Jumat, 03 Juli 2015

[World] Menhan Rusia Ingin Upgrade IL 38 MPA

Akan meng-upgrade semua armada Il 38 MPA menjadi Il 38 N http://www.navyrecognition.com/images/stories/news/2015/june/Russian_Navy_Il-38N_78.jpgBatch pertama pesawat yang telah selesai di upgrage menjadi IL 38N siap untuk dikirim ke Angkatan Laut Rusia. [Nikolai Savinykh] ☆

Kantor berita resmi Rusia, TASS melaporkan bahwa Kementerian Pertahanan Rusia berencana untuk meng-upgrade seluruh armada Ilyushin Il-38 Maritime Patrol Aircraft (MPA). Deklarasi tersebut dikatakan oleh komandan penerbangan angkatan laut Rusia Igor Kozhin Selasa.

"Kontrak ini dalam tahap pembahasan. Tidak mungkin untuk menyebutkan nama tokoh tertentu pada saat ini (jumlah pesawat dan tanggal), tetapi seluruh armada pesawat akan menjalani upgrade," katanya.

Il-38 MPA merupakan pesawat khusus peperangan anti-kapal selam, nantinya akan ditingkatkan menjadi Ilyushin-38N, dengan sistem radar pencarian generasi yang baru bersama sistem target penjejak Novella-P-38.

Kozhin mengatakan semua pesawat upgrade akan dicat abu-abu gelap sesuai dengan standar Kementerian Pertahanan. Rencananya, Angkatan Laut Rusia akan memilih pesawat jenis patroli ini menggantikan pesawat Il-20 dan Il-38 pada 2015-2016, yang diklaim sebagai pesawat anti-kapal selam yang jauh lebih baik dari pesawat sejenis dipasaran. "Pesawat ini akan melakukan penerbangan perdananya pada tahun 2020," kata Kozhin menambahkan pada hari Selasa.

Batch pertama (upgrade 5 unit pesawat Il-38 menjadi Il-38N) hampir selesai. Ilyushin melaporkan bahwa kelima pesawat Il-38N (nomor 78) sedang melakukan tes penerbangan akhir di Zhukovsky. Pesawat akan segera dikirim ke Angkatan Laut Rusia. [navyrecognition]

  ★ Garuda Militer  

[World] Argentina Upgrade MBT TAM bersama Israel

Tank TAM merupakan medium tank dan menjadi tank utama [MBT] di Argentina. 74 unit MBT TAM Argentina akan ditingkatkan bersama Israel

K
ontrak senilai $ 111 juta dollars telah ditandatangani oleh Menteri pertahanan Argentina bersama koleganya dari Israel untuk meng-upgrade Main Battle Tank [MBT] TAM sebanyak 74 unit pada tanggal 26 Juni lalu.

Perjanjian tersebut meliputi pelaksanaan dan penyediaan semua perlengkapan yang diperlukan untuk modernisasi dan upgrade 74 unit MBT TAM, yang merupakan tank tempur utama Angkatan Darat Argentina. Selain itu, Argentina akan mendapat ilmu baru dari proses  transfer teknologi dari Israel, supaya mampu untuk mengembangkan sendiri melalui proyek bersama dengan lisensi, Usaha ini memungkinkan Argentina menjual produk bersama ini ke pasar luar negeri.

Sekretaris Sains, Teknologi dan Produksi Pertahanan, Santiago Rodriguez, mengatakan, "Modernisasi MBT TAM hanyalah sebagai simbol, yang nantinya dirancang dan diproduksi secara lokal di Argentina," dan menjelaskan bahwa "Jalur produksi akan diproduksi di pabrik Boulogne, Argentina, Dimana komponen akan diproduksi secara lokal."

Modernisasi MBT TAM ini mencakup kemampuan meluncurkan rudal anti tank LAHAT, kamera termal jarak pendek baru untuk pengemudi, dan televisi untuk penembak dan komandan, dengan dilengkapi laser. On-board sistem komputasi akan ditingkatkan. Empat detektor laser juga akan ditambahkan sebagai unit tambahan.

Tanque Argentino Mediano ("Medium Tank Argentina"), atau TAM, merupakan tank tempur utama dalam pelayanan Angkatan Darat Argentina. Karena kurangnya pengalaman dan sumber daya untuk merancang tank, maka Departemen Pertahanan Argentina mengontrak dan berkerjasama dengan perusahaan Jerman Thyssen-Henschel, untuk bersama sama medesain MBT. MBT TAM merupakan perkembangan dari chassis IFV Marder.

TAM akhirnya memenuhi persyaratan Angkatan Darat Argentina untuk kendaraan ringan, cepat dan modern dengan siluet yang rendah dengan daya tembak yang cukup. Pembangunan TAM dimulai pada tahun 1974 dengan membuat tiga unit prototipe pada awal tahun 1977. Angkatan Darat Argentina memutuskan untuk memesan sebanyak 200 unit, dimana produksi masal dimulai pada tahun 1979. Datangnya krisis ekonomi, proses produksi dihentikan pada tahun 1983. Pada tahun 1994 produksi di mulai kembali sampai pesanan 200 unit tercapai di pabrik seluas 9.600 meter persegi. [armyrecognition]

  Garuda Militer  

Hercules Jatuh karena Menabrak Antena Radio

Kesimpulan sementara dengan bukti di lapangan http://poskotanews.com/cms/wp-content/uploads/2015/07/pesawat-Hercules-C-130-yang-jatuh-di-Medan.-reuters-700x400.jpgFoto jatuhnya Hercules TNI AU A1310 (reuters)

TNI Angkatan Udara mengumumkan hasil penyelidikan sementara atas penyebab kecelakaan pesawat Hercules C-130B bernomor lambung A-1310, yang jatuh pada Selasa, 30 Juni 2015, di Medan, Sumatera Utara. Pesawat itu diduga jatuh karena menabrak antena radio yang berjarak 3.200 meter dari landasan pacu.

Kesimpulan sementara itu diambil dari beberapa bukti yang ditemukan.

★ Bukti pertama, kata Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU) Marsekal Agus Supriatna, pilot Kapten Shandy Permana meminta izin kembali ke pangkalan. Ini berarti Shandy sudah merasakan ada masalah pada pesawatnya. “Ada malfunction," ujar Agus kepada wartawan, Kamis, 2 Juli 2015.

★ Bukti kedua, sejumlah saksi melihat pesawat sempat oleng ke kanan. Hal ini ada kemungkinan terjadi karena pesawat tidak bisa naik secara normal. Penyebabnya, mesin yang bermasalah. "Baling-baling pesawat juga ada yang mati," kata Agus.

Matinya mesin pesawat inilah yang kemudian membuat pesawat turun dengan cepat. Saat turun itulah pesawat menghantam antena radio Joy FM yang berada di kompleks sekolah Bethany di Jalan Jamin Ginting atau simpang Perumahan Nasional Simalingkar, Medan.

Karena itu, ujar Agus, pihaknya menyimpulkan penyebab kecelakaan itu yakni pesawat menabrak antena. "Pilot sudah mengerti apa yang harus dilakukan jika terjadi malfunction seandainya tidak menabrak antena. Misalnya pilot harus menaikkan ketinggian dan mencari tempat mendarat. Namun karena pesawat miring ke kanan karena menabrak antena, pesawat sulit naik," ujar Agus.

Menurut penelusuran Tempo, antena radio Joy FM yang dipasang di lantai 3 gedung Bethany roboh. Satu pelat besi berukuran panjang 50 sentimeter bercat hijau bertuliskan "battery" tercecer di sekitar gedung tersebut. Lokasi antena ini berjarak sekitar 300 meter dari lokasi jatuhnya pesawat.

Agus menambahkan, meski sudah ada kesimpulan sementara itu, tim investigasi TNI AU terus melakukan penyelidikan untuk memastikan penyebab matinya mesin pesawat Hercules itu. "Bisa saja ada malfunction yang lain, misalnya hidrolik atau elektrik," ujar Agus.


 ♖ Tempo  

Kamis, 02 Juli 2015

Ketika Berita Musibah Disiarkan

http://4.bp.blogspot.com/-pfkjoemW7oc/VZKSGsrPMsI/AAAAAAAAHKo/DIupXvqjSh0/s1600/A-1310-Indonesian-Air-Force-_PlanespottersNet_381573.jpgFoto Kenangan Hercules TNI AU A-1310 [PlanespottersNet] ♆

Cermin buruk muka kita adalah, jika ada peristiwa musibah yang mengejutkan publik bersama korban yang besar, kejadiannya dramatis dengan frekuensi siar yang luas maka selalu ada omongan emosional yang berlebihan “kapasitas air liurnya”. Contoh terakhir adalah musibah jatuhnya pesawat militer angkut berat Hercules TNI AU di Medan 30 Juni 2015 lalu yang menewaskan lebih seratus jiwa warga bangsa ini.

Belum lagi selesai evakuasi, masih mengalir deras airmata duka keluarga korban, komentar yang dilontarkan mereka yang merasa sok tahu menyudutkan pemilik alutsista. Yang bilang pesawat tua lah, lalu ngomong pesawat hibah, lalu komentar kurang perawatan, dikomersialkan, kelebihan beban dan sebagainya. Padahal musibah baru hitungan jam dimana prioritas adalah evakuasi korban dan pemberitahuan kepada keluarga korban.

Itulah kita, begitu banyak stasiun penyiaran TV, Radio dan media cetak hanya mengejar kecepatan siar dan terbit dimana nilai kecepatan itu mengabaikan akurasi dan kelayakan. Sodoran pertanyaan yang diajukan ke wakil rakyat dan pengamat abal-abal, jawabannya seperti “firman tuhan” dengan mengatakan musibah itu karena alutsista renta dan jompo. Jadi dia sudah memastikan bahwa penyebabnya alutsista tua bangka. Padahal penyelidikan dan penelitian belum dimulai. Lalu kecelakaan pesawat militer angkut berat Airbus A400M di Spanyol baru-baru ini, apakah karena alutsista itu sudah tua. Jelas tidak, itu pesawat baru, gress yang mau dikirim ke Turki sebagai negara pembeli. Jatuh juga.

Pihak media juga punya andil dalam menyodorkan rekaman wawancaranya, mestinya jika ada berita musibah, kunjungilah pemuka agama, apakah dia ulama, pendeta, bikshu, setidaknya komentar mereka akan memberikan opini yang menyejukkan sebagai media muhasabah, merenungkan diri lalu bergegas memperbaiki diri. Kalau selalu orang parlemen dan pengamat sentimen berbasis oppsisi yang dihubungi pasti jawabannya tidak mengedepankan dukacitanya tetapi lebih kepada selalu menyalahkan pemilik asset atau yang punya inventaris. Setidaknya numpang populer diatas penderitaan orang lain.

Pesawat Hercules yang dimiliki TNI AU semua ada dalam kontrol perawatan yang ketat. Meski pesawat yang jatuh itu buatan tahun 1964 tetapi hampir seluruh komponen mesin, instrumen perkabelan, avionik sudah berganti, sudah di retrofit. Yang jelas hanya rangkanya saja yang lama, tetapi jeroannya tidak lagi keluaran tahun 1964. Jika kecelakaan itu disebabkan sayapnya patah atau ekornya lepas atau yang dikenal dengan “keletihan logam” barulah bisa disebut penyebabnya karena uzur. Tidak ada pesawat uzur karena komponennya selalu diganti sesuai umur teknisnya.

Saat ini TNI AU sedang berupaya meningkatkan jumlah armada Herculesnya dengan mendatangkan 9 pesawat “Badak” itu dari Australia. TNI AU saat ini memiliki 2 skuadron angkut berat Hercules yang bermarkas di Halim Jakarta dan Abdurrahman Saleh Malang dengan kekuatan 28 pesawat. Dalam lima tahun ke depan akan ditambah 1 skuadron lagi dan ber home base di Makassar. Hercules bagaimanapun dikenal sebagai pesawat yang tangguh dan berjasa dalam perjalanan bangsa ini. Sebagai negara kepulauan yang besar frekuensi jalan pesawat gagah ini cukup tinggi mengarungi berbagai pulau di tanah air.

Harapan kita, program pengadaan alutsista 9 Hercules dari Australia ini tetaplah berlangsung. Saat ini kita sudah menerima 4 pesawat yang sebelum dikirim diretrofit dulu disana. Pengadaan pesawat angkut berat baru menguras duit anggaran pertahanan. Soalnya kita baru sadar diri lima tahun belakangan ini untuk memodernisasi alutsista kita. Selama dua puluh lima tahun sebelumnya tidak ada sama sekali pengadaan alias pembelian pesawat angkut Hercules atau penggantinya.

Kementerian Pertahanan sudah menjajaki rencana pembelian pesawat angkut berat Airbus A400M dari Spanyol. Harga pesawat baru ini seperti yang dipesan Malaysia untuk 4 unit nya mencapai US 1,1 milyar. Cukup mahal, jadi realistis dengan anggaran pertahanan yang disedot untuk beli alutsista lain seperti jet tempur, kapal perang, kapal selam, untuk pesawat angkut berat kita percaya Hercules tetap masih menjadi andalan. Mudah-mudahan dalam lima tahun ke depan kita sudah dapat memiliki 2-3 pesawat baru A400M yang secara bertahap mengantikan peran Hercules.

Musibah adalah media muhasabah dan selayaknya kita mendoakan para korban dan keluarganya. Kecelakaan yang dialami jelas karena berbagai faktor. Biarlah tim yang berwenang yang akan melakukan tugasnya untuk memastikan penyebabnya. Drama pemberitaan yang menjadi perhatian itu semoga dapat kita saring dan filter sendiri. Kita tidak bisa menyuruh media bicara akurasi, fakta, opini. Kita yang menjadi penentu nilai berita yang disampaikan. Kita yang mengobyektifkaan nilai berita itu pada relung hati kita. Korban Hercules itu adalah tentara dan keluarga tentara serta penumpang sipil. Tentara yang sedang bertugas untuk menjaga republik itu pantas dianugerahi penghargaan. Kepada keluarga besar TNI AU, tetaplah tegar sebagai pengawal kedaulatan dirgantara.
****
Jagarin Pane / 02 Juli 2015

 ♖ analisisalutsista  

Gatot Nurmantyo komitmen datangkan pesawat baru

Komitmen saya dan Komisi I DPR RI untuk pesawat udara harus yang baru. http://img.antaranews.com/new/2015/07/ori/20150701antarafoto-uji-calon-panglima-tni-010715-agr-2.jpgUji Kepatutan Calon Panglima TNI Calon Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo menyapa wartawan sebelum mengikuti uji kelayakan dan kepatutan sebagai calon Panglima TNI, di gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (1/6/15). Dalam paparannya, Gatot mengungkapkan TNI akan efektif dan efisien dalam melaksanakan tugasnya menghadapi kondisi global, regional, tantangan bangsa ke depan dan akan menargetkan TNI dalam upaya Minimum Essential Force (MEF) mengantisipasi konflik sengketa wilayah dengan negara tetangga. (ANTARA FOTO/M Agung Rajasa)

Calon Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo berkomitmen mendatangkan pesawat udara baru, bukan hibah atau bekas, ketika pengadaan yang akan datang.

"Saya sudah berkomunikasi dengan Komisi I DPR RI, untuk pesawat udara harus baru. Pengadaan yang akan datang harus baru, kecuali yang sudah terlanjur (proses pengadaannya)," kata Gatot di Ruang Rapat Komisi I DPR RI, Jakarta, Rabu (1/7) malam.

Hal itu dikatakan Gatot usai menjalani uji kelayakan dan kepatutan calon Panglima TNI yang dilaksanakan oleh Komisi I DPR RI.

Dia menjelaskan pesawat udara berbeda dengan alutsista yang berada di darat yang bisa diperbaiki di tempat apabila ditemukan kerusakan.

Namun, menurut dia, apabila pesawat mogok atau rusak ketika terbang maka akan hancur seperti beberapa kejadian kecelakaan pesawat milik TNI.

"Apabila pesawat mogok maka hancur sehingga komitmen saya dan Komisi I DPR RI untuk pesawat udara harus yang baru," katanya.

Gatot menjelaskan Indonesia bukan negara kaya, namun semua alutsista yang sudah usang harus ditinggalkan dan diganti dengan yang baru agar operasional TNI bisa berjalan.

Dia mengatakan pembelian alutsista dari luar negeri harus memiliki transfer teknologi sehingga lambat laun Indonesia bisa memproduksi secara mandiri dan tidak tergantung dengan negara lain.

"Alutsista yang dimiliki Indonesia ada yang lama dan baru. Yang lama masih kami gunakan namun harus dipelihara," katanya.

Dia menjelaskan kategori pesawat ada dua yaitu layak terbang atau tidak layak. Gatot mencontohkan pesawat Hercules produksi tahun 1964 masih digunakan Singapura dan Bangladesh, namun dilakukan sistem pemeliharaan secara berkesinambungan.

"Sistem pemeliharaannya setiap 50 jam terbang ada opname dan pengecekan lalu per tiga tahun dan per enam tahun dilakukan cek," katanya.

Saat ini, menurut dia, ada 12 pesawat hercules tahun 1964 dan 12 dari produksi tahun 1975 ke atas. Dia mengatakan tidak mungkin menghentikan operasi pesawat Hercules tersebut meskipun dengan alasan pesawat sudah uzur.

"Apabila itu (pesawat Hercules) lalu kita mau menggunakan apa," katanya.

Sebelumnya Komisi I DPR RI memberikan persetujuan pengangkatan Jenderal TNI Gatot Nurmantyo sebagai Panglima TNI, setelah melaksanakan uji kelayakan dan kepatutan, kata Ketua Komisi I DPR RI Mahfudz Siddiq di Jakarta, Rabu (1/7).

 ♖ antara  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...