Sabtu, 20 September 2014

Kodam kerahkan satu SSK ke Lanny Jaya

http://www.hubert-herald.nl/Papua_bestanden/image042.jpgKodam XVII/Cenderawasih mengerahkan pasukan sebanyak satu satuan setingkat kompi (SSK) atau sekitar 100 orang guna membantu Polres Lanny Jaya, Papua, menghadapi kelompok sipil bersenjata.

"Jadi ada satu SSK yang diterjunkan ke sana. Itu hanya bersifat mem-back up polisi dalam penegakkan hukum," kata Kapendam XVII/Cenderawasih Letkol Rikas Hidayatullah di Jayapura, Sabtu.

Ia menegaskan bahwa satu SSK prajurit TNI Kodam Cenderawasih berada di Lanny Jaya untuk membantu polisi, bukan hal lainnya.

"Intinya seperti yang dikatakan Bapak Panglima Cenderawasih, bahwa kami akan mendukung polisi dalam waktu yang belum ditetapkan sampai kondisi Lanny Jaya aman dan kondusif, itu juga disampaikan oleh Pak Kapolda Papua," katanya.

Rikas mengatakan, peristiwa kontak tembak pada tiga hari lalu yang mengakibatkan tewasnya satu orang dari Gerakan Sipil Bersenjata (GSB) itu terjadi di tempat atau medan yang sulit yakni di Pirime, Kabupaten Lanny Jaya.

"Kami tidak bisa serta-merta melakukan pengecekan yang tertembak itu. Karena TNI-Polri tidak mau gegabah tapi bukti ada darah di lapangan itu jelas. Saya mohon kesabaran mengenai peristiwa itu, karena pihak mereka (GSB), juga langsung membawa rekan mereka itu," katanya.

Mengenai penjelasan Panglima Cenderawasih tentang 50-an senjata api yang berhasil diterima atau didapatkan oleh prajuirt kodam, Rikas membenarkan hal itu.

"Jadi senjata api itu ada yang standar militer dan rakitan yang kami dapatkan dan juga diserahkan oleh GSB atau OPM seperti di Manokwari Selatan, Papua Barat pada 16 Agustus lalu, lalu di Arso 14, Kabupaten Keerom tiga hari lalu. Sisanya yang kami gelar beberapa waktu lalu, totalnya 50-an lebih," katanya.

Sebelumnya, Kapolda Papua Irjen Pol Yotje Mende mengatakan anggota yang digelar di Lanny Jaya bertambah yakni mencapai 530 orang yang berasal dari anggota Polri dan TNI.

Pengerahan ratusan orang aparat gabungan itu untuk melaksanakan tugas penegakkan hukum terhadap Kelompok Sipil Bersenjata (KSB) pimpinan Porum Wenda dan Enden Wanimbo yang kerap kali meneror warga setempat dan menembaki TNI-Polri.

"Sudah mulai digelar operasi penegakan hukum terhadap KSB di Lanny Jaya yang melibatkan TNI," kata Irjen Yotje.

  ★ antara  

[World News] Penyusup masuk ke Gedung Putih

Dinas rahasia AS Secret Service mengevakuasi sebagian Gedung Putih setelah seorang penyusup terlihat berlari di halaman. Agen pengawal presiden mengevakuasi orang-orang yang berada di Gedung Putih

Penyusup itu terlihat setelah Presiden Obama meninggalkan bangunan itu pada Jumat (19/09) malam.

Saksi mata mengatakan mereka melihat seorang pria melompat pagar dan berlari ke bangunan North Portico.

Obama baru saja meninggalkan Gedung Putih ke tempat peristirahatan Camp David dengan menggunakan helikopter, ketika peristiwa itu terjadi.

Pejabat Secret Service mengatakan pria itu terlihat ketika memasuki pintu North Portico.

Kemudian dia dibawa ke rumah sakit Washington setelah mengeluh sakit dada, kata dia.

Para staff dan reporter yang bekerja di kompleks tersebut dievakuasi ke luar.

Sebagian orang yang ada di West Wing dievakuasi.

Dalam peringatan 9/11 pekan lalu, Secret Service menahan seorang pria yang melompati pagar Gedung putih.

  ★ BBC  

Kisah Satgas Marinir-1 Surabaya Amankan Pulau Terluar

Berteman Laut Pasang, Puting Beliung, dan Dingin Mencekam UJUNG TOMBAK: Anggota Pasmar-1 Surabaya yang menjadi Satuan Tugas Marinir Pengamanan Pulau Terluar menjaga Kepulauan Fani. (Pasmar-1 Surabaya for Jawa Pos)UJUNG TOMBAK: Anggota Pasmar-1 Surabaya yang menjadi Satuan Tugas Marinir Pengamanan Pulau Terluar menjaga Kepulauan Fani. (Pasmar-1 Surabaya for Jawa Pos)

KONFLIK perbatasan negara di Tanjung Datu, Kabupaten Sambas, Mei lalu mengusik Praka Mar Roby Eka Sanjaya. Langkah Malaysia membangun mercusuar di perairan Indonesia membuat staf intelijen Pasmar 1 Surabaya itu prihatin. Luasnya wilayah laut Indonesia memang belum sebanding dengan jumlah personel keamanan dari unsur TNI.

Kondisi tersebut mengingatkan Roby ketika tergabung dalam Satuan Tugas Marinir Pengamanan Pulau Terluar (Satgas Mar Pamputer) tiga tahun lalu. Kala itu dia bersama 29 prajurit baret ungu lainnya diterjunkan menjaga Kepulauan Fani.

Kepulauan itu terdiri atas tiga pulau. Yang terluas adalah Pulau Fani. Lalu, ada Pulau Igi dan Pulau Miarin. Secara administratif, mereka masuk Kabupaten Raja Ampat. Kepulauan itu juga berbatasan dengan perairan Kepulauan Palau.

Wartawan koran ini melintasi gugusan pulau itu pada akhir Agustus 2014. Kesempatan tersebut didapat saat ada patroli maritim bersama Pusat Penerbangan TNI-AL dengan pesawat Cassa menjelang rangkaian Sail Raja Ampat.

Saat air laut surut, tiga pulau terlihat dihubungkan sebuah jembatan panjang dari kayu. Begitu laut pasang tertinggi, jembatan tersebut bisa tidak terlihat dan jarak antarpulau lebih jauh.

"Sekitar enam bulan bertugas di pulau terluar menjadi tantangan tersendiri" tutur Roby. Sebanyak 30 anggota satgas didominasi Batalyon Infanteri (Yonif) 5 Marinir yang bermarkas di Ujung, Pabean Cantikan. Yonif itu berada di bawah Brigade Infanteri 1 Marinir Gedangan, Pasmar 1 Surabaya.

Satgas di Pulau Fani dikomandani Kapten Mar Wachit. Lalu, ada dua prajurit dari Pasmar 1, Roby dan Praka Mar Fani Andri Santoso. Personel Batalyon Komunikasi dan Elektronika 1 Marinir adalah Serma Mar Abuwono dan Kopda Mar Bejo Susanto. Dari Batalyon Kesehatan 1 Marinir ada Koptu Mar Gandi dan KLS Agus Kelik. Dua batalyon itu di bawah Resimen Bantuan Tempur 1 Karangpilang, Pasmar 1 Surabaya.

"Sebulan sebelum berangkat, anggota satgas wajib mengikuti pratugas," tegas Wachit. Sebab, mereka harus ”perang” di medan yang berbeda. Terbiasa berdinas di kota dapat membuat anggota kaget kalau tidak ada persiapan. Pratugas itu dilaksanakan di Pusat Latihan Pasukan Pendarat Komando Latih Marinir (Kolatmar) Gunungsari dan Pusat Latihan Pendaratan Khusus Kolatmar Grati, Pasuruan.

Sebagian besar pulau terluar punya garis pantai dan karang yang agak jauh dari daratan. Selain itu, belum semua punya fasilitas dermaga, baik yang paten maupun yang apung. Cuaca di kawasan bibir Samudra Pasifik tersebut juga dikenal kurang bersahabat dan cenderung ekstrem. Perlu kecakapan pendaratan dari kapal pengantar atau perahu yang berukuran tidak terlalu besar. Banyaknya barang bawaan, baik satuan maupun pribadi, mengharuskan setiap pendaratan punya teknik keseimbangan.

Kecakapan pendaratan juga diperlukan saat menurunkan perbekalan logistik. Setengah tahun bertugas, mereka dipasok beras belasan kuintal dari pos komando taktis Sorong. Waktunya tiga bulan sekali, bahkan bisa molor. Itu bergantung pada cuaca dan keberanian nelayan mengirim sembako. Ketinggian gelombang air laut banyak membuat kapal perintis berpikir ulang. "Biasanya, hanya nelayan pemburu hiu bernyali tinggi yang nekat membantu," timpal Roby.

Saat pendaratan, material maupun beras tidak boleh sampai terjatuh ke air. Selama pratugas di Gunungsari maupun Grati, mereka dituntut menguasai teknik pendaratan. Salah satunya melintasi titian keseimbangan papan kayu memanjang yang digantung dengan tambang di kiri dan kanannya. Pratugas semakin berat saat diuji bertahan hidup. Dalam simulasi, mereka dipaksa survive tanpa bekal. Prajurit dituntut memaksimalkan potensi alam Gunungsari dan Grati.

Keterbatasan air tawar mengharuskan mereka menandon air tatlaka hujan. Jika hujan tidak turun, solusi lain adalah menampung air laut dalam galian atau dengan wadah penyaringan.

Kondisi alam memang ekstrem. Saat air pasang, jarak pos hanya sekitar 4 meter dari laut. Saat badai dan angin puting beliung tiba, para anggota tawakal sembari mengamankan diri dari berbagai kemungkinan. Hawa dingin ketika tengah malam-dini hari serta panas saat siang terik menjadi hal biasa yang dihadapi.

Meski dibekali beras untuk keperluan tiga bulan sekali, beras bisa lebih cepat habis. Penyebabnya bukan konsumsi yang melebihi takaran. Tetapi, serangan hewan pengerat berupa tikus pulau membuat jatah beras prajurit berkurang. Pantangan adat yang melarang membunuh tikus membuat anggota berusaha mematuhi kearifan lokal tersebut.

"Pernah suatu waktu karena sudah jengkel, kami berondongi tikus itu dengan tembakan. Tidak lama setelah siang itu, terasa ada gempa dan badai lumayan besar," kenang prajurit yang 3 Oktober nanti genap 28 tahun tersebut. Kebetulan pada saat bersamaan, beberapa rekannya memanjat pohon kelapa. Akibat gempa sesaat itu, personel yang hendak mengambil buah kelapa terjatuh. Untungnya, mereka tidak cedera parah. Sebuah pohon besar dengan diameter sepanjang keliling enam orang yang melingkari pohon tersebut juga tumbang.

Pantangan lain yang berlaku di pulau terluar itu adalah membakar seafood jenis kepiting seperti rajungan maupun lobster. Ikan jenis lain diperbolehkan. Belum ada alasan rasional yang menjelaskan larangan tersebut.

Kepulauan Fani yang dikenal sebagai habitat ikan karang dan berbagai biota laut membuat prajurit sejatinya tidak sampai kehabisan pengisi atau pengganjal perut dari rasa lapar. Hanya, masalah selera makan acap menghinggapi mereka.

Penyakit yang dapat muncul kemudian biasanya rasa jenuh dan bosan. Beruntung, mereka memiliki berbagai objek untuk melawan perasaan yang kadang menggelayut di pikiran itu. Untuk membunuh kejenuhan dan rasa bosan, olahraga menjadi salah satu aktivitas yang dapat mengusir dan menyalurkan waktu. "Di pos jaga tersedia beberapa perkakas sederhana untuk membuat badan lebih fit," kenang suami Nurul Chasanah yang berputra Alfatif Dirga Sanjaya itu.

Wachit menambahkan, ada kebanggaan sebagai prajurit penjaga pulau terluar. Sebab, mereka termasuk berada di garda terdepan dalam mengamankan tanah air. Enam bulan jauh dari peradaban menjadi momentum lebih untuk mengenali jati diri dan Tuhan. Semangat yang membara menjadi komitmen tidak akan ada lagi kisah tragis seperti dialami Sipadan dan Ligitan yang jatuh ke pelukan negeri jiran Malaysia. "NKRI adalah harga mati," tegasnya. (suryo eko/c6/dos)

  ★ jpnn  

"Teroris Kini Mampu Cuci Uang Miliaran Rupiah"

Tapi PPATK bisa bongkar jaringan teroris dengan melacak aliran dana
Wakil Ketua PPATK, Agus Santoso.

Terorisme. Indonesia merupakan salah satu negara yang trauma dengan ini. Sejarah aksi teror di negeri ini memanjang sejak tahun 1981 dengan pembajakan pesawat Garuda Indonesia, bom di Kedubes Filipina dan Bursa Efek Jakarta (2000), bom mematikan di Bali (2002), dan masih terus membayangi hingga saat ini.

Terakhir, Indonesia dijadikan target perekrutan kelompok militan Negara Islam Suriah-Irak (ISIS). Kelompok ini sudah menebar teror di level internasional. Wakil Kepala Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) Agus Santoso mengatakan, gerakan kelompok teroris kian canggih.

PPATK bahkan mensinyalir, kelompok teroris di Indonesia sudah mempraktikkan cuci uang. "Modus pencucian uangnya itu mereka mendirikan perusahaan, badan hukum atau toko," kata Agus ditemui VIVAnews di kantornya, Selasa 16 September lalu. Dalam wawancara khusus VIVAnews, Agus juga menjabarkan kerja sama antara instansi terkait.

Agus Santoso lahir di Purwokerto, Jawa Tengah, pada 9 Agustus 1960. Lulusan sarjana hukum Universitas Padjajaran, Bandung ini memulai karier di Bank Indonesia sejak 1984. Sambil bekerja, Agus kemudian menyelesaikan S2 dan S3 di Rijks Universiteit Leiden Belanda.

Jabatan terakhir Agus di BI adalah deputi direktur hukum (2008-2011). Agus kemudian ditetapkan sebagai Wakil Kepala PPATK untuk masa jabatan 2011–2016.

 Berikut wawancara VIVAnews dengan Agus Santoso: 

Seperti apa koordinasi PPATK dengan Kepolisian, BIN, dan lembaga terkait lainnya untuk menangkal terorisme?

Di dunia ini, teroris terbagi dua. Salah satunya, teroris yang dinyatakan musuh dunia, yaitu teroris yang masuk dalam United Nation Security Council atau Resolusi Dewan Keamanan PBB nomor 1267. Itu adalah resolusi yang menerangkan list nama-nama orang dan organisasi Al Qaeda atau anggota yang terkait dengan Al Qaeda dan Taliban.

Itu daftarnya diedarkan ke seluruh dunia, kepada anggota PBB, untuk dilakukan pembekuan aset, ada sekitar 200 nama.

Apa ada warga negara Indonesia yang masuk dalam daftar yang dirilis PBB itu?

Dari 200 nama itu ada 17 warga negara Indonesia yang dianggap terkait Al Qaeda dan Taliban. Dari list itu kami, Indonesia sudah membekukan rekening 3 orang, atas nama U, H, dan atas nama Z. Sedangkan yang lainnya ada yang sedang akan kita proses untuk delisting karena sudah keluar, sudah dihukum, atau sudah meninggal.

Dan, ada dua nama yang akan kami proses pembekuan asetnya.

Dalam koordinasi itu juga kita memutuskan untuk terduga teroris yang masuk ke dalam list yang merupakan warga negara asing, itu akan kita bekukan semua. Mudah-mudahan sebelum tanggal 25 Oktober sudah bisa kita bekukan semua, dengan dasar Undang-Undang Nomor 9 tahun 2013 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pendanaan Terorisme.

Memangnya, 200 teroris itu sudah tertangkap semua?

Ada yang sudah ditangkap, ada juga yang belum jelas dimana.

Belum lama ini ada jaringan teroris berpaspor Turki ditangkap saat menuju Poso. Sejauh mana PPATK bisa menelusuri mereka?

Kalau jaringan teroris itu PPATK tidak tahu. Karena biasanya mereka mainnya (transaksi keuangannya) kecil-kecil, pengirimannya kecil-kecil.

Untuk penelusuran, biasanya kami dapat nama dulu dari Densus 88. Berdasarkan nama atau identitas yang kita terima dari Densus, baru kami melakukan penelusuran.

Transaksi keuangan teroris jumlahnya kecil. Di kisaran berapa mereka bermain?

Ada yang sudah bekukan itu kira-kira jumlahnya cuma Rp 200 ribu. Mereka transaksinya kecil-kecil. Misalnya masuk Rp 200 ribu atau Rp 50 ribu, langsung diambil. Polanya begitu.

Secara umum, bagaimana sebenarnya pola pengungkapan perputaran uang teroris?

Biasanya PPATK dapat nama dari Densus 88 dulu, kalau nggak, kita nggak bisa tahu. Dari situ kita bisa melakukan penelusuran dengan siapa yang bersangkutan melakukan transaksi keuangan.

Sebetulnya dengan penelusuran transaksi keuangan ini kita mampu membongkar jaringan. Dari yang tadinya sistem sel--satu-satu-- dengan adanya follow the money kita bisa membongkar jaringannya. Dari mana saja (uangnya), apakah dari kota lain, dari pulau lain, kita tahu.

Kalau tipologinya, transaksi keuangan teroris itu bolak-balik atau hanya pengiriman satu arah saja?

Umumnya satu arah, person to person. Jadi, ada penampung dari beberapa orang mereka buat beberapa layer (lapisan). Layer ini dibuat tidak saling kenal.

Misalnya, si A menggalang dana dari kelompok ini. Si B kelompoknya lain, si C juga kelompoknya lain. Jadi kelompoknya pendukung si A dan si B tidak saling kenal. Bisa jadi mereka buat layer agak panjang. Tapi, Si A dan B bisa saja saling kenal.

Seberapa penting pembekuan aset teroris ini?

Teroris ini kan sangat kompleks. Ini kan menyangkut keyakinan mereka. Jadi tidak cukup hanya memerangi saja, tapi perlu juga ada upaya deradikalisasi, makanya perlu ada BNPT.

Tugas PPATK sebenarnya untuk menggunting akses para teroris ini kepada asetnya, kepada dananya. Sehingga para teroris ini tidak bisa mengakses sumber dananya, makanya kita bekukan. Tapi nanti melalu putusan pengadilan dan yang mengajukan Polri. Rekomendasi, antara lain, dari PPATK.

Kalau aset mereka sudah dibekukan, mereka tidak punya akses lagi. Tapi, misalnya, mereka mau bayar uang sekolah anak, masih ada uang. Dikendalikan lah.

Apa ada kasus pencucian uang di kasus terorisme?

Kalau pendanaan terorisme akhir-akhir ini ada. Modus pencucian uangnya itu mereka mendirikan perusahaan, badan hukum, atau toko. Bisa terdaftar atau bisa juga tidak terdaftar hanya usaha biasa.

Tapi memang ada pergeseran dari yang semula teroris itu hanya hubungannya orang per orang, sekarang ada kelompok yang punya usaha. Uangnya mengalir digunakan untuk usaha, untuk kamuflase saja.

Perusahaan itu dipakai juga untuk sumber dana atau murni penampungan saja?

Itu sebenarnya penampungan. Tapi, bisa juga menjadi sumber uang. Karena mereka merasa sudah punya uang yang cukup. Lantas, uang itu diputar dalam bisnis.

Jenis usaha mereka apa?

Saya tidak bisa detail karena ini masih terus didalami. Tapi, bisnisnya masih berkaitan dengan upaya-upaya penggalangan opini atau mendukung aksi teror.

Dari hasil penelusuran PPATK, berapa perputaran hasil cuci uang pelaku teror itu?

Kalau sekarang sudah miliaran. Itu yang tadinya uangnya Rp 50 ribu, Rp 200 ribu sekarang volumenya sudah sampai miliaran. saya kira BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme) sudah tahu itu. Yang perlu dilakukan saya kira memang proses deradikalisasi itu.

Pemberantasan terorisme banyak faktor?

Memang banyak faktor. Tapi salah satu yang dipercaya dunia internasional adalah dengan memutus rantai aset mereka supaya tidak bisa mendanai. Maka itu, Undang-Undang Nomor 9 tahun 2013 memuat suatu tindak pidana baru di indonesia yaitu tindak pidana pendanaan terorisme. Seseorang yang secara sadar melakukan kegiatan atau mendanai suatu aksi kegiatan teror itu dapat hukuman berat.

Bagaimana masyarakat tahu tempat usaha itu sebenarnya tempat penampungan dana teroris?

Ya, itu nanti di proses pengadilan (semua perusahaan itu akan terungkap dan dibuktikan). Ya Itu kan semua didasarkan pada: ada unsur kesengajaan, sadar, dan tahu bahwa dia mendanai kegiatan terorisme.

Jaringan ISIS ini sudah mulai masuk ke Indonesia dengan cara merekrut WNI. Bagaimana PPATK melihat peredaran uang teroris jaringan internasional ISIS?


Kita sudah berkoordinasi dengan Densus 88, kami sudah tahu jalur-jalur mereka, kita sudah dikasih tahu. Sehingga kita sedang memantau di jalur-jalur itu.

Tapi, Saya nggak bisa nyebut karena berkaitan dengan keamanan.

Sudah pernah terdeteksi aliran dana jaringan ISIS ke dalam negeri?

Selama ini belum ada.(ren)

  ★ Vivanews  

Satgas Kizi TNI Berperan Dalam Proses Perdamaian di Afrika

Satgas Kizi TNI Berperan Dalam Proses Perdamaian di Afrika Satgas Kizi TNI - Foto : Penerangan Konga XXXVII-A/MINUSCA

SATUAN Tugas Kompi Zeni (Satgas Kizi) TNI Kontingen Garuda (Konga) XXXVII-A/MINUSCA (United Nations Multi-Dimensional Integrated Stabilization Mission in Central African Republic) dibawahpimpinan, Letkol Czi Alfius Navirinda K selaku Komandan Satgas (Dansatgas)Konga XXXVII-A/Minusca melaksanakan upacara resmi pembukaan misi Minusca, Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Central African Republic (CAR). Acara ini berlangsung di Markas Pasukan MISCA (Mission internationale de soutien à la Centrafrique sous conduite africaine) M’Poko Bangui, Afrika, Kamis (18/9/2014).

Upacara pembukaandihadiri oleh Presiden CAR Cathrine Samba–Panze didampingi oleh Wakil Sekretaris Jenderal PBB Hervé Ladsous untuk Operasi Penjaga Perdamaian PBB. Hadir pula pejabat sipil dan militer CAR serta perwakilan organisasi-organisasi internasional yang saat ini sedang berkonsentrasi membantu pemulihan stabilisasi di CAR.

Misi baru yang bernama Minusca tersebut menjadi lain karena adanya proses peralihan dari MISCA yang beranggotakan pasukan militer dari negara-negara Uni Afrika seperti Rwanda, Kongo, Burundi, Kamerun, Nigeria yang selama ini menjadi penengah dalam konflik bersenjata bernuansa sektarian dan agama tersebut sebelum misi PBB dibuka. Minusca juga ditambah dengan beberapa pasukan negara lain seperti Indonesia, Prancis, Pakistan, Bangladesh dan Kamboja.

Menurut angka PBB terbaru, kehadiran Minusca ini terdiri dari 6.500 tentara, 1.000 polisi dan staf sipil yang nantinya akan mencapai jumlah 12.000 personil disebar diseluruh wilayah CAR.

Satgas Kizi TNI Konga XXXVII-A/Minusca yang beranggotakan 167 personil, telah hadir sejak bulan Mei 2014 dan merupakan satu-satunya pasukan yang bersama beberapa staf PBB ikutmemulai dari awal proses dibukanya misi.

Dengan perlengkapan dan kemampuan personil yang dimiliki, Satgas Kizi TNI berperan mendukung persiapan pembukaan misi dengan memberikan dukungan berupa pembukaan dan penyiapan lahan mulai dari Perkantoran, Logistic Yard, Super Camp dan sarana pendukungmisi lainnya.

Sekjen PBB Ban Ki Moon dalam sambutan tertulis dibacakan Wakil Sekjen PPB Hervé Ladsous menyampaikanapresiasi ke semua pihak yang memungkinkan dunia internasional ikut ambil bagian di negara yang runtuh oleh adanya konflik internal sejak digulingkannya Pemerintahan Presiden Francois Bozize pada2013 yang diikuti oleh aksi saling bunuh dan saling serang antara pihak Seleka dan Anti Balaka sehingga berdampak luas dengan jatuhnya korban dipihak masyarakat yang tidak berdosa.

Berdasarkan siaran pers Perwira Penerangan Konga XXXVII-A/MINUSCA, Mayor Kav Eddy Wijaya, S.Sos melalui Pusat Penerangan TNI, sebanyak 2,2 juta rakyat CAR mengalami dampak dari pembunuhan, perampasan dan pengusiran. Dimana 400.000 orang diantaranya telah mengungsi ke negara-negara sekitar CAR seperti Sudan, Chad dan Kamerun.Disamping itu, Dansatgas Kizi TNI Konga XXXVII-A/Minusca Letkol Czi Alfius Navirinda K, menyampaikan Pasukan Indonesia telah menampilkan performa sebagai Pasukan Perdamaian yang ikut bahu-membahu dengan elemen PBB lainnya untuk mendukung dimulainya misi yang akan memprioritaskan perlindungan warga sipil dan fasilitasi proses transisi, termasuk pelaksanaan ketentuan dalam Perjanjian Penghentian Permusuhan diantara pihak yang bertikai.

  ★ Jurnas  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...