap grup Kopassus lainnya," kata Thevi kepada detikcom, Sabtu (28/3/2015).

Prajurit Gultor itu harus memiliki spesialisasi kemampuan tinggi. Di antaranya adalah tembak runduk (bakduk) dan freefall atau terjun bebas. Mereka juga memiliki regu dengan spesifikasi kemampuan khusus, yaitu Tim Pasukan Katak (Paska) dan K9 (gugus jihandak).

"Tim Paska adalah Tim Pasukan Katak yang ada di Batalyon bantuan di Sat-81 Kopassus. Prajurit-prajurit di Gultor yang memiliki kemampuan operasi di atas dan di bawah permukaan air. K9 itu Satuan Cakra yang dalam melaksanakan tugasnya menggunakan satwa anjing," jelas Thevi.(ear/dha)
Kesiagaan Perlu Ditingkatkan Maraknya aksi terorisme baik di dalam maupun luar negeri, menjadi perhatian serius para personel penanggulangan teror (Gultor) Satuan-81 Kopassus. Menurut sang komandan, Kolonel Inf Thevi Zebua, readiness atau kesiapsiagaan perlu ditingkatkan.

"Ancaman teror itu kan sekarang sudah maju. Tidak seperti dulu, saat ini lebih kompleks lagi. Kita perlu meningkatkan readiness," ungkap Thevi saat berbincang dengan detikcom di Mako Kopassus, Cijantung, Jaktim, Sabtu (28/3/2015).

Perkembangan aksi teror saat ini disebutnya lebih masive. Para teroris, kata Thevi, bisa dalam waktu bersamaan melalukan tindakan teror di tempat yang berbeda.

"Artinya kita perlu perkembangan lebih lagi dalam melatih (prajurit Gultor). Perlu ada sinergitas, interoperability, informasi harus up to date terus. Ini (penanggulangan teror) tidak bisa diselesaikan oleh satu satuan saja. Harus bersamaan," kata Thevi.

Interoperability sendiri merupakan tuntutan yang harus dimiliki kekuatan pertahanan, mencakup antar-alutsista dan juga antar-kemampuan. Setiap prajurit militer harus menanamkan prinsip ini, di mana interoperability bisa juga ditafsirkan sebagai ketulusan bersinergi dengan mitra lain untuk mencapai keberhasilan yang merupakan tujuan bersama.

Thevi pun memberi contoh, dalam Operasi Woyla pada tahun 1981 lalu, keberhasilan Kopassus tidak bisa dilepaskan dari peran pemerintah. Sebab meski Pesawat yang dibajak teroris Kelompok Jihad merupakan milik Indonesia, lokasi kejadian berada di luar negeri yaitu di Bangkok, Thailand.

"Itu perlu keterlibatan pemerinah. Itu kan terjadi di luar negeri, harus ada hubungan diplomatik yang baik, kita harus memilihara itu. Artinya pada saat itu hubungan kita dengan Thailand sangat baik," tutupnya.(ear/jor)


  detik  

Mengenang Keberhasilan Operasi Woyla

Intelijen Amerika Bocorkan Bukti Qatar Suap FIFAPesawat Garuda Airways 'Woyla'

T
epat 34 tahun yang lalu di hari dan tanggal yang sama, operasi Woyla dilakukan oleh Kopassus. Saat itu hari Sabtu, 28 Maret 1981 adalah tonggak sejarah keberhasilan personel Kopassus membebaskan sandera pembajakan pesawat oleh teroris pertama yang dilakukan di Thailand.

Seperti dilansir dari berbagai sumber, kala itu 5 orang teroris yang dipimpin oleh Imran bin Muhammad membajak pesawat Garuda Indonesia jurusan Jakarta-Medan. Mereka yang mengidentifikasi diri sebagai anggota kelompok Islam ekstremis Komando Jihad naik dari Bandara Palembang saat pesawat transit.

Para pembajak yang menyamar sebagai penumpang lalu menyuruh pilot pesawat DC-9 Woyla itu, Kapten Pilot Herman Rante dan Kopilot Hedhy Djuantoro, untuk terbang menuju Kolombo, Sri Langka. Namun karena bahan bakar terbatas, pesawat lalu transit di Bandara Penang, Malaysia, untuk isi bahan bakar.

"Tuntutan mereka agar temen-temannya dibebaskan," cerita Komandan Penanggulangan Teror Kopassus, Satuan 81 Kolonel Inf Thevi Zebua di Mako Kopassus, Cijantung, Jakarta Timur, Sabtu (28/3/2015).

Sebelum pembajakan terjadi, beberapa anggota Komando Jihad memang ditahan pasca Peristiwa Cicendo di Bandung, Jawa Barat. Saat itu 14 orang dari kelompok radikal tersebut membunuh 4 personel polisi di Kosekta 65 pada 11 Maret 1981 dinihari.

Total ada 48 penumpang di dalam pesawat yang dibajak ditambah 5 kru, termasuk 3 pramugari. Mereka membacakan tuntutannya yakni: 80 anggota Komando Jihad yang menjadi tahanan politik dibebaskan, uang senilai USD 1,5 juta, orang Israel dikeluarkan dari Indonesia, dan Adam Malik dicopot sebagai wakil presiden.

Teroris juga meminta pesawat Woyla terbang ke Timur Tengah mengantar mereka beserta tahanan yang dibebaskan. Mereka mengaku telah memasang bom dan akan meledakan diri bersama pesawat berserta penumpang jika tuntutannya tidak dikabulkan.

Sehari setelah tersiarnya kabar pembajakan, pembebasan sandera dilakukan oleh Komado Pasukan Sandi Yudha (Kopassandha) yang merupakan nama Kopassus saat itu. Operasi dikomandoi oleh mantan Panglima TNI Jenderal Benny Moerdani yang saat itu menjabat sebagai Kepala Pusat Intelijen Strategis.

Setelah mendapat perintah untuk menyiapkan pasukan, Benny langsung menghubungi Asrama Kopasandha yang diterima oleh sang asisten operasi, Letkol Sintong Panjaitan.

"Waktu itu zamannya pak Benny Moerdani. Pilot Garuda melaporkan adanya pembajakan pesawat oleh teroris," kata Thevi.

Saat peristiwa tersebut terjadi, Indonesia belum memiliki pengalaman dalam menangani terorisme pembajakan pesawat. Setelah melakukan pelatihan dengan meminjam pesawat Garuda, pada Minggu, 29 Maret 1981 malam, 35 anggota Kopassandha bertolak ke Bandara Don Muang, Thailand, tempat pesawat yang dibajak terakhir mendarat.

Operasi pembebasan sandera itu sempat menuai protes dari Amerika Serikat (AS). Dubes AS kala itu, Edward Masters menghubungi Benny Moerdani dan meminta agar operasi militer tersebut dibatalkan terlebih dahulu dan menunggu bantuan. Benny dengan tegas menolaknya. AS khawatir karena ada warga negaranya yang berada di dalam pesawat yang dibajak itu.

"Maaf pak, tapi ini sepenuhnya adalah permasalahan yang dihadapi Indonesia. Ini pesawat udara Indonesia," tutur Benny menjawab permintaan AS seperti ditirukan Thevi. Ia juga menegaskan bahwa Indonesia berhak mengambil segala langkah untuk meringkus para pembajak tanpa perlu meminta izin dari negara lain.

Pemimpin CIA di Thailand juga waktu itu menawarkan untuk memberi pinjaman rompi anti peluru namun ditolak karena pasukan Kopassandha telah membawa perlengkapan sendiri.

Pesawat Garuda DC-10 yang membawa pasukan Kopassandha mendarat di Bandara Don Muang setelah mendapat clearance dari Thailand dengan menyamar sebagai pesawat Garuda yang baru terbang dari Eropa.

Pasukan tak bisa langsung menyergap para teroris dan menyelamatkan sandera, sebab pemerintah Thailand tak langsung memberikan izin. Akhirnya clearance diberikan usai Benny bertemu dengan Perdana Menteri Thailand saat itu, Prem Tinsulanonda. Meski deadlock sempat terjadi dalam perundingan, Indonesia bersikeras menyelesaikan sendiri pembajakan yang terjadi.

Sintong yang pada saat itu sedang terluka di bagian kakinya, memutuskan terjun ke lapangan untuk membantu anak buahnya melakukan operasi pembebasan sandera. Ia bahkan membuang tongkat penyangga kakinya. Sebelum operasi dilakukan, pasukan kembali melakukan latihan di mana seorang pilot Garuda berkontribusi memberi informasi mengenai bagian-bagian pesawat.

Salah seorang penumpang yang menjadi sandera, WN Inggris, berhasil keluar melalui pintu darurat dengan selamat karena para pembajak sudah mulai lelah. Sementara itu seorang WN Amerika yang juga berusaha menyelamatkan diri tertembak teroris dan tersungkur di aspal. Pembajak pun marah besar.

Selasa, 31 Maret 1981 dinihari, pasukan yang terbagi menjadi 3 tim mulai mendekati pesawat yang dibajak. Mereka berbaring di lantai mobil, bersama Benny yang tiba-tiba masuk dan ikut dalam operasi. Sintong pun kaget karena hal tersebut di luar skenario sebelumnya.

Di tengah deretan pasukan berseragam berbaret merah, Benny mengenakan pakaian preman dengan tangan memegang pistol. Sintong pun sempat memerintahkan anak buahnya agar mengeluarkan perwira tinggi 3 bintang itu demi keamanannya. Namun tak ada yang berani.

Dari kesaksian penumpang, serbuan dimulai dalam kegelapan malam di mana pasukan mendobrak semua pintu kabin pesawat dari luar. Baku tembak pun riuh terdengar dan membangunkan para penumpang yang sedang terlelap.

Salah satu anggota pasukan bernama Achmad Kirang dan Kapten Pilot Herman Rante tertembak dalam operasi pembebasan sandera ini. Setelah beberapa hari mendapat perawatan medis, nyawa keduanya tak dapat diselamatkan. Mereka pun dimakamkan di TMP Kalibata.

"Pak Achmad pangkatnya saat itu Peltu. Tapi karena dia gugur dalam tugas, dapat Bintang Sakti langsung jadi Perwira, kenaikan pangkat luar bisa 2 tingkat, anumerta," jelas Thevi.

Drama penyanderaan tersebut akhirnya dapat diakhiri setelah 60 jam berlangsung. Di bawah pimpinan Sintong, pasukan Grup 1 Para-Komado Kopassandha berhasil menyelamatkan seluruh penumpang.

Tiga orang pembajak tewas seketika, 2 lainnya meninggal beberapa saat usai ditembak. Namun pimpinan teroris, Imran bin Muhammad Zein selamat dan ditangkap. Ia pun lantas dihukum mati.

Usai penyerbuan singkat itu, Benny lalu menghubungi Kepala Bakin (sekarang BIN) Jenderal Yoga Sugomo melalui kokpit pesawat. Ia menginformasikan bahwa operasi telah selesai dijalankan. Sejumlah negara pun memberikan apreasiasi tinggi terhadap keberhasilan Indonesia tersebut.

"Sekarang kalau direfleksikan, untuk generasi penerus harus mempersiapkan segala sesuatu dalam menghadapi aksi teror," tukas Thevi.

Sementara Asintel Kopassus, Kolonel Inf Rafael G Baay menyatakan Operasi Wolya merupakan sejarah keberhasilan yang membuat pasukan Indonesia tak lagi dipandang sebelah mata oleh negara-negara maju.

"Itu yang menempatkan kita jadi nomor 3 terbaik di dunia. Belum lagi operasi-operasi lainnya seperti di Papua tahun 1997. Itu bagian dari tugas kita," ucap Rafael di lokasi yang sama.

  ★ detik  

[World] Ratusan pembom Su-34 akan diproduksi untuk menggantikan Su-24

Sukhoi Su-34

Lebih dari seratus pesawat pembom Su-34 akan diproduksi untuk menggantikan Su-24. Tahun ini Perusahaan Dirgantara Novosibirsk "Sukhoi" memproduksi 16 pesawat jenis ini. Hal ini dikemukakan oleh Direktur Direktorat pesawat militer dari United Aircraft Corporation (UAC), mantan Panglima Angkatan Udara Vladimir Mikhailov.

"Tahun ini, Perusahaan harus memberikan 16 unit pesawat Sukhoi Su-34. Novosibirsk siap untuk menyelesaikan atas rencana tersebut," kata Vladimir Mikhailov saat berkunjung ke Novosibirsk, yang dipimpin oleh Wakil Menteri Pertahanan Yuri Borisov.

"Su-34 akan diproduksi lebih dari seratus unit untuk menggantikan Su-24" - kutip RIA Novosti.

Dia menekankan bahwa "Sukhoi Su-34 memiliki prospek yang baik. Pesawat ini adalah untuk menggantikan Sukhoi Su-24. Pesawat ini sangat baik, dan dapat terbang dengan pengisian bahan bakar jarak jauh. Artinya, mesin memenuhi semua persyaratan pesawat bomber."

Pada gilirannya, Kepala urusan senjata Departemen Pertahanan, Letnan Jenderal Anatoly Gulyaev mengatakan perusahaan dirgantara Novosibirsk merupakan perusahaan "Sukhoi" yang terbaik. "Kami tidak ragu bahwa perusahaan akan memenuhi rencana pada 2015," - kata Ashot Ghulyan.[warfiles]

  Garuda Militer  

Minggu, 29 Maret 2015

[Video] Wawancara Reogranisasi TNI

Berikut ini video Berita Satu TV perihal wawancara Jend Moeldoko mengenai reogranisasi TNI diambil dari Youtube


  Garuda Militer  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...