Rabu, 29 Juni 2016

[Dunia] Kapal Perusak AS Pepet Kapal Rusia di Laut Mediterania

[sputnik]

Kementerian Pertahanan (Kemhan) Rusia mengatakan, kapal perusak Amerika Serikat (AS) yang diperkuat senjata rudal telah melanggar aturan keselamatan pelayaran internasional. Kapal perusak AS mendekati sebuah kapal Rusia, Yaroslav Mudry, dalam jarak yang berbahaya di Laut Mediterania.

Kemhan Rusia menyatakan, kapal perusak AS mendekati kapal Rusia dengan jarak 180 meter pada 17 Juni lalu. Peristiwa itu terjadi di perairan internasional, Mediterania timur. Kapal Rusia tidak menanggapi manuver kapal AS dan menahan diri untuk tidak terlibat lebih jauh.

Dalam pernyataannya, Kemhan Rusia menyatakan, kapten kapal perang dan kru telah melanggar Peraturan Internasional Pencegahan Tubrukan di Laut (COLREGS), yang mengatur tentang pertemuan dua kapal atau lebih di laut untuk menghindari situasi berbahaya seperti dikutip dari Russia Today, Selasa (28/6/2016).

"Para pelaut AS, khususnya merujuk pada Pasal 13, yang menyatakan kapal yang menyalip harus menjauh dari jalur kapal yang disalip," kata Kemhan Rusia. Kemhan Rusia juga menambahkan kapal AS telah melanggar Pasal 15 yang menyatakan kapal yang mendapati kapal lain di sisinya harus mengalah dan tidak melintas di depannya.

Kemhan Rusia juga meminta Pentagon untuk mencatat insiden tersebut dan tidak menuduh Angkatan Udara dan Angkatan Laut Rusia bertindak tidak profesional.

"Pelaut AS membiarkan diri mereka mengabaikan dasar-dasar yang menjadi kunci keselamatan navigasi tanpa memikirkan konsekuensi manuver berbahaya di daerah maritim yang mungkin saja digunakan untuk perdagangan," kata Kemhan Rusia. (ian)

  ★ sindonews  

[Dunia] Ledakan Granat di Kelab Malam Malaysia, Delapan Orang Terluka

http://images.cnnindonesia.com/visual/2016/06/28/2a232d2f-1b0b-4ebc-86b9-6e0a9379e688_169.jpg?w=650Sekitar 20 pelanggan tengah menonton siaran langsung pertandingan Italia melawan Spanyol dalam laga Piala Eropa 2016 ketika ledakan terjadi. (REUTERS)

Sebuah ledakan terjadi di kelab malam di Puchong, Malaysia pada Selasa (28/6) dini hari, menyebabkan delapan orang terluka.

Kepolisian setempat masih menyelidiki ledakan yang terjadi di kelab malam Movida, kota di pinggiran Kuala Lumpur, sekitar pukul 2.30 pagi. Saat itu, sekitar 20 pelanggan tengah menonton siaran langsung pertandingan Italia melawan Spanyol dalam laga Piala Eropa 2016.

Sejumlah media lokal melaporkan bahwa polisi memperkirakan kasus ini bukanlah serangan terorisme.

"Kami tengah melakukan investigasi menyeluruh dan mempertimbangkan segala kemungkinan, [seperti] kejahatan terkait geng kriminal, persaingan bisnis, dan terorisme, dan pada tahap ini investigasi masih berlangsung," kata petugas kontraterorisme kepolisian Malaysia, Ayub Khan, kepada Channel NewsAsia.

Wakil Komandan Kepolisian Selangor, Abdul Rahim Jaafar, menyatakan kepada The Star bahwa ledakan itu berasal dari granat tangan dan polisi masih menyelidiki kasus ini sebagai upaya percobaan pembunuhan dan mengesampingkan motif teror.

Ia menambahkan bahwa investigasi akan menentukan apakah serangan ini bermotif persaingan bisnis, balas dendam, atau ada individu yang ditargetkan.

Bernama melaporkan bahwa ledakan ini mengakibatkan sebuah mobil yang berjarak 30 meter dari lokasi kejadian rusak parah.

Dikutip dari Reuters, serangan serupa terjadi pada 2014, ketika seorang pria tewas dan 12 lainnya terluka dalam serangan bom yang meledak di sebuah kelab malam di Kuala Lumpur. (stu)

 ♖ CNN  

[Dunia] Akhirnya Turki Minta Maaf Atas Insiden Penembakan Sukhoi

Menyesal Tembak Jatuh Sukhoi, Erdogan Bakal Telefon PutinIlustrasi [swapi]

Sejak insiden Sukhoi Su-24 milik Rusia ditembak jatuh F-16 Turki, hubungan kedua negara membeku. Tapi nampaknya kondisi bakal mencair lantaran Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan berencana mengontak Presiden Rusia, Vladimir Putin.

Hal ini didengungkan Perdana Menteri (PM) Turki yang baru, Binali Yιldιrιm, di mana suksesor Ahmet Davutoglu itu mengatakan Presiden Erdogan akan melakukan pembicaraan via telefon dengan Putin antara Rabu (29 Juni) atau Kamis (30 Juni).

Turki dan Rusia tidak menyukai krisis ini (ketegangan Rusia-Turki). Pemimpin Turki (Presiden Erdogan) akan melakukan pembicaraan melalui telefon dengan Putin pada Rabu atau Kamis,” ungkap Yιldιrιm, dikutip Sputnik, Selasa (28/6/2016).

Niat baik Turki untuk menormalisasi hubungan dengan Negeri Beruang Merah ini, sedianya juga sudah diawali dengan pengiriman surat ke Kremlin – Kantor Kepresidenan Rusia yang diterima pada Senin, 27 Juni 2016 kemarin waktu setempat.

Isi surat tersebut sudah jelas. Kami mengekspresikan penyesalan kami dan kami akan membayar kompensasi (insiden Sukhoi) jika diperlukan. Kedua negara ingin segera memulihkan hubungan. Dalam pikiran saya, kami sudah mencapai beberapa progres,” tuntasnya. (Sil)

 Kremlin Enggan Buru-Buru

Ankara (Pemerintah Turki) mulai melayangkan niat untuk menormalisasi hubungan dengan Moskva (Pemerintah Rusia), pasca-kebekuan relasi akibat insiden Sukhoi Su-27 Rusia yang ditembak jatuh F-16 Turki pada November tahun lalu.

Niat baik Turki itu diawali dengan pengiriman surat resmi ke Kremlin (Kantor Kepresidenan Rusia) yang isinya meminta maaf atas insiden tersebut.

Selain itu, sebelumnya Perdana Menteri (PM) Turki yang baru, Binali Yιldιrιm juga sudah menyatakan bahwa akan ada pembicaraan antara Presiden Turki; Recep Tayyip Erdogan dengan Presiden Rusia; Vladimir Putin via telefon.

PM Yιldιrιm juga memaparkan bahwa pembicaraan telefon Erdogan dan Putin tersebut, akan dilakukan antara besok, Rabu (29 Juni) atau Kamis (30 Juni) waktu setempat.

Namun pihak Kremlin menyatakan, pembicaraan via telefon ini justru diinisiasi oleh Moskva, bukan Ankara seperti yang dipaparkan PM Yιldιrιm dan akan terjadi besok, Rabu, 29 Juni 2016 waktu setempat.

Di sisi lain, Kremlin melihat Turki sangat berniat bisa “rujuk” hubungan dengan Negeri Beruang Merah sesegera mungkin. Akan tetapi, Rusia justru tak ingin buru-buru, lantaran menormalisasi hubungan tak semudah membalikkan telapak tangan.

Tak satu pihak pun semestinya berpikir bahwa kemungkinan menormalisasi semua hal bisa dilakukan dalam beberapa hari saja. Namun upaya ke arah ini (normalisasi) akan dilanjutkan,” jelas juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, disadur Reuters, Selasa (28/6/2016).

Presiden Putin sendiri sebelumnya telah mengekspresikan berkali-kali tentang kemauannya, untuk menguatkan relasi dengan pemerintah dan rakyat Turki. Sekarang langkah yang sangat penting telah dibuat dalam hal ini,” tandasnya. (raw)
 

  Okezone  

Menhan Paparkan Alokasi Kenaikan Anggaran Pertahanan

Pesawat tempur TNI AU (Indonesian Military)

Menteri Pertahanan RI Ryamizard Ryacudu memaparkan sejumlah rencana alokasi penggunaan setelah mendapat kenaikan anggaran pertahanan yang mencapai tiga persen dari anggaran sebelumnya.

Anggaran kita sudah dialokasikan macam-macam, untuk perbaikan dan perawatan alutsista, melengkapi persenjataan yang belum lengkap,” tutur Ryamizard saat ditemui di kantor Kementerian Koordinator bidang Politik, Hukum, dan Keamanan di Jakarta, Selasa.

Ryamizard menjelaskan lebih lanjut, rencananya pemerintah akan membagi dana pertahanan untuk peremajaan alutsista yang belum terlalu lama dimiliki, seperti penggantian mesin atau suku cadang.

Selain itu, pemerintah juga berencana melengkapi persenjataan bagi pesawat tempur (fighter) yang menjadi bagian inventaris TNI AU dengan berbagai jenis rudal dan lain sebagainya.

Jet tempur sudah ada tapi tidak lengkap, tidak ada rudal atau roketnya ya kita belikan dong. Jangan sampai mereka hanya terbang saja tanpa membawa senjata,” tutur Menteri Ryamizard menegaskan.

Kemudian, pemerintah juga berencana melengkapi perangkat komunikasi antar alutsista agar memudahkan koordinasi ketika terjadi situasi yang menuntut ketepatan dan kecepatan penggelaran pasukan di lapangan.

Kita perbaiki komunikasi antar pesawat dan tank, karena waktu kita beli belum ada sistemnya. Kalau sudah lengkap (sistem) dan sudah berjalan semua, baru kita menambah alutsista. Prioritasnya begitu, sehingga alutsista yang sudah ada tidak jadi besi tua,” ujarnya menambahkan.

Selain membagi alokasi untuk keperluan perawatan dan perlengkapan alutsista, Menteri Ryamizard juga menyinggung mengenai rencana pengembangan pangkalan militer di Kepulauan Natuna, Provinsi Kepulauan Riau.

Dia mengisyaratkan, kenaikan anggaran pertahanan juga menyentuh pada program pengembangan pangkalan militer di wilayah tersebut dengan berencana membangun pelabuhan militer, perbaikan landasan bagi pesawat tempur, hingga sejumlah fasilitas pertahanan pendukung lainnya.

Saya sudah tentukan ada tiga kapal Fregat, berarti ada pelabuhannya untuk kapal. Kemudian ada satu flight pesawat tempur kita, berarti landasan harus dilebarkan dan dibaguskan. Ditambah ada Marinir, Paskhas (Angkatan Udara), satuan radar dan drone, penangkis serangan udara. Pokoknya lengkap di sana,” kata Menteri Ryamizard memaparkan.

  ★ antara  

Selasa, 28 Juni 2016

★ Pengenal Musuh atau Kawan

Produksi PT LEN Pengenal Musuh atau Kawan produksi PT LEN

Dari situs PT LEN, diperkenalkan produksi dalam negeri untuk pesawat terbang. Alat ini sangat membantu pilot penerbang tempur dalam mengenal musuh atau kawan di udara, sebelum melakukan tindakan.

Alat ini terhubung dengan radar penjejak, sehingga dalam jarak yang cukup dapat mengenal objek di layar apakah kawan atau musuh. Sistem IFF (Indentify Friend or Foe) ini juga mengidentifikasi pesawat, skuadron, nomor pesawat, misi dan ketinggian pesawat.

Tidak jelas, Apakah semua pesawat dapat menggunakan alat produksi dalam negeri ini. [PT LEN]

  ★ Garuda Militer  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...