Senin, 02 Mei 2016

[Dunia] Pasukan Khusus Inggris dan Italia Diserang di Libya

Ilustrasi

Pasukan Khusus Inggris (Special Boat Service – SBS) telah disergap oleh pelaku bom bunuh diri ISIS di Libya, rilis situs Israel. Serangan terjadi pada Rabu lalu dan dikabarkan membunuh atau melukai pasukan khusus Italia yang tergabung dalam konvoi bersama personel SBS.

Kendaraan yang memuat bahan peledak menyusul konvoi yang mengangkut tentara Italia dan Inggris dan meledakkan diri, ungkap situs berita DEBKA.

Laporan tersebut semakin menguatkan spekulasi bahwa pasukan khusus SBS dan Special Forces Support Group, bergabung merencanakan serangan ke Sirte yang dikuasai ISIS. Menurut DEBKA, penyergapan terjadi setelah pasukan elite yang bersama militer Libya – berangkat dari kota pesisir Misrata menuju ke arah Sirte, 150 mil di selatan-timur.

Pejuang ISIS lain setelah meledakan bom kemudian menyerang dengan mortir dan senapan mesin berat, lapor website tersebut, Pasukan Khusus tersebut hanya bisa bertahan dan balik menyerang setelah pesawat tempur dan helikopter Italia datang membantu.

Kementerian Pertahanan Inggris saat dikonfirmasi tidak membenarkan atau menyangkal klaim tentang pergerakan pasukan khususnya di Libya. Pasukan Khusus Inggris dilaporkan sudah berada di Libya selama berbulan-bulan dan Menteri Luar Negeri Inggris Philip Hammond mengisyaratkan pasukan lainnya bisa dikirim untuk membantu militer Libya yang rapuh menghadap serangan militan ISIS. [DailyNews]
 

  JKGR  

Minggu, 01 Mei 2016

TNI akan Tempatkan Pesawat Tempur di Biak

Pesawat tempur Indonesia

Tentara Nasional Indonesia (TNI) akan membuat pangkalan pertahanan di pulau terluar Biak, Papua. Hal itu diungkapkan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo saat meninjau pangakalan udara dan pangkalan laut Biak, Sabtu (30/4).

"Di Biak ini kosong tidak ada pesawat tempur, padahal landasan sudah ada, jadi kita akan membuat pangkalan-pangkalan baru dengan memanfaatkan bangunan yang sudah ada," kata Gatot.

Gatot mengatakan, selama ini kekuatan angkatan udara berfokus pada Pulau Jawa. Dengan kebijakan Presiden RI Joko Widodo yang menginginkan Indonesia menjadi poros maritim dunia, menurut dia, Indonesia harus terbuka.

"Kan poros maritim dunia, jadi lebih luas lagi jalurnya. Semua wilayah Indonesia harus benar-benar dikuasai, maka kunci dari poros maritim itu adalah menguasai lautan dan udara," kata Gatot.

Oleh sebab itu, pesawat tempur yang selama ini terpusat di beberapa kota, seperti di Madiun dan Makassar akan dipindahkan ke Biak. "Agar jumlahnya rata karena sekarang kita tidak bisa prediksi musuh akan datang dari mana. Pasti musuh mencari peluang dengan melihat daerah kosong yang tidak ada pertahanannya. Oleh karena itu, kita isi," katanya.

Menurut Gatot, potensi Indonesia yang kaya akan pulau-pulau perlu dimanfaatkan menjadi kapal induk. "Kita tidak butuh kapal induk, pulau-pulau kita jadikan kapal induk. Kalau di sini bisa kita letakkan pesawat tempur, pesawat transportasi, kemudian kapal-kapal, dan juga logistik, terus apa bedanya pulau ini dengan kapal induk untuk menjaga wilayah," katanya.

 Panglima TNI Ingin Pangkalan Udara Lama di Biak Direnovasi.

Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo berencana membangun pangkalan udara baru di Papua. Pangkalan baru dibangun sesuai dengan rencana penambahan kekuatan pertahanan nasional di Pangkalan TNI AU Manuhua, Biak, Papua.

"Nah di sini kan kosong, di sini gak ada, pesawat tempur tidak ada yang lain nggak ada. Padahal landasan sudah ada. Jadi kita akan membuat pangkalan-pangkalan baru tetapi memanfaatkan yang sudah ada juga," tutur Gatot Nurmantyo seusai tinjauan pangkalan udara dan dermaga di Biak, Sabtu (30/4/2016).

Biak merupakan pulau terluar di wilayah timur Indonesia dan menghadap langsung dengan Samudera Pasifik. Butuh waktu sekitar 45 menit perjalanan dari Jayapura menggunakan pesawat untuk sampai di pulau tersebut.

Struktur bangunan pangkalan lama di Pulau Biak disebut Gatot masih kokoh. Namun diperlukan renovasi agar dapat kembali digunakan,

"Biak, Morotai, bangunan-bangunan saya lihat tadi pas turun besinya masih bagus. Ya kita nggak usah bangun baru lagi. Gitu saja kita renovasi," sambung dia.

Dari peninjauan ke wilayah timur, Gatot mengaku dapat memetakan kondisi pertahanan keamanan termasuk rencana strategis yang akan dilakukan,

"Selama ini kan kita berorientasi bahwa kekuatan angkatan udara terfokus di Pulau Jawa. Kemudian dengan kebijakan presiden menerapkan bahwa Indonesia sebagai poros maritim dunia maka kan terbuka. Kita kan sebagai poros maritim dunia nggak bisa kamu lewat sini -merujuk pada kekuatan laut- aja," paparnya.

Semua wilayah Indonesia sambung Gatot harus dikuasi untuk menjadi poros maritim dunia. Kuncinya penguasaan laut dan udara,

"Jadinya semua wilayah Indonesia ini harus kita kuasai. Jadinya yang bisa menguasai udara laut dia menang. Jadi kunci poros maritim dunia kita harus menguasai laut dan udara," ujar Gatot.

Sebelum meninggalkan Biak, tak lupa Gatot berpesan kepada para anak buahnya dalam pembangunan pangkalan ataupun dermaga ke depan untuk memanfaatkan bangunan yang ada.

"Satu lagi, hutan jangan di buat bangunan karena untuk menyimpan air yang ada," pesan Gatot. (fdn/fdn)
 

  Republika | detik  

Panglima TNI Ingin Pulau 'Kapal Induk' Segera Terealisasi

"Kita tidak butuh kapal induk. Pulau-pulau kita jadikan kapal induk"Ahmad Masaul Khoiri/detikcom

Panglima TNI Gatot Nurmantyo berencana menjadikan pulau-pulau terluar menjadi 'kapal induk'. Pulau terluar diharapkan bisa menjadi basis pertahanan Indonesia.

"Kita tidak butuh kapal induk. Pulau-pulau kita jadikan kapal induk. Daripada kita beli kapal induk, berapa? Mendingan pulau-pulau kita buat (sebagai markas militer)," ujar Gatot saat mengunjungi Pulau Biak, Papua, Sabtu (30/4/2016).

Realisasi pembangunan pulau sebagai 'kapal induk' menurut Gatot akan dilakukan dalam waktu dekat. 'Kapal induk' ini akan menambah kekuatan di daerah perbatasan,

"Saya sih maunya cepet-cepetan aja. Supaya angkatan perang kita siap dengan segala kemungkinan," kata dia.

Pulau 'kapal induk' akan menjadi markas alat militer melakukan pertahanan.

"Kalau di sini bisa ada pesawat tempur, pesawat transportasi bisa. Kemudian kapal-kapal logistik juga bisa disini. Terus apa bedanya dengan kapal induk? Fungsinya sama menjaga wilayah timur," jelas Gatot.

Kedatangan Gatot ke Pulau Biak merupakan bagian dari kunjungan selama empat hari. Gatot juga mengunjungi pembangunan dermaga di Pulau Kaimana, Mako Lantamal Sorong, dan terakhir di Pulau Biak. Tujuan utamanya adalah rencana pembangunan kekuatan (Renbangkuat TNI).

"Ini kan semuanya sedang kita hitung, baru saya paparkan kepada pemerintah. Nah kita tunggu pemerintah bagaimana. Saya mengusahkan agar sehemat mungkin agar bekas Jepang Belanda yang kita bisa gunakan kita perbaiki kita manfaatkan," tutur Gatot.

Dia ingin dilakukan perbaikan sejumlah dermaga. Nantinya akan ada dua dermaga untuk bersandar kapal besar dan kecil di pulau tersebut serta berguna pula sebagai penjaga keamanan nantinya.

"Ya kan ini sudah rusak (dermaga), ya kita lapisi saja. Kita benahi lagi. Pokoknya ada dua dermaga, satu untuk kecil dan satu untuk kapal besar," jelasnya.

Gatot memberi contoh beberapa pulau terluar yang menjadi ujung tombak keamanan. Pulau tersebut yaitu Pulau Natuna untuk wilayah barat dan Biak karena berbatasan langsung dengan Samudera Pasifik yang menjadi lalu lintas laut utama perdagangan menuju Australia.

"Biak itu paling ujung. Contohnya Natuna terdepan di wilayah Barat, Biak di timur langsung menghadap ke Pasifik, Morotai di Utara, Saumlaki di wilayah Selatan," jelas Gatot.

Tak hanya penambahan keamanan wilayah laut, pemerataan pesawat tempur pun akan dilakukan.

"Yang sementara terpusat di Madiun Makassar, Riau itu kan sebagian, harus rata. Karena sekarang kita tidak bisa memprediksi musuh darimana. Nah itu yang sekiranya kosong kita isi," kata Gatot. (fdn/fdn)
 

  detik  

RI Butuh 4 Kapal Selam Baru

Perkuat Pertahanan MaritimKapal Selam pesanan Indonesia yang akan datang tahun 2017

Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo menginginkan penambahan empat kapal selam baru. Kapal selam yang saat ini hanya dua unit, perlu ditambah untuk menyokong pertahanan Indonesia sebagai negara maritim.

"Kapal selam kita, jujur saja kita cuma punya dua. Satu diperbaiki dan satunya jalan. Jadi ya saling bergantian dengan negara maritim yang besar kayak gini," ujar Gatot seusai meninjau perencanaan pembangunan dermaga dan pangkalan udara di Pulau Biak, Sabtu (30/4/2016).

Penambahan jumlah kapal selam ini menurut Gatot dibutuhkan sebagai kekuatan ideal sebuah negara dalam menjaga wilayah perairan.

"Penambahannya kalau kita punya satu kesatuan yang mampu berperang sendiri saja. Minimal depan itu 3 di belakang 3," jelas Gatot.

"Ya minimal 6 dan itu nggak boleh semuanya keluar. Harus ada yang maintenance," sambung dia.

Kekuatan pertahanan memang jadi fokus perhatian Panglima TNI. Karena itu perlu diupayakan penambahan alat utama sistem senjata (alutsista).

"Jadi untuk pertahanan. Jadi yang namanya kapal selam, orang-orang nggak bisa lihat dari atas. Kapal selam itu nggak boleh muncul-muncul, di dalam terus dia," kata Gatot. (fdn/fdn)
 

  detik  

Polisi Filipina Jelaskan 10 WNI yang Disandera Abu Sayyaf Dibebaskan

10 sandera WNI yang telah dibebaskan. (inquirer.net)

Kepolisian Filipina, Minggu (1/5/2015), mengatakan, 10 pelaut Indonesia yang diculik kelompok militan Abu Sayyaf dan disandera selama lima pekan akhirnya dibebaskan.

"Beberapa orang tak dikenal mengantar ke-10 orang kru kapal tunda itu ke kediaman gubernur Abdusakur Tan Jnr di Pulau Jolo di tengah hujan lebat," kata kepala kepolisian Jolo, Junpikar Sitin.

Kesepuluh sandera itu dibebaskan pada Minggu tengah hari. Kepala kepolisian Sulu, Inspektur Wilfredo Cayat membenarkan kabar ini.

Cayat mengatakan, setelah diantar ke depan kediaman Gubernur Sulu, mereka lalu dibawa masuk dan disuguhi makanan.

"Gubernur Tan kemudian memanggil saya dan menyerahkan ke-10 orang itu ke kepolisian. Kini kami sedang mempersiapkan untuk membawa mereka ke Zamboanga dan menyerahkan mereka ke kantor konsuler," tambah Cayat kepada harian The Inquirer.

Cayat menambahkan, kesepuluh orang itu disandera Abu Sayyaf ada 28 Maret lalu. Sejauh ini belum diketahui alasan pembebasan para sandera itu.

Namun, seorang sumber mengatakan uang tebusan sebesar 50 juta peso atau sekitar Rp 14 miliar sudah dibayarkan kepada pihak Abu Sayyaf.

"Mereka seharusnya dibebaskan antara Jumat atau Sabtu di satu tempat di kota Luuk," kata sumber tersebut.

Kesepuluh sandera Indonesia itu dibebaskan enam hari setelah Abu Sayyaf memenggal sandera asal Kanada, John Ridsdel.

Saat ini, Abu Sayyaf masih menyandera 11 orang yaitu empat warga Indonesia, empat warga Malaysia dan masing-masing seorang warga Kanada, Norwegia dan Belanda.

Abu Sayyaf adalah kelompok radikal yang memberontak terhadap pemerintah Filipina sejak 1970-an dan selama itu sudah menewaskan sedikitnya 100.000 orang.*
 

  Tribunnews  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...