Sabtu, 27 Agustus 2016

Brigif 19/Khatulistiwa Siapkan Prajurit Latma dengan TDRM

http://img.antaranews.com/new/2016/08/ori/20160826antarafoto-patroli-patok-indonesia-malaysia-nunukan-260816-mrus-4.jpgPatroli Patok Bersama Indonesia - Malaysia, Prajurit TNI AD Yonif 614/Raja Pandhita berfoto bersama Tentara Diraja Malaysia usai upacara penutupan patroli patok terkoordinasi di Pos Perbatasan Gabungan Bersama RI-Malaysia Kecamatan Seimenggaris Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, Jumat (26/8/2016). Patroli patok terkoordinasi TNI AD-TDRM berlangsung 19-26 Agustus 2016 dengan jarak tempuh 24 km untuk mengecek 177 patok perbataan. (ANTARA FOTO/M Rusman) 

K
omandan Brigade Infanteri (Danbrigif) 19/Khatulistiwa Letnan Kolonel Inf Ibnu Jawardi menyiapkan Pasukan Satuan setingkat Kompi yang akan melaksanakan Latihan bersama TNI Angkatan Darat dengan Tentara Diraja Malaysia.

"Sebagai tim penyelenggara latihan dan pendukung latihan diambil dari Satuan Badan pelaksana Kodam yang menyiapkan tidak hanya mempersiapkan Personel, namun juga materiil, seperti kendaraan dan dukungan-dukungan lainnya demi kelancaran latihan bersama ini," kata Ibnu, Jumat.

Dia menjelaskan, untuk pasukan setingkat kompi itu yang disiapkan berasal dari batalyon-batalyon infanteri yang ada di Kalimantan Barat, mereka diambil sesuai kemampuannya dan digabung dalam satu induk pasukan.

"Pasukan ini dipersiapkan di Batalyon 642/Kps ini bersama dengan pendukung dan tim penyelenggara," tuturnya.

Ibnu juga menjelaskan sebelum di berangkatkan pasukan akan melewati tahap pemeriksaan diantaranya pemeriksaan kesehatan, personel, materil dan pelatihan khusus yang akan di berikan sebagai bekal mereka saat latihan bersama.

Nantinya pasukan itu akan diberangkatkan menuju Kuching, Malaysia untuk melaksanakan Latihan bersama yang sudah rutin diselenggarakan setiap tahun sebagai wujud terjalinnya hubungan militer yang baik dengan negara tetangga khususnya Malaysia yang langsung berbatasan dengan Kalimantan.

"Untuk tahun 2016 ini Malaysia mendapat giliran menjadi tuan rumah latihan bersama ini," katanya. (KR-RDO/A029)

  Antara  

[Foto & Video] Sekilas 2S31 Vena

Incaran Korps Marinir TNI AL 2S31 Vena [enemyforces]

P
ada saat pisah sambut Komandan Korps Marinir, KSAL Laksamana TNI Ade Supandi secara gamblang menyebut bahwa Korp Marinir tengah mengincar kendaraan tempur mortir swagerak 2S31. Ini tentu menambah banyak daftar akuisisi alutsista Korp Marinir yang sudah kebagian peluncur roket RM-70 Vampir dan BTR-4M yang akan datang sebentar lagi.

Sebelum membahas mengenai spesifikasi, pertanyaan pertama yang seharusnya ditanyakan adalah: kenapa harus mortir swagerak? Padahal Korp Marinir sudah memiliki meriam howitzer LG-1 105mm dan juga RM-70 Grad/ Vampir untuk bantuan tembakan.

Kunci jawabannya adalah pada konsep connector atau penghubung. Kedua alutsista bantuan tembakan tersebut membutuhkan wahana pembawa lain dan tidak dapat tiba di pantai dengan kemampuannya sendiri. LG-1 harus dibopong K-61 Kapa atau PTS-10. RM-70 malah harus menunggu kapal pendarat untuk membawanya ke pantai.

Padahal tank-tank amfibi Korp Marinir seperti BMP-3F atau PT-76 membutuhkan lindungan artileri dari titik pendaratan pantai yang telah direbut (beach head) dan terus menusuk ke daratan. Kecepatan serbuan amfibi yang tak terputus sampai ke daratan adalah kunci untuk mempertahankan momentum serbuan dan meraih kemenangan.

Kenapa menggunakan mortir? Bagi Korp Marinir, ranpur mortir swagerak mampu menyediakan perimbangan antara daya gebuk dan daya gerak, khususnya karena Korp Marinir tergantung pada LPD dan kapal pendarat TNI AL yang jumlahnya terbatas.

Selain itu, amunisi mortir 120mm tentu jauh lebih murah dibanding amunisi howitzer 105mm atau roket 122mm, sehingga biaya penggelarannya pun dapat ditekan. Untuk amunisi, mortir 120mm Rusia dan Barat sama desainnya, sehingga sumber untuk amunisi boleh dikatakan mudah.

http://www.hobbymiliter.com/wp-content/uploads/2016/06/Datadata.jpg[militarytoday]

2S31 pada dasarnya adalah hasil bastar antara sistem kubah mortir 120mm yang dibuat pabrikan Motovilikha Zavod di Perm dengan sasis dari BMP-3, dengan perusahaan utama yang menjadi penanggungjawab integrasi adalah P.O. Kurganskiyi Mashinostroitel.

Sasis BMP-3 yang digunakan mengalami beberapa penyesuaian seperti dihilangkannya port untuk penembak senapan mesin di kanan-kiri depan karena 2S31 tidak diharapkan untuk bertempur di garis depan. Untuk sistem penggerak tetap menggunakan mesin diesel UTD-29M empat langkah berdaya 500hp yang dikawinkan dengan gearbox otomatis dengan empat gigi maju dan dua gigi mundur. Kemampuan amfibi tetap dipertahankan pada 2S31, sehingga tentu saja menarik hati Korp Marinir untuk mengakuisisinya.

Yang paling berbeda dari 2S31 tentu saja kubahnya yang mengusung mortir 120mm berkode 2A80, dan dioperasikan oleh tiga awak yaitu komandan, juru tembak, dan pengisi peluru. Komandan duduk di kiri, juru tembaknya duduk di kanan dan mengoperasikan sistem bidik. Sistem bidiknya sudah menggunakan komputer pengendali tembakan yang terdiri dari komputer, sistem navigasi berbasis GLONASS, laser rangefinder untuk menentukan jarak, dan sistem pembidik berbasis laser. Satu unit 2S31 dapat menjadi koordinator untuk lasing bagi seluruh baterai 2S31, sampai enam kendaraan dapat dikendalikan oleh satu kendaraan.

Untuk kemampuan mortir, jarak jangkau maksimal yang dapat dijangkau 13 kilometer dengan munisi HE (High Explosive). Kecepatan tembaknya mencapai maksimal 10 butir peluru per menit. Vena mampu membawa 70 butir proyektil 120mm cadangan, sementara 22 lainnya tersimpan dalam magasen yang digunakan untuk memasok mortir. Penggunaan magasen bertujuan untuk meningkatkan kecepatan tembak mortir.

Pabrikan KBP-Tula juga menyediakan peluru mortir pintar Kitilov-2M (ada yang menyebut Kitolov) yang dapat dipandu sistem laser dari 2S31, dengan jarak maksimal 13,5 km. Jika mau meningkatkan jarak jangkaunya lagi, ada RAP (Rocket Assisted Projectile) yang mampu mendongkrak jarak jangkau proyektil mortir sampai 17-18 km tanpa penalti pada desain sistem senjatanya sendiri.

Untuk tipe proyektil lain ada iluminasi untuk penerangan medan tempur, atau AP (Armor Piercing) untuk sasaran dengan perkuatan seperti ranpur. Dalam keadaan darurat, laras mortir 120mm dapat digunakan untuk tembakan langsung melawan ancaman musuh yang mendekat.

Saat ini tercatat Azerbaijan dan Venezuela sudah menandatangani kontrak pembelian, sementara Rusia masih mengevaluasi dan melakukan pembelian secara terbatas.

Author: Aryo Nugroho

 Video dibawah dari Youtube : 


  Angkasa  

[Dunia] Australia Minta Perusahaan Perancis Jaga Ketat Informasi

Data Kapal Selam India Bocor Salah satu kapal selam kelas Scorpene buatan perusahaan Perancis DCNS yang dimiliki AL Malaysia.

Departemen Pertahanan Australia memperingatkan perusahaan Perancis (DCNS) yang membuat kapal selam di Adelaide untuk menjaga keamanan proyek tersebut.

Menteri Industri Pertahanan Christopher Pyne memerintahkan, agar peringatan itu disampaikan kepada DCNS.

Pada April lalu DCNS memenangkan tender senilai 50 miliar dolar atau sekitar Rp 500 triliun untuk membuat 12 kapal selam.

Lalu pekan ini, media Australia mengklaim sudah membaca 22.400 halaman dokumen terkait kemampuan tempur kapal selam kelas Scorpene yang dibuat DCNS untuk AL India.

Padahal sejumlah negara seperti Malaysia dan Chile juga menggunakan varian kapal selam yang sama. Sementara Brasil berencana meluncurkan armada kapal selamnya pada 2018.

Sejak itu muncul pembicaraan mengenai apakah perusahaan pertahanan Perancis itu telah diretas.

Kepada DCNS, Departemen Pertahanan Australia menghendaki tingkat proteksi yang sama seperti yang diberikan perusahaan Amerika Serikat untuk menjaga informasi saat membuat kapal selam Australia.

Hal ini terkonfirmasi hanya beberapa hari setelah Pyne mengatakan, pihaknya mendapat informasi bahwa kebocoran itu "tidak ada hubungannya" dengan program kapal selam masa depan yang dicanangkan pemerintah Australia.

"Program ini berjalan di bawah syarat keamanan yang ketat di mana seluruh informasi dan data teknis dikelola sekarang dan di masa depan," kata Pyne awal pekan ini.

"Syarat serupa berlaku dalam proteksi seluruh informasi sensitif dan data teknis untuk kapal selam Collins, dan telah berjalan baik selama beberapa dekade," lanjut Pyne.

Namun pada Jumat (26/8/2016) saat tampil di stasiun televisi Channel Nine, Pyne mengaku kebocoran itu sangat "memalukan" bagi DCNS dan AL India.

DCNS juga mengeluarkan pernyataan awal pekan ini yagn menyebutkan bahwa pemerintah Perancis akan menyelidiki dan memastikan dokumen yang bocor tersebut.

"Masalah yang terkait dengan India tidak ada hubungannya dengan program kapal selama Australia, yang beroperasi menurut aturan Pemerintah Australia mengenai perlindungan data sensitif," demikian pernyataan DCNS.

  Kompas  

Jumat, 26 Agustus 2016

[Dunia] Tentara Filipina Tewaskan 6 Militan Abu Sayyaf

Dalam PertempuranPenemuan markas Abu Sayyaf di bawah tanah [CNN]

Pasukan Filipina menewaskan enam anggota kelompok militan Abu Sayyaf dalam pertempuran yang terjadi hari ini. Korban tewas termasuk seorang militan yang terlibat dalam penculikan dua warga Kanada yang telah dipenggal.

Juru bicara militer Filipina menyatakan, tentara-tentara Filipina terlibat pertempuran dengan sekitar 100 anggota kelompok Abu Sayyaf. Pertempuran terjadi seiring pasukan Filipina melakukan perintah Presiden Rodrigo Duterte untuk menghancurkan Abu Sayyaf.

Sebelumnya pada April dan Juni lalu, kelompok Abu Sayyaf memenggal dua turis Kanada setelah uang tebusan yang mereka minta tidak diberikan. Kedua turis Kanada itu termasuk di antara empat orang yang diculik Abu Sayyaf dari pulau resor Samal, Filipina selatan pada September 2015 lalu.

"Kami telah menemukan jasad keenam militan itu. Salah satu dari mereka adalah pemimpin unit kelompok Abu Sayyaf yang terlibat dalam penculikan di Samal," kata juru bicara militer wilayah setempat Mayor Filemon Tan seperti dikutip kantor berita AFP, Jumat (26/8/2016).

Dikatakan Tan, 17 tentara terluka dalam baku tembak tersebut saat militer tengah melacak para sandera, termasuk seorang warga Norwegia yang diculik bersama kedua warga Kanada di Samal tersebut.

Sebelumnya, Presiden Filipina Rodrigo Duterte memerintahkan militer segera menghancurkan kelompok Abu Sayyaf. Seruan ini disampaikan usai kelompok itu dilaporkan memenggal seorang warga Filipina yang mereka sandera.

"Bunuh musuh-musuh negara," tegas Duterte kepada personel militer Filipina sebelum mengirimkan mereka ke Sulu untuk memerangi Abu Sayyaf, seperti dilansir media lokal, The Philippine Star, Jumat (26/8/2016).

Angkatan Bersenjata Filipina telah memerintahkan pengerahan dan pengiriman tentara tambahan ke Sulu dan Basilan, dalam operasi memburu Abu Sayyaf. Duterte pun melakukan kunjungan mendadak pada Rabu (24/8) malam, untuk memberi dukungan moral kepada tentara yang akan bertugas.

Dalam pernyataannya, Duterte mengaku dirinya marah besar saat tahu satu sandera asal Filipina dipenggal Abu Sayyaf. Sandera yang dipenggal itu bernama Patrick Almodovar, yang berusia 18 tahun dan berasal dari Jolo, Sulu. Almodovar yang juga diketahui sebagai anak laki-laki dari seorang juru ketik pengadilan setempat ini, diculik Abu Sayyaf sejak 16 Juli lalu, di luar rumahnya. (ita/ita)

  detik  

[Dunia] Duterte Beberkan Rahasia

Tebusan 50 Juta Peso Dibayar ke Abu SayyafPresiden Filipina Rodrigo Duterte. (Reuters)

Presiden Filipina Rodrigo Duterte mengungkap fakta yang semestinya dirahasiakan Pemerintah Filipina. Fakta yang dibeber Duterte itu adalah adanya uang tebusan sebesar 50 juta Peso Filipina yang dibayarkan kepada Abu Sayyaf untuk pembebasan sandera asal Norwegia, Kjartan Sekkingstad.

Pembeberan rahasia oleh Presiden Duterte ini tak lazim. Sebab, Pemerintah Filipina memiliki kebijakan untuk tidak membayar uang tebusan untuk para penculik.

Namun dalam konferensi pers di kampung halamannya di Davao, pada Rabu malam, Duterte yang diduga keceplosan, mengatakan bahwa uang tebusan telah dibayarkan kepada Abu Sayyaf untuk pembebasan Sekkingstad. Meski, pria Norwegia itu hingga sekarang belum dibebaskan.

Komentar Duterte itu muncul ketika ditanya wartawan apakah dia mengetahui informasi perihal sandera asal Filipina berusia 18 tahun yang telah dipenggal kelompok Abu Sayyaf di Sulu karena tidak ditebus. Sandera Filipina yang dieksekusi itu bernama Patrick James Almodovar yang diculik Abu Sayyaf di Jolo pada 16 Juli.

Duterte tidak menanggapi spesifik soal nasib sandera asal Filipina itu. Dia justru tertarik membahas masalah uang tebusan yang jadi rahasia.

Kalau itu salah, maka saya akan menuduh Abu Sayyaf bertindak dengan itikad buruk. Mereka telah dibayar P50.000,” katanya. Sesaat kemudian, Duterte mengoreksi nominal uang tebusan itu. Bukan 50 ribu Peso Filipina, tapi 50 juta Peso Filipina.

Meski demikian Duterte menolak untuk mengatakan dari mana uang tebusan 50 juta Peso Filipina itu berasal. ”Mungkin dari bank saya,” canda Duterte, seperti dikutip dari Inquirer, Jumat (26/8/2016).

Abu Sayyaf sebelumnya menuntut tebusan 300 juta Peso Filipina untuk kebebasan Sekkingstad. Tuntutan itu pernah disampaikan Abu Sayyaf dalam sebuah video setelah kelompok itu mengeksekusi sandera asal Kanada John Ridsdel. (mas)

  sindonews  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...